Selesai urusan di Area Guardian, Daichi mengajak Haku untuk menghabiskan waktu bersama dengannya sebagai perayaan pertemanan mereka yang baru terjalin. Haku baru mengetahui bahwa hari ini merupakan hari pertama Daichi menginjakkan kaki di Kota KisekiRifu sehingga ia sangat bersemangat saat Haku menunjukkan beberapa tempat di kota tersebut.
"Wah..., kota ini memiliki banyak gadis-gadis cantik!" puji Daichi terus menyapukan mata ke segala arah di keramaian dengan wajah sumringah.
"Senangnya melihat banyak orang dan semuanya manusia."
Mendengar itu membuat Haku merasa aneh. Seolah-olah melihat kerumunan orang adalah hal yang langka bagi Daichi. Apa di tempat tinggalnya tidak pernah seramai ini?
"Daichi, kamu tinggal di mana?" tanya Haku penasaran.
"Mulai hari ini aku akan tinggal di Asrama Akademi Terra. Mungkin setelah mengenal kota ini dengan baik dan mengumpulkan uang, aku akan menyewa tempat tinggal di luar akademi. Aku enggak suka terikat aturan-aturan asrama."
Haku mengangguk mendengar jawaban Daichi, lalu ia tersadar bahwa bukan itu maksud pertanyaan yang diajukannya. "Em, rumahmu dulu di mana? Asalmu dari mana?"
"Yamimori," jawab Daichi yang membuat Haku membisu.
Haku masih memproses apa yang baru saja ia dengar dan akhirnya wajah Haku berubah pucat. Ia menghentikan langkahnya.
"Ya-Ya-YAMIMORI???!!!" Karena terkejut, suara Haku seperti berteriak, menyebabkan beberapa orang yang berjalan di sekitar mereka menatap pemuda berambut putih itu.
Haku tidak memperdulikan atau bahkan tidak sadar jika orang-orang tengah melihatnya. Yang ada dipikiran pria muda itu hanya tempat asal Daichi, Yamimori.
Yamimori merupakan daerah yang sangat terpencil. Dulunya adalah sebuah desa kecil, tapi kini dikatakan tempat terbuang mengingat tempat itu tidak berpenghuni.
Jalur transportasi menuju kawasan itu tidak tersedia karena jalan di kawasan itu yang begitu sulit bahkan sangat curam dan berbahaya. Sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan dan dataran tinggi penuh dengan jurang. Dikabarkan banyak binatang buas berkeliaran di sana. Kabut yang menyelimuti daerah itu membuatnya disebut desa hantu.
"Aku tinggal di rumah kuil yang terletak di bukit Yamimori. Kalau ada kesempatan aku akan mengajakmu ke sana," kata Daichi tidak menyadari ekspresi Haku.
Pantas saja aku merasa pakaian yang dia pakai sedikit mirip dengan busana pendeta kuil, pikir Haku.
Penutup perjalanan tur mereka adalah Kafe Rainbow. Sekali lagi Daichi begitu terlihat senang melihat orang-orang di sekelilingnya. "Heeh, ini tempatmu bekerja paruh waktu," ucapnya duduk dengan santai. Matanya tak henti-hentinya menerawang ke seluruh ruangan.
"Kurasa Yamimori tidak seramai di kota ini, ya?" imbuh Haku tersenyum.
"Hahaha, di sana ramai dan terkadang sangat berisik," cerita Daichi yang membuat Haku terkejut karena selama ini yang ia tahu desa itu tidak berpenghuni. "Tapi di sini semuanya manusia, sedangkan Yamimori seluruhnya dihuni oleh hantu, roh, bahkan iblis."
Perkataan Daichi itu membuat Haku membisu dengan mulut terbuka.
"Ah, tenang saja Haku, iblis di sana tidak seperti iblis-iblis yang dilawan Guardian. Mereka adalah iblis yang menjadi Soul Contract keluarga kami."
Haku terlihat seperti sekarang bukan karena iblis yang dikatakan Daichi, melainkan para penghuninya yang merupakan makhluk halus alias hantu. Bukan wajah terkejut yang dipasang Haku melainkan ketakutan. Wajahnya memucat. Yamimori kini benar-benar menjadi peringkat teratas tempat yang tidak akan dikunjungi olehnya.
Di saat itu juga Kioshi datang membawakan daftar menu ke meja mereka.
"Ki-kioshi, perkenalkan ini Daichi Matsuyama. Daichi kenalkan ini sahabatku, Kioshi Kouta." Haku berkata dengan mencoba menenangkan hatinya dari perihal kota hantu tadi.
Kioshi membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda salam pada Daichi. Daichi lalu berdiri dan menjabat erat tangan Kioshi dengan semangat.
"Sahabat Haku adalah sahabatku juga. Panggil saja aku Daichi!"
"Kio-chan, aku tahu kau senang berkumpul dengan Haku-chan, tapi jangan melupakan pesanan pelanggan." Suara merdu nan ramah terdengar memanggil akrab Kioshi yang membuat perhatian ketiga pemuda itu teralihkan.
Terlihat seorang wanita berjalan mendekat. Wanita yang mengenakan seragam Kafe Rainbow. Rambut pendeknya berwarna violet dan sedikit ikal di bagian ujung rambutnya. Bola matanya berwarna magenta.
Melihat wanita itu, Daichi kemudian bersiul pelan memuji kecantikannya. Wanita itu adalah bos Haku dan Kioshi alias pemilik Kafe Rainbow. Hiromi lalu menatap Daichi dan segera tersenyum dengan ramahnya.
"Perkenalkan aku Hiromi Kazue. Tolong berteman baik dengan Haku-chan, ya. Anak ini terkadang ceroboh dan berlebihan, tapi dia anak yang sangat baik hati dan perhatian," ucap wanita berusia 26 tahun itu.
Daichi mengacungkan jempol tangan kanannya dan tersenyum lebar. "Untuk wanita secantikmu, Hiromi-san, aku akan menjadi teman terbaik bagi Haku-chan."
Hiromi tertawa kecil mendengar ucapan Daichi. Wanita itu lalu mengarahkan pandangannya pada Haku. "Hari ini kudengar dari Kanata-san, kau mengurus urusan untuk masuk ke Akademi Terra. Apa semua berjalan lancar?" tanya Hiromi yang dijawab anggukan kepala Haku.
Mendengar itu Kioshi segera mengarahkan pandangannya ke Haku. Kioshi sama sekali tidak mengetahui Haku akan pindah sekolah dan bergabung menjadi siswa di sana.
"Suasana sekolah di sana seperti apa? Ada cerita apa tentang sekolah itu? Cepat, cepat, ceritakan padaku!" Hiromi kini terlihat begitu bersemangat dan penasaran hingga mendekatkan wajahnya pada Haku. Mata besarnya terus melekat pada pemuda itu.
Haku terlihat kebingungan untuk menjawab mengingat dia tidak mungkin menceritakan mengenai Guardian dan dunia-dunia di luar sana. Selain itu, berbohong adalah kemampuannya yang paling buruk.
"Sangat menarik. Kami sampai kesasar di dalamnya," sela Daichi. "Untungnya kami berhasil menemui wakil kepala sekolahnya. Masih muda, tapi terlihat sedikit aneh."
"Benarkah? Wah..., kelihatannya Akademi Terra adalah tempat yang menarik," ujar Hiromi terlihat antusias.
"Apa persyaratan sekolah itu sehingga kau bisa menjadi siswa di sana?" tanya Kioshi pada Haku.
Haku memutar otak mencari jawaban yang paling masuk akal. "Aku juga enggak tahu. Aku hanya tertarik dan berhubung banyak masalah yang terjadi di sekolahku sebelumnya, aku memutuskan untuk mendaftar di sana. Sama sekali enggak menyangka ternyata aku bisa diterima," jawab Haku tertawa gugup.
Kioshi terdiam menatap Haku dengan ekspresi datarnya, namun Kioshi sangat tahu kalau temannya itu tengah menyembunyikan sesuatu. []
________________
Mulmed: Hiromi Kazue.
________________
A/N:
Hai \\^.^// thanks udah baca cerita q ini...vote, komen, saran, atau nanya2 akan q terima dengan sangat berbahagia.
See you next chapter...
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXISTENCE [END]
Fantasy*Seri ke-1 The Existence Series* [15+] Pandangan orang-orang di tempat kelahirannya yang selalu menatapnya dengan sinis dan ketakutan, tanda lahir di punggung telapak tangan kirinya yang membuat dirinya dipanggil "Titisan Iblis" atau "Anak Pemb...
![THE EXISTENCE [END]](https://img.wattpad.com/cover/50445731-64-k689685.jpg)