"Akh, kenapa gerah sekali?" keluh Reia saat berada di dalam apartemen dan tanpa sadar ia menarik syal dari lehernya sebagai respon dirinya yang merasa kepanasan. Gadis itu baru menyadari bahwa dia terus mengenakan syal merah yang dilingkarkan Haku padanya. Untuk sejenak Reia terdiam menatap syal merah tersebut.
"Aku enggak akan menyesal memilih untuk bersamamu—"
Ucapan Haku saat di taman kembali terlintas di benak gadis itu.
"—karena aku ingin melakukan petualangan hidupku denganmu."
Reia mengerutkan alisnya saat semakin mengingat sedikit demi sedikit ucapan pemuda berambut putih yang telah membuatnya cukup pusing hari ini.
"Apa pun dan siapa pun dirimu yang sebenarnya, aku enggak peduli."
Reia kini membuka mulutnya, memperlihatkan ekspresi mual.
"Jiwa dan hidupku kini menjadi milikmu, tapi Reia juga milikku."
Seketika dirinya merinding dan berkata, "Ugh, benar-benar menggelikan! Bulu kudukku berdiri semua! Kenapa dia bisa mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?"
Tak cukup dengan ingatan kata-kata yang mampu membuat gadis itu bergidik geli, kini kilasan di saat Haku mencium bibir Reia kembali di kepalanya. Pipi Reia memerah. Kedua tangannya segera mengacak-acak rambut hitamnya. "Aaagkh ... memalukan sekali! Menyebalkan...!"
()XXX[:::::::::::::::>
Haku berdiri di dalam kamarnya. Rambut putih yang ia miliki terlihat sedikit basah. Handuk biru kecil bertengger di kepalanya. Dia baru saja selesai membersihkan diri dari keadaan yang membuatnya berbanjirkan keringat akibat berlari ke akademi.
Beruntungnya, pemuda itu memiliki kemampuan berlari cepat dan stamina yang kuat sehingga Haku berhasil sampai ke akademi sebelum jam asrama tutup yang membuatnya terbebas dari hukuman.
Wajah Haku terlihat kesal karena mengingat apa yang Reia lakukan padanya. "Dia benar-benar kejam. Mulai sekarang aku akan memanggilnya Panda Sadis!" ujarnya mantap.
Haku menghela napas panjang karena lelah. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari mengambil handuk kecil dari kepala dan meletakkannya di atas dada. Tangan kanan Haku lalu bergerak memegang bibirnya. Ingatan atas ciuman yang diberikan dirinya pada Reia kini kembali terlintas yang membuat wajah lelahnya lenyap seketika.
Sensasi mendebarkan saat mengecup bibir yang terasa lembut dan hangat itu seakan kembali. Manis seperti cokelat. Segar seperti mint. Wajah Haku menjadi panas dan pipinya merona.
Haku segera membawa handuk untuk menutup wajahnya dan menangkupkan muka dengan kedua telapak tangannya.
"Malu sekaliiiiii!" rontanya sembari bergerak kiri-kanan. "Kenapa aku bisa melakukan hal itu? Aaaahhh, bodohnya!"
()XXX[:::::::::::::::>
"Huaaaaammm..." Reia berjalan keluar dari kamarnya dengan gontai. Rasa kantuk masih dirasakannya.
"Re-reia, Reia, REIA!!!" panggil Longwei dengan nada panik.
"Berisik. Apa kau mau kujadikan selai di roti bakarku?"
"Lihat ini, lihat!" Jari telunjuk kecil Longwei berulang kali menunjuk sebuah benda di atas meja depan TV. Reia mendekat untuk melihat lebih jelas benda yang menjadi sumber keributan Longwei di sore ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXISTENCE [END]
Fantasy*Seri ke-1 The Existence Series* [15+] Pandangan orang-orang di tempat kelahirannya yang selalu menatapnya dengan sinis dan ketakutan, tanda lahir di punggung telapak tangan kirinya yang membuat dirinya dipanggil "Titisan Iblis" atau "Anak Pemb...
![THE EXISTENCE [END]](https://img.wattpad.com/cover/50445731-64-k689685.jpg)