Ayaka mengepalkan tangannya sendiri di depan dadanya karena cemas melihat tingkah Ichiro dan Shiro yang tidak seperti biasanya. Gadis itu lalu menyadari tempat mereka kini terlihat berbeda. Anak-anak yang lain juga mulai menyadari keadaan tersebut. Mata mereka semua kini tertuju pada sosok asing yang berada tidak terlalu jauh dari jarak mereka. Sosok itu tengah terdiam memperhatikan mereka.
"Siapa dia? Aku enggak pernah melihat dia sebelumnya. Apa kalian kenal?" tanya salah satu anak dengan suara berbisik kepada teman di sampingnya. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala dan gumaman anak yang lain.
Anak-anak itu ingin bertanya bahkan mendekati sosok asing tersebut, tetapi perasaan mereka terasa enggan malah takut untuk melakukannya.
Seketika rasa ngeri menjalar di tubuh Haku, sedangkan Ichiro terlihat waspada. Shiro yang terus menggeram akhirnya menggonggong dan memecahkan keheningan seakan menjadi tanda untuk anak misterius itu mulai bergerak mendekati mereka.
Tubuh anak itu bergoyang aneh. Baju-bajunya terkoyak akibat tubuhnya yang membesar. Memperlihatkan kulit cokelat tua yang kasar. Tangannya memanjang dengan kuku-kuku yang tajam. Ia tersenyum lebar, membuat giginya yang runcing terlihat dan air liur yang mulai menetes seperti anjing gila.
"A-apa itu?"
"I-Iblis?"
Suara anak-anak itu terdengar penuh ketakutan dan salah satu anak segera menoleh ke Haku. "A-apa kamu yang melakukan ini? Apa ini kekuatan kutukanmu untuk membalas kami?"
Haku hanya menggeleng. Wajah anak berambut putih itu terlihat bingung dan terkejut.
Saat itu sebuah bongkahan batu besar terlempar menghempaskan tubuh Shiro dan membuat anjing itu terluka parah hingga tidak sadarkan diri.
"Shiro-chan...!" teriakan Ayaka menyadarkan anak-anak lainnya untuk segera melarikan diri, tetapi tiba-tiba di sekeliling area muncul sebuah tembok tanah yang mengeras, menjebak mereka di lokasi ini.
Haku yang terfokus melihat kemunculan tembok-tembok besar itu tidak menyadari adanya serangan tanah keras yang memanjang ke arahnya. "Awas!" Ichiro segera mendorong sepupunya itu hingga terjatuh.
"Auw..." rintih Haku karena sikunya terluka akibat terjatuh dan memejamkan mata sedetik. Saat ia membuka matanya, Haku terbelalak. Sebuah tanah keras yang runcing menembus dada Ichiro. Suara teriakan Ayaka dan anak-anak yang ketakutan terdengar. Tubuh Ichiro terjatuh saat serangan itu melepaskan diri dari tubuhnya.
"Ichi—" suara gemetar Haku hampir tidak terdengar. "ICHIRO!" Haku segera berlari mengangkat tubuh Ichiro yang bersimbah darah ke pangkuannya. "Oi, Ichiro ... kumohon bangunlah ... buka matamu!" pinta Haku begitu khawatir dan ketakutan.
Mata Ichiro terlihat berusaha untuk terbuka. Mata yang biasa menampilkan ketajaman itu kini terlihat begitu lemah. Anak berambut hitam itu terlihat berusaha mengatur pernapasannya yang terasa berat dan sesak. "Apa selalu terlibat masalah adalah hobimu?" tanya Ichiro tak bertenaga. Ichiro lalu terbatuk singkat yang mengeluarkan cairan merah kental, menyebabkan beberapa bagian mulutnya ternodai oleh darah.
Mata Haku sudah berair saat melihat kondisi sepupunya itu. "Kurasa kali ini peran pelindung diambil olehku," ujar Ichiro tersenyum begitu lemah. "Belajarlah melindungi dirimu sendiri ... jangan sering terluka ... Bodoh." Dengan perlahan mata Ichiro tertutup rapat. Dada yang kembang-kempis itu kini terlihat tenang—tak bergerak.
"Oi Ichiro ... jangan bercanda ... bangunlah!" panggil Haku dengan wajah ketakutan. Tubuh Haku gemetar. Ia menggoyang tubuh Ichiro pelan, tapi tidak ada respon.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXISTENCE [END]
Fantasy*Seri ke-1 The Existence Series* [15+] Pandangan orang-orang di tempat kelahirannya yang selalu menatapnya dengan sinis dan ketakutan, tanda lahir di punggung telapak tangan kirinya yang membuat dirinya dipanggil "Titisan Iblis" atau "Anak Pemb...
![THE EXISTENCE [END]](https://img.wattpad.com/cover/50445731-64-k689685.jpg)