Reia terdiam menatap Haku. Gadis itu memang memasang ekspresi yang sulit ditebak saat ini, tapi entah mengapa Haku tahu pasti kalau Reia sangat marah hingga ingin menghajarnya. Dengan perlahan Haku melepaskan sentuhannya, kembali menatap Kanata dan memaksakan dirinya tersenyum.
Wajah luar biasa bahagia kini terpasang di muka Kanata dan Hiromi. Mereka berdua lalu memandang Reia seperti memberi tanda menunggu atas jawaban gadis itu terhadap ucapan Haku.
Jika Reia tidak pandai menyembunyikan ekspresi dan perasaannya, maka ketiga orang di ruangan ini pasti sangat mengetahui bahwa ia akan mengamuk. Reia masih terdiam. Membuat ketiga orang yang menunggu jawabannya terlihat tidak tenang.
"Jangan katakan kau tidak ada perasaan apa pun pada keponakanku setelah apa yang kalian berdua sudah lakukan," ujar Kanata karena gelisah dengan kebisuan Reia. "Apa kau tidak mau bertanggung jawab setelah Haku menyerahkan dirinya padamu?" Tatapan penuh ancaman seakan menghiasai mata Kanata membuat Reia dan Haku bergidik.
Menyerahkan diri? Bertanggung jawab? Kenapa orang ini mengatakan seakan aku pemuda yang merebut kesucian anak gadisnya? Yang gadis di sini itu aku! Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? gerutu Reia dalam benaknya.
Reia masih membisu. Ia ingin sekali menjelaskan semuanya, tapi pria berambut hijau tua itu entah mengapa membuatnya takut. Reia lalu menoleh ke arah Haku yang terdiam menatap pamannya. Dia pamanmu, kan? Katakan sesuatu ... Jelaskan kebenarannya! Pamanmu begitu menakutkan! Aku jadi tidak sanggup berpikir dan mengatakan apa-apa!
"Apa yang Paman ragukan? Tentu saja perasaan yang kami rasakan sama." Haku tiba-tiba menimpali. Mendengar itu Reia terbeliak.
Pekikan gemas Hiromi terdengar. Wanita itu memberi pukulan manja di lengan Kanata, sedangkan pria berambut hijau tua itu tertawa puas. Hiromi lalu teringat terdapat makanan yang belum ia ambil di dapur dan Kanata memutuskan untuk mengambil minuman lagi karena minuman Haku dan Reia telah habis dengan cepat disebabkan keduanya hanya bisa minum untuk menenangkan diri mereka yang gugup.
Saat Kanata dan Hiromi menjauh, Reia segera menampilkan raut wajah kesalnya dengan menatap Haku. "Kau sedang memainkan drama apa?"
"Entahlah ... mulutku bergerak sendiri. Aku enggak tega melihat mereka berdua begitu bahagia," jawab Haku terlihat cemas dengan apa yang telah ia lakukan. "Mereka bahkan enggak menyadari gerakan canggungku yang dengan jelas mengatakan bahwa aku berbohong dan mengira itu adalah tindakan karena gugup memperkenalkan pacar. Selain itu, Paman Kanata terlihat sangat menakutkan tadi. Ba-bagaimana ini?"
"Aku tidak ikut-ikutan! Aku pergi sekarang!" tegas Reia bangkit dari duduknya, tapi Haku segera menangkap tangan gadis itu dan menariknya sehingga membuat Reia kembali duduk.
Haku sedikit menggeser kursinya mendekat pada Reia. Ia lalu mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan suara berbisik, "Bukankah kita akan melakukan kontrak yang membuat kita akan selalu terlihat bersama di mana pun dan ditambah lagi kita harus merahasiakan kontrak yang kita lakukan. Kurasa ini adalah cara yang terbaik agar enggak menimbulkan kecurigaan atas kebersamaan kita."
"Oh, sekarang aku akan berpura-pura menjadi pacarmu? Lebih baik bunuh aku sekarang juga, Uban!" geram Reia yang sudah sangat sebal.
"Aku hanya memikirkan cara mudah untuk kita berdua ... dan apa itu 'Uban'? Rambutku asli berwarna seperti ini. Apa kamu pernah melihat orangtua setampan diriku?" tukas Haku dengan mengernyitkan alis.
"Huuuek, tampan? Kau benar-benar akan membunuhku dengan kenarsisanmu, Uban Narsis!"
"Kalau aku Uban Narsis, kamu Panda Pemarah," balas Haku menyengir.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXISTENCE [END]
Fantasy*Seri ke-1 The Existence Series* [15+] Pandangan orang-orang di tempat kelahirannya yang selalu menatapnya dengan sinis dan ketakutan, tanda lahir di punggung telapak tangan kirinya yang membuat dirinya dipanggil "Titisan Iblis" atau "Anak Pemb...
![THE EXISTENCE [END]](https://img.wattpad.com/cover/50445731-64-k689685.jpg)