Mereka berdua menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit. Dengan kecepatan yang membuat jantung Haku memompa dengan kencang dan berpikir akan mati. Hal yang mengejutkan baginya karena mengetahui vespa itu dapat melaju layaknya kilat. Sangat cepat hingga ia mengira rohnya tertinggal di jalan depan gedung pertunjukkan.
Mereka sampai di sebuah gedung apartemen yang letaknya mengejutkan Haku karena bangunan ini dekat dengan daerah Akademi Terra. Mungkin berjarak beberapa kilometer. Ia tidak menyangka Reia tinggal di dekat kawasan sekolahnya. Dengan terus mengikuti langkah Reia, Haku sampai di depan kamar apartemen gadis berbola mata merah itu—tempat yang terletak di lantai 3 paling ujung barat.
Reia memimpin Haku memasuki ruang apartemen. Ruang keluarga yang menyatu dengan dapur terlihat. Luas dan modern. Berisi peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang sangat lengkap bahkan terlalu berlebihan bagi rumah yang hanya dihuni oleh satu orang. Apa dia orang kaya? tanya Haku dalam benaknya.
Apartemen sedikit terlihat berantakan dan berdebu. Sesekali membuat Haku bersin. Pemuda itu berpikir mungkin karena pekerjaan Reia yang sibuk membasmi para Iblis sehingga membuatnya jarang berada di apartemen dan menyebabkan tempat tinggalnya sedikit tidak rapi.
"Duduklah. Aku akan mengambilkan pakaian ganti dan handuk," ujar Reia berjalan ke sebuah kamar. Haku segera duduk manis di sofa.
Tak lama kemudian Reia datang membawakan barang yang disebutkannya tadi. "Longwei sedang tidak ada. Dia yang membawa obat dan dia juga yang memiliki kemampuan sihir penyembuh, jadi kau bersihkan diri saja dulu sambil menunggunya," kata Reia membahas luka di tubuh Haku.
Haku terdiam memegang barang yang diberikan gadis berambut hitam itu. Wajahnya tertutupi bayangan poni dikarenakan ia menundukkan kepala. "Reia," panggil Haku dengan nada lemah yang membuat Reia mengurungkan niatnya kembali ke dalam kamar. "Apa enggak masalah membiarkanku tetap hidup?"
"Apa kau begitu ingin mati?" tanya Reia yang membuat Haku mengepalkan tangannya, menahan segala rasa putus asa dan bingung di dalam hatinya. "Apa kau pikir dengan kematianmu semua akan berjalan baik-baik saja? Tidak terlintas di pemikiranmu tentang orang-orang yang kau sayangi? Apa kau benar-benar akan meninggalkan mereka begitu saja?"
"Tentu saja aku memikirkan mereka! Karena itu aku rela mati untuk melindungi mereka. Jika aku hidup, para Iblis dapat melukai mereka dan seperti kata Aludra, aku bisa menjadi Iblis! Mungkin aku-lah yang akan melukai mereka dengan tanganku—"
"Berpotensi!" timpal Reia menghentikan Haku dan membuat pemuda itu menatapnya. "Bukan bisa menjadi menjadi Iblis, tapi berpotensi menjadi Iblis. Gandra mengatakan semuanya dengan terlalu mendramatisir agar kau jatuh ke dalam kegelapan. Kematianmu tidak akan menyelesaikan masalah. Saat kau mati, percayalah ... mereka akan dengan senangnya menyerahkan orang-orang yang kau sayangi pada para Iblis untuk menjadi makanan mereka sebagai perayaan kematianmu."
"Aludra." Haku membenarkan yang membuat Reia memutar bola mata. Senyuman kecil yang lemah terlihat menghiasi wajah Haku yang lelah.
"Tanda itu," Reia menunjuk telapak tangan kiri Haku yang terdapat tanda menyerupai lambang Ankh, tapi di tengah lingkaran terdapat gambar mata yang tengah terpejam. "setelah kekuatan cahayamu terlahir, kekuatannya berhasil menghancurkan segel kegelapan di tanganmu sehingga menampilkan sebuah stigma yang tersembunyi. Bukan tanda yang bisa kau dapatkan dari lahir yang menandakan kau Iblis atau memiliki darah kegelapan, melainkan stigma yang ditanamkan oleh Iblis untuk menanamkan kegelapan pada tubuhmu."
Haku bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Reia dengan wajah terkejut. "Jadi aku bukan keturunan Iblis? Itu berarti tanda ini diberikan Iblis yang telah mengincarku dari kecil karena menginginkanku sebagai Nephilim?" tanya Haku yang hanya dibalas anggukkan kepala Reia.
"Tapi Aludra bilang ayahku adalah Fallen Angel dan hukuman bagi Malaikat yang dibuang adalah berubah menjadi Iblis," ujar Haku.
"Itu tidak semuanya benar. Mereka memang dihukum yang dapat menyebabkan kegelapan menguasai diri mereka, tapi jika mereka menemukan suatu tujuan atau alasan hidup yang kuat dan itu berhubungan dengan kebaikan, maka mereka terbebas dari perubahan menjadi Iblis," jelas Reia.
"Itu berarti ayahku berhasil bebas dari perubahan menjadi Iblis?" tanya Haku dengan wajah yang terlihat berharap.
Reia sesaat terdiam menatap Haku dan akhirnya mengangguk. Gadis itu benar-benar tidak senang mendengar atau membahas segala hal yang berkaitan dengan Ryuga Mine.
Haku lalu melihat stigma di punggung telapak tangan kirinya dengan raut muka serius. "Adanya stigma ini berarti kegelapan masih tertanam dalam tubuhku dan dapat menguasaiku suatu saat nanti."
"Kau dapat membuang kegelapan itu dengan menemukan penyembuh. Apa yang dapat menyembuhkanmu bukan kekuatan sihir, tapi..." Reia menunjuk dada Haku. "ini."
Haku sesaat terdiam menatap arahan telunjuk Reia, lalu mengarahkan matanya pada Reia karena tidak mengerti apa yang ingin disampaikan gadis itu.
"Aku melihat ada warna kekacauan di sana. Kecemasan, ketakutan, dan segala masalah yang terjadi yang kau tutup dengan rapat di hatimu. Mungkin juga ada rasa bersalah yang begitu besar hingga menimbulkan trauma. Hal ini juga yang menjadi penyebab kekuatanmu tidak terkontrol. Kegelapan tidak akan menghilang sebelum kau mengatasi semua itu."
Mata Haku terlihat lebih besar dari biasanya. Ia terkejut karena Reia mengatakan hal yang ia rasa selama ini, namun selalu disembunyikannya. Haku membuang pandangan dari Reia. "Kamu memiliki kekuatan mata yang sangat hebat." Nada Haku yang terdengar lemah membuat kalimat itu terdengar tidak seperti memuji.
"Kau tahu, sekuat apa pun seseorang mereka membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Tidak semua masalah dapat diselesaikan sendiri. Jika kau ingin tertolong, kau harus benar-benar ingin menolong dirimu sendiri sehingga orang lain dapat menolongmu," kata Reia.
Haku melirik sebentar ke arah Reia dan kembali menghindar menatap gadis itu. "Paman sudah begitu terbebani dengan diriku yang berbeda dan harus merawatku. Aku enggak mau menambah bebannya. Yang bisa kulakukan hanya terus berpura-pura kuat dan memasang ekspresi ceria untuk membahagiakannya serta orang-orang yang kusayangi."
"Kurasa dia akan begitu senang dapat menjadi telinga untuk masalah-masalahmu, otak dalam membantu mencari jalan keluar bagi permasalahanmu, dan menjadi mulut dalam menyelesaikan segala masalah yang kau hadapi. Bukankah keluarga berguna untuk hal seperti itu?" ucap Reia yang membuat Haku kembali menatapnya.
Haku seperti akan mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah kata terdengar. Ia terus menatap Reia seakan mencari sebuah jawaban di sana.
"Haku, kau harus mulai belajar untuk terbuka dan berterus-terang dengan apa yang kau pikirkan dan rasakan. Jika kau terus menyembunyikan semua dalam hatimu, suatu saat hal itu bisa menjadi ledakan yang membawamu ke dalam kegelapan," jelas Reia.
"Aku..." Haku akhirnya bersuara, "aku tumbuh tanpa kedua orangtua dan kondisi fisik di telapak tangan kiriku yang berbeda dengan orang-orang. Awalnya kukira hanya alasan itu yang menyebabkan orang-orang memperlakukanku dengan buruk. Aku sadar keluarga besarku memandangku dengan tatapan sinis, tapi Paman Kanata dan Nenek Akina begitu menyayangiku yang membuatku enggak peduli dengan yang lainnya. Aku bahagia ... tapi segalanya berubah ... karena insiden itu." []
______________________
Trivia ^^:
--> Ankh / Crux Ansata merupakan salah satu simbol kekuatan paling dahsyat dari dunia mistik hitam. Dalam sejarah Mesir kuno, Ankh diyakini sebagai wujud lain dari Setan. Banyak pengertian, teori, atau spekulasi baik dan buruk tentang Ankh, so q gak make lambangnya secara full atau totalitas. Stigma yg di tangan Haku dikit menyerupai Ankh dengan sedikit modifikasi.
______________________
A/N:
Muehehehe... part ini Haku rada suram yah. Buat part selanjutnya bakal ngebuka masa lalu Haku ... dimana konflik awal di kehidupan pemeran utama ini dimulai dan menjadi penyebab kekuatannya yang gak bisa dikendalikan.
Thanks udah ikutin cerita q yang masih pemula ini \\^^// ...
See you next chapter...
KAMU SEDANG MEMBACA
THE EXISTENCE [END]
Fantasia*Seri ke-1 The Existence Series* [15+] Pandangan orang-orang di tempat kelahirannya yang selalu menatapnya dengan sinis dan ketakutan, tanda lahir di punggung telapak tangan kirinya yang membuat dirinya dipanggil "Titisan Iblis" atau "Anak Pemb...
![THE EXISTENCE [END]](https://img.wattpad.com/cover/50445731-64-k689685.jpg)