"Diba, bangun udah nyampe nih." Daffa menepuk pelan pipi Diba. Ia meneliti bagian wajah cewek yang sedang memejamkan mata itu.
Cantik.
Diba yang sedang tertidur terlihat seperti anak kecil yang polos. Mata yang biasanya menatap galak kini tertutup dan bibir tipis Diba yang biasanya melontarkan kata-kata pedas terkatup sempurna.
"Diba," panggil Daffa sekali lagi.
Diba membuka mata perlahan, mengerjapkan matanya beberapa kali dan membulat saat dilihatnya wajah Daffa hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Dimana ini? Masih ngantuk tau."
Daffa terkekeh melihat tingkah Diba. "Ayo turun, udah nyampe nih. Ntar matahari keburu naik."
Diba menatap sekeliling dan bergegas turun mengikuti Daffa. Parkiran yang dikelilingi pohon ini masih sepi.
"Diba ayo!" teriak Daffa di dekat gapura masuk.
Diba melangkah cepat menghampiri Daffa.
"Ayo." Daffa mengambil tangan Diba dan menggenggamnya.
"Ck, gue bisa sendiri. Modus lo." Diba melepaskan genggaman tangan Daffa dan berjalan mengikuti jalur trek hiking.
Daffa tersenyum menatap punggung Diba lalu bergegas menyusul cewek itu.
"Udah pernah kesini?"
Diba menoleh menatap Daffa, cowok itu mengenakan kaos putih polos dan joger pants warna abu-abu.
"Pernah."
Sering, banget malah.
"Sama siapa?" tanya Daffa lagi.
"Sama temen SMP dulu."
Daffa mengangguk-angguk.
"Lo sering kesini?"
Daffa menoleh pada Diba. "Lumayan sering sih, dulu tau tempat ini juga dari temen."
"Daf."
"Apa?"
Diba berhenti, otomatis Daffa juga berhenti.
"Lomba lari yuk."
Daffa tersenyum meremehkan. "Yakin mau lawan gue?"
"Pengen nyoba aja sih."
"Oke."
"Oke. Siap ya." Diba menatap Daffa sekilas.
"Satu...Dua...Ti-." Diba sudah berlari meninggalkan Daffa yang terbengong.
"Dasar curang," gumam Daffa kemudian tertawa.
×
Mata Daffa menatap sekeliling, mencari keberadaan Diba di atas bukit yang merupakan puncak rute hiking.
Daffa tersenyum melihat Diba duduk di salah satu bangku dan menatap ke arah matahari yang mulai naik. Ia mengambil ponsel dan tersenyum kecil. Langkah panjangnya berjalan mendekati Diba dan menarik kunciran cewek itu, Diba menoleh ke belakang.
Ckrek.
"Heh! Hapus nggak tuh foto!" sentak Diba melihat senyum lebar Daffa saat menatap ponselnya.
"Nggak. Bagus nih, sayang kalo dihapus."
"Ck." Diba kembali menatap ke depan.
Daffa mengantongi ponsel dan duduk di samping Diba.
"Siniin kunciran gue."
Daffa memainkan kunciran Diba di tangannya. "Kenapa sih lo selalu nguncir rambut lo? Lo lebih cantik kalo digerai, Dib."
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Again
Teen FictionSekali lagi aku mencoba untuk percaya dan sekali lagi aku harus kecewa. Once Again Elok Puspa | 2016-2017 Credit photo from Pinterest
