"Dib duluan ya."
"Sip, hati-hati ya." Diba bangun kemudian menuju tasnya di pojok ruangan. Jarum jam menunjukan pukul 1 siang.
Diba beranjak keluar aula dan berjalan menuju gerbang belakang untuk menunggu angkot. Hari ini ia terpaksa pulang dengan angkutan umum karena motornya yang tiba-tiba bermasalah dan harus dibawa ke bengkel.
Ia duduk di halte ungu. Halte yang menjadi ciri khas Persada Nusantara. Dicat setiap tahun oleh angkatan yang akan lulus dengan warna ungu senada dengan almamater Persada Nusantara. Halte ungu ada 2. Di gerbang depan yang menghadap jalan utama dan di gerbang belakang.
Diba menatap langit yang mendung. "Bakalan hujan ini sih."
Ia merogoh saku jaket dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Sang Mami.
By, mami sama papi udah jalan ke rumah Tante Reni. Kamu hati-hati ya mendung soalnya.
Diba mendecak. "Yaelah mami pergi, mana gue laper lagi."
"Makan yuk."
Diba tersentak kaget. Daffa memasang senyum di wajahnya.
"Kaget gue anjir," dengus Diba kesal, "Dari kapan lo di sini?"
"Emm, dari lo buka hape kayanya apa dari lo duduk ya? Lupa," jawab Daffa dengan mimik muka yang dibuat-buat.
"Ish."
"Yaudah yuk." Daffa berdiri.
"Yaudah apaan?" tanya Diba dengan kernyitan di dahi.
"Makan lah. Katanya laper kan? Yuk makan." Daffa menarik Diba berdiri.
"Dih emang gue mau makan sama lo?" Diba tetap kekeuh di tempatnya berdiri.
"Harus mau."
"Dih, kok lo maksa?"
"Emang." Daffa tersenyum tipis. Nampak menyebalkan di mata Diba.
"Nggak mau gue, apaan sih lo!"
"Terserah sih Dib, ini mendung, angkot dari tadi nggak ada yang lewat, lo mau kehujanan di sini sampe malem? Mau kelaperan?"
Diba memandang awan yang semakin menghitam. "Iya juga sih, tapi gue bisa naik taksi kok."
"Iya, tapi lo harus jalan dulu ke perempatan sana."
Iya juga sih, mana perempatan jauh lagi. Ah elah.
Melihat Diba diam Daffa kembali menarik tangan Diba dan membawanya menuju motornya yang terparkir tak jauh dari halte.
"Udah naik aja, Dib."
"Ck, nyebelin lo," gerutu Diba namun tak menolak untuk naik ke motor Daffa, "Semoga aja gue nggak nyesel nerima tawaran lo."
Daffa terkekeh. "Nggak akan nyesel Dib." karena gue akan bikin lo jatuh cinta sama gue.
×
Setibanya mereka di mall hujan langsung turun deras.
Ada bener juga sih Daffa.
"Dib, mau makan dimana?" tanya Daffa setelah berada di samping Diba, jarinya bergerak untuk merapikan rambutnya.
Diba terpaku pada pemandangan di depannya dan bukan hanya dirinya namun beberapa perempuan yang melihat Daffa pasti menengok dua kali malah ada yang terang-terangan menatap Daffa.
"Dib!"
"Eeh iya di KFC aja, pengen makan ayam."
"Yaudah yuk,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Again
Novela JuvenilSekali lagi aku mencoba untuk percaya dan sekali lagi aku harus kecewa. Once Again Elok Puspa | 2016-2017 Credit photo from Pinterest
