Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit lalu. Ruang kelas ku juga sudah sepi. Hanya tinggal aku dan Tian yang ada di kelas.
"Lo beneran mau nemuin dia sendiri?" Tanya tian dengan sorotan khawatir.
"Gue serius ian. Lo tunggu gue di parkiran aja ya. Gue pergi sekarang deh. Biar nanti keburu pergi sama lo." Kataku sambil berdiri dan menggandeng tasku.
"Lo hati-hati ya. Teriak aja kalau ada apa-apa. Kalau dia apa-apain lo tendang aja titit-nya. Ntar udah lemas kok dia. Haha." Ucap tian sambil ikut berdiri.
"Ih elo ian! Ini masalah serius malah lo becandain." Kataku sambil berjalan ke arah pintu kelas bersamanya.
"Gue beneran kali lol. Haha. Yaudah hati-hati ya. Kalau ada apa-apa panggil gue." Tambahnya lagi.
Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum penuh arti ke tian.
****
Ku langkahkan kakiku dengan cepat kearah yang di ucapkan romeo tadi. Dari jauh sudah ku lihat dia sedang bersender kearah dinding, dengan sebelah kaki ditekuk dan tangan yang dia masukkan ke saku celananya.
"Lo mau ngomongin apa?!" Ku berikan tatapan se-dingin mungkin yang ku bisa saat aku sudah ada di depannya sekarang.
Kulihat dia mulai berdiri tegak. Namun dengan tangan masih di dalam saku celananya. Dia memberi tatapan melelehkan yang membuatku merasa terlelehkan.
"Gue gak mau basa-basi lol. Gue cuma mau nanya satu hal sama lo." Katanya dengan tatapan yang tak ku mengerti.
"Apa? Gue gak bisa lama-lama. Jadi, lo harus cepat." Masih ku berikan kata-kata datar yang terdengar aneh di telingaku. Aku tak pernah berbicara sedingin ini.
"Gue tau dari yuni kalau lo suka sama gue. Juga dari kode-kode lo di sosmed. Lo udah suka sama gue dari kelas 10 kan?Jadi,...." Gantungnya
"Gue cuma pengen nanya, apa lo suka sama gue cuma buat status lo doang?"
Ddddaaarrrrr
Kurasakan sentakan seperti petir menghancurkan perasaan ku. Mau apa dia? Kenapa dia memanggilku cuma untuk bertanya hal bodoh dan gila?! Apa dia tidak punya hati, sehingga dengan mudahnya dia bertanya dan berpede ria seperti ini?!
Shit!
Kurasakan kupingku memanas. Kurasakan hal yang sama di daerah mataku. Jantungku terasa perih dan sesak akibat pertanyaan Romeo yang mampu menusuk terlalu jauh dan dalam.
"Kamu bodoh." Rasa sesak membuatku sulit mencari oksigen. Kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Kutahan amarah dan tangisku. Kutarik nafasku.
"Kamu bodoh! Cinta lebih dari semua itu! Cinta lebih dari sekedar status! Gue sayang sama lo tulus. Tapi lo?! Lo BUSUK!" Kutekankan kata terakhirku. Aku, marah.
Air mataku dengan mulusnya mengalir keluar. Tenggorokanku terasa tercekat.
"Lo udah buang waktu lo lol. Lo buang waktu lo buat suka sama gue. Maaf, gue gabisa balas perasaan lo." Ucapan romeo yang kedua ini semakin menambah kepedihanku. Kesesakanku. Ketragisanku.
Baiklah. Aku akan jujur. Jujur tentang semuanya. Aku ingin dia tau bahwa aku sangat sangat ingin melupakannya.
"Gue udah sayang sama lo sejak awal! Dan selama itu juga gue udah buang waktu gue untuk suka sama lo. Mungkin gue bakal tetap suka sama lo sampai gue lelah meskipun itu ngebuang waktu gue. Karena buat gue, meski cuma bisa jalan di belakang lo, merhatiin lo dari jauh dan ngedoain lo semampu gue itu udah buat gue bahagia. Walaupun lo gak pernah noleh ke gue, tapi gue bahagia selama gue bisa lihat lo. Bahagia itu sederhana... Rom.. Walau lo ga bakal balas perasaan gue. Tapi dengan beberapa cara sederhana, gue bisa bahagia dengan itu."
Sesak semakin menyelimutiku. Tangisku seakan enggan berhenti. Aku lelah. Dan aku ingin berkata jujur kepada romeo.
"Gue cuma ingin pergi dan ninggalin lo sekarang. Hati gue udah terlalu patah buat memperjuangkan lo lagi. Gue... Gue udah gak setegar dulu lagi. Gue udah ada di titik lelah gue buat memperjuangkan lo. Gue bukan baja, rom" sambungku dengan suara yang terdengar pilu dan menyakitkan.
Hening.
Hanya suara tangisku yang terdengar parau dan pilu yang terdengar saat ini.
Aku malu. Aku malu harus menanggis lagi didepan romeo. Dia telah melihatku yang lemah. Dan melihat Pertahananku hancur. Ya, HANCUR. Semuanya telah hancur dia buat. Aku tolol masih mencintainya hingga detik ini.
"Maafin gue lol." Suara romeo yang terkesan tercekat itu membuatku sadar aku harus pergi.
Percuma aku harus meraung-raung di dekatnya. Percuma aku harus terus-terusan menatap matanya. Percuma aku harus memohon dia membalas perasaanku. Dan percuma juga jika aku menggenggam tangannya dan berkata aku ingin dia. Toh, dia tidak akan perduli. Lebih baik aku pergi sebelum dadaku semakin sesak.
Dengan cepat, kubalikkan badanku dan ingin pergi. Ku remas dadaku dengan kuat. Paru-paruku seakan berhenti berfungsi. Air mataku terus mengalir. Semua terasa sesak dan menyakitkan.
Dan aku pergi. Pergi meninggalkan romeo yang terdian beku tanpa banyak berkata di tempat semula.
***
Ku percepat langkahku ke arah Tian. Dia sedang berbicara dengan seseorang. Aku melihatnya samar. Ku hentikan langkahku di tengah perjananku. Ku hapus air mataku. Aku malu harus terlihat kacau di depan teman Tian itu.
Kutarik nafasku, dan dengan pelan ku hembuskan. Seakan-akan aku ingin semuanya tenang dan baik-baik saja. Akupun melanjutkan jalanku dengan kepala menunduk menatap batu-batu yang ku pijak.
"Loly! Lo lama banget!" Ku dengar teriakan tian yang khawatir dan berjalan mengejarku.
"Maaf." Kata itu yang ku ucapkan padanya sambil tetap menunduk.
Diapun berjalan menuntunku ke parkiran.
"Lo kalau jalan kok nunduk sih? Aneh." Ku dengar sebuah suara yang seperti ku kenal berkata dengan nada dingin dan datar.
Refleks, kuangkat kepalaku melihat siapa orang yang berkata seperti tadi.
Julian?!
"Mata lo bengkak. Habis nanggis?" Kurasakan julian memegang bagian bawah kelopak mataku. Tiba-tiba sorotan Matanya tampak khawatir.
Sontak, seperti ada sengatan listrik memenuhi darahku.
"Gue gak papa." Kualihkan wajahku ke arah lain.
"Ian? Kita pergi sekarang ya." Kataku sambil mengambil helm dan tidak memperdulikan julian yang terpaku diam.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALONENESS
Novela JuvenilAku tak pernah merasakan apa arti CINTA. Yang aku tahu itu hanya sekumpulan bahagia sementara yang berakhir dengan sakit. Dia, orang yang ku perjuangkan. Tanpa kata. Tanpa banyak berucap. Aku hanya ingin dia. Walau aku tak pernah menatap matanya. Wa...