Thirty nine : Now, I know everything.

82 2 1
                                    


"Sakit!"

Kubuka mataku dengan takut. Mendengar pekikan kesakitan keyra membuatku terpaksa membuka mataku.

Chris.

Dia ada di depanku saat ini. Dia menolongku dari tamparan maut keyra. Kulihat keyra mendengus kesal dan berlari pergi.

"Makasih." Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. Badannya yang tegap kini ada lagi didepanku. Aku hanya bisa menunduk. Aku tidak berani lagi menatap matanya.

"Gue kangen lo." Bisikan chris mampu membuatku merasakan sambaran petir di malam ini. Malam tanpa ada tanda hujan. Kata-katanya mampu menyihirku ke dunia lain yang aku tidak tahu.

"Maaf." Tanggisku mulai pecah. Aku tidak tahu harus apa lagi. Mengetahui perasaan chris membuatku lunglai. Dia membuatku merasa aneh dengan diriku sendiri.

Kurasakan chris membawaku ke pelukannya. Pelukan yang telah lama tidak kurasakan. Pelukan menenangkan yang menghangatkanku. Pelukan yang membuat perutku seperti tergelitik. Dan pelukan yang membuat jantungku berdetak dan berdesir.

"Gue sayang lo loly. Gue sayang lo. Gue sayang lo." Bisik chris diantara pelukan kami dan dinginnya angin malam.

Didekapnya kepalaku agar terbenam di dada bidangnya. Kudengar degupan jantungnya yang keras. Dia merasa deg degan?

Kata-katanya mampu membuatku semakin bersalah. Aku belum tau perasaan apa yang kurasakan kepadanya.

"Maafin gue chris. Gue... Guee..." Kulepaskan pelukannya diantara tanggisku. Dan aku berlari. Berlari masuk kerumah sebelum perasaan bimbang semakin menyeruak besar.

***

Aku kembali menanggis. Aku merasa bersalah.

Perkataan chris kembali berputar di kepalaku. Kuambil iphoneku diatas mejaku. Ku buka galeri ku. Kucari fotoku saat bersama romeo di pantai. Kuperhatikan wajah romeo yang membuatku merasakan cinta kepadanya sampai saat ini.

Kucari fotoku saat bersama chris. Seketika tanggisku kembali pecah. Kenapa harus serumit ini?

Aku terlalu mencintai romeo, sehingga aku tidak pernah melihat ada orang yang selama ini ada di sampingku menyimpan rasa tulus padaku.

Aku harus apa? Aku selalu luluh melihat tatapan romeo. Walaupun dia menatapku dari jauh. Aku terlalu mencintainya.

Ditambahlagi seorang teman yang kuanggap baik ternyata malah menusukku.

Rasa sesak kembali membuatku menanggis lebih keras. Semua terasa sakit untuk ku terima. Dan semua terlalu sulit ku cerna.

***

"Kamu kenapa diam aja? Kamu gak suka jalan sama aku?" Pertanyaan julian membuatku tersadar dari lamunanku.

Ku arahkan pandanganku ke jalanan. Sekarang kami sedang menuju kesuatu tempat yang masih julian rahasiakan. Tapi sepertinya dia akan mengajakku ke puncak.

"Kan ngelamun lagi."

"Maaf kak." Kataku sambil menatapnya dan tersenyum.

Perjalanan kami kembali hening. Aku tak berniat membuka percakapan. Aku sedang binggung memikirkan chris dan romeo. Ditambah lagi keyra si penusuk. Aku benar-benar pusing.

"Udah sampai. Yuk turun."

Kulihat pemandangan kebun teh yang ada di depan tempat kami memarkir mobil. Dengan cepat akupun turun. Julian berdiri di sebelahku. Kurasakan tangannya merangkul bahuku.

"Disini dingin. Nanti kamu kedinginan." Katanya sambil tetap memandang kearah depan. Aku hanya tersenyum seadanya.

"Katanya romeo suka sama kamu, dia udah nyatain perasaannya?" Perkataan julian membuatku kaget. Benarkah? Kurasakan pipiku mulai memanas malu.

"Belum." Kataku sambil menunduk.

"Gue dengar, katanya ada long march minggu depan. Kamu ikut?" Tanyanya saat kami berjalan menyelusuri kebun teh.

"Iya." Kataku singkat.

"Itu naik gunung loh. Kamu gak kecapean nanti?"

"Kalau gak di coba ya gak tau." Kataku sambil menatapnya dan tersenyum.

Kamipun memutuskan duduk disalah satu kursi kayu yang ada di kebun teh ini. Dari sini kami bisa melihat pemandangan yang indah.

"Kalau gitu aku ikut naik gunungnya." Katanya tiba-tiba.

"Jangan ngaco deh kak. Kakak udah tamat. Lagipula itu buat kelas sebelas aja."

"Aku pengen ngejaga kamu."

Kata-kata julian seakan membuat ku luluh. Ada geli tersendiri dalam kalimatnya. Antara najis dan entahlah.

"Gue bisa jaga diri gue sen---"

Kurasakan tangan julian menggengam ku. Tatapan matanya seakan menyiratkan sesuatu yang tidak aku mengerti.

"Aku suka sama kamu lol." Katanya sambil menatap mataku.

Omong kosong apa lagi ini? Kenapa semua orang menjadi gila?

"Gausah bercanda." Kualihkan pandangaku dari matanya. Kulepas genggaman tangan kami. Aku tertawa miris.

"Loly, please. Gue serius." Kulihat dia duduk di depanku saat ini. Dia berjongkok dihadapanku.

"Would you be, mine?" Tanyanya sambil menatapku dalam.

Mataku memanas. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran semua orang. Mereka seakan mudahnya menyatakan perasaan tanpa perduli bagaimana efeknya bagi si pendengar.

Air mataku menetes. Kualihkan pandanganku ke arah lain.

"Kamu gak papa?" Tanyanya sambil tetap berjongkok di depanku.

"Gue mohon jangan pernah ngebuat gue merasa di cintai lagi. Gue udah terlalu jadi orang bodoh karena pernah ngasih hati gue ke orang yang salah. Jadi gue mohon, jangan buat gue jadi orang yang bodoh lagi untuk ke sekian kali."

Tanggis ku pecah. Kutatap julian yang tampak binggung karena kata-kataku.

"Gue minta maaf kalau sepupu gue udah nyakitin lo loly. Gue minta maaf." Kurasakan pelukan julian diantara tanggis ku.

"Dia gak salah kak. Mungkin gue yang terlalu baper selama kami dekat. Dan sekarang, dia kembali lagi dengan sejuta harapan yang membuatku seakan luluh lagi. Dan sekarang lo bilang lo sayang sama gue. Gue-- gue.. Gak tau harus ngapain lagi kak. Gue gak tau." Kurasakan air mata ku kembali mengalir membasahi pipiku.

"Gue bakal nunggu elo lol. Gue bakal nunggu lo." Kurasakan pelukan julian kembali mengerat. Membuatku kembali merasa lebih gila.

***

ALONENESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang