Sungguh,
sumpah,
kemarin aku betul-beetul mau meminta secara langsung nomor handphone Euis ke si empunya. Ya paling tidak kalau ada job atau apa aku bisa mengajaknya untuk ikut pula kan. Aku belum bermaksud pedekate walau hati ini ingin. Cukup menyesal kemarin aku teralihkan dengan panggilan telpon sehingga tidak tahu kalau Euis sudah melesat pulang.
Tapi semesta memang lucu, tahu-tahu kak Ulfa sudah membuat grup berisi semua orang yang akan tampil pada pementasan 2 bulan nanti. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencari nomor handphone Euis. Padahal pun kalau minta langsung, paling mintanya sambil gemeteran.
Mengenai pementasan bulan depan, rupanya aku dan kang Yoyo akan terlibat langsung karena kak Ulfa beserta timnya sangat butuh pemusik pro untuk penguat. Setengahnya aku cengar-cengir saat mengetahui fakta itu, yes ngiringin Euis!
Setengahnya lagi, aku tahu kalau aku harus banyak menebalkan telinga dan banyak bersabar karena Fedo pasti akan banyak berulah. Kang Yoyo hanya tertawa saat tahu aku yang langsung sebal dengan Fedo.
"Karakter orang kan beda-beda Jal, tenang aja."
Kang Yoyo selalu mengajakku ketika ia mendapat proyek yang tidak bisa dilakukannya sendiri. Proyekan itu lah yang selalu membantu menunjang keseharianku juga. Makanya aku sangat berhutang budi dan berhutang rasa, walau seringnya aku bertemu hal-hal aneh saat mengerjakan proyek itu. Hal aneh di proyek kali ini? Mungkin Fedo.
Ah tapi rasanya aku cukup senang dengan proyekan kali ini. Lumayan juga bisa berkenalan dengan penari yang lumayan menyenggol hatiku. Selama ini aku menyadari dan mengakui kalau aku lebih senang melihat gemulainya seorang perempuan dibanding gagahnya seorang laki-laki. Dan seringnya aku mengkhususkan seleraku pada para penari. Dulu waktu masih tinggal di Sumedang, uwa Yayan pimpinan sanggarku selalu bilang kalau pemusik itu jodohnya penari, begitu pula sebaliknya. Tapi itu bukan alasanku dulu untuk berhenti menari dan fokus pada musik, apalagi sampai kuliah di jurusan musik. Karena aku memang lebih suka dengan musik saja. Euis itu penari, aku pemusik, kalau misalkan kami jodoh tentu aku akan sangat senang.
Di tengah kelas Kajian Seni Pertunjukan, pikiranku terus melayang-layang memikirkan dalam 2 hari ke depan aku akan bertemu lagi dengan Euis. Dan sekarang aku malah duduk di pojok kelas sambil sibuk memainkan handphoneku. Sialnya aku menemukan akun intagram Euis karena nama akunnya sama dengan nama akun whatsappnya. Aku tidak bisa berhenti menyibukkan diri untuk terus melihat semua foto yang ada di akunnya. Hanya berjumlah 64, tapi cukup membuatku puas karena kebanyakan berisi foto dirinya.
"Emang penari jaipong ya dia..." gumamku pelan, melihat foto-fotonya yang berpose dalam kostum tari. Ada juga fotonya ketika sedang beraksi di panggung.
"Wah anak mana tuh?"
"Bukan anak sini. EH!" aku langsung melonjak kaget karena mas Wisnu, sang dosen, berdiri di depanku dengan sedikit menunduk sambil ikut melihat ke arah handphoneku. Aku langsung menyeringai kikuk sambil mengatupkan kedua tangan di depan mukaku tanda meminta maaf.
"Boleh juga tuh, anak mana Jems?" aku tidak tahu mas Wisnu sedang bercanda atau serius, kadang candanya terlihat serius, kadang seriusnya terlihat penuh canda.
"Anak Buaran mas, hehehehe." aku masih mengatupkan tangan sambil menyeringai aneh.
"Walah, ajak ke sini sekali-kali boleh tuh." kata mas Wisnu sambil berjalan membelakangiku kembali ke mejanya yang ada di depan kelas. Aku bernafas lega karena tidak diomeli.
"Coba jelaskan tentang metodologi pengkajian seni Jems, kayanya kamu udah paham banget nih." lalu aku bisa mendengar semua temanku menahan tawa melihatku dan wajah suramku. Kampret.
***
"Gebetan baru?" tanya Nonik saat melihatku masih saja menstalk akun Instagram milik Euis.
"Bukan, temen baru." kataku tanpa mengalihkan pandanganku.
"Lo pikir gua bego?"
Nonik adalah satu-satunya orang yang tahu aku menyukai perempuan ketimbang lelaki. Ia pun begitu, dan sebetulnya masih banyak lagi di kampus ini, hanya saja agak susah dideteksi. Masalah kebiasaan patriarki membuat perempuan harus selalu terlihat 'sempurna'. Buatku Nonik lebih cocok menjadi psikolog karena ia selalu bisa menebakku.
"Gua baru ketemu sekali men!" aku mengangkat kepalaku. Akhirnya.
"Tapi udah stalk IG-nya. Terus udah stalk apanya lagi? Path? Line? FB? Twitter? Youtube channel?"
"Kok lu malah ngasih gua ide sih." Nonik memutar matanya mendengar jawabanku.
"Pokoknya kalo udah jadi kenalin ke gua." Nonik beranjak bangun dari kursinya.
"Mau kemana?" tanyaku walau tahu ia pasti mau ke ruang musik.
"Nge-stalk medsos gebetan baru" ia menjulurkan lidahnya sambil pergi meninggalkanku,
Cileupeung siah*.
*sialan lo
Tanggal publikasi: 18 Juli 2018
Tanggal penyuntingan: 28 Agustus 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Katanya mah Jodoh
General FictionAda yang bilang, pemusik dan penari itu jodoh karena saling membutuhkan satu sama lain. Tapi apa iya? Kalau misalnya keduanya memiliki jenis kelamin yang sama, masih bisa disebut jodoh kah? Ah, 'jodoh' hanya sebuah kata yang selalu membentuk suatu m...
