12. Rencana Ngamen

6.6K 611 3
                                        

Dua minggu setelah pementasan rasanya ada yang kurang.

Tidak ada lagi membelah kemacetan Jakarta setelah selesai kuliah.

Tidak ada lagi bercanda ria dengan para penari.

Tidak ada lagi sengit-sengitan dengan Fedo.

Dan yang jelas, tidak ada lagi pelukan Euis yang selalu menyambutku ketika aku datang. Ah, aku merindukannya.

Sambil memotong bambu untuk dekor panggung resital tugas akhir seniorku besok, aku teringat sebulan yang lalu pun aku melakukan hal yang sama. Laki-laki yang bisa diandalkan untuk memotong-motong kayu untuk properti hanya Bram. Kang Yoyo juga tentunya. Akhirnya aku juga turun tangan, daripada lama. Saat itu Euis sangat khawatir waktu jariku 'menyenggol' gergaji dan mengeluarkan darah. Bahkan sampai lari-lari ke kantin untuk mencari plester.

Ah,


lagi-lagi aku merindukannya.


Kutengok handphoneku yang tergeletak di samping bambu yang kupotong, sepi. Biasanya selalu diramaikan oleh para penari rumpi yang selalu bergosip ria di grup. Obrolan paling hot belakangan ini, tentang koreografer mereka yang setiap latian selalu membawa laki-laki yang berbeda. Dari sekilas saja aku sudah tahu kalau kak Jordi itu gay, di dunia seni hal seperti itu sudah tidak asing. Beberapa kali aku diomeli kak Jordi karena terlalu asik melihat Euis. Bukan sebagai patokan gerak, tapi karena mataku memang tidak bisa kualihkan darinya. Sial.

Bonca tampak sedang tertidur disamping dedaunan yang telah dikumpulkannya, aku melihat Merdi datang dengan membawa seplastik gorengan. Tak bisa kutolak ketika ia menawariku untuk ikut makan. Aku kelaparan.

"Penarinya udah dateng belom?" tanya Sisil, telingaku sedang sensitif mendengar kata 'penari'. Karena, ah...

"Mereka mau cek panggung? Masih berantakan gini juga." Tito yang hanya memakai kaus kutang dan celana pendek menggaruk-garuk kepalanya.

Di jurusan musik dengan penjurusan musik tradisional, Tito berkosentrasi pada spesialisasi alat musik petik. Sisil mengambil kosentrasi pada alat musik gesek. Bonca dan Merdi lebih berkosentrasi pada alat musik pukul. Sedangkan Awang lebih pada alat musik perkusi tradisional. Ditambah aku pada alat musik tiup, lengkap lah kami berenam. Kami sangat rekat dan tak terpisahkan. Tapi mereka sama sekali tidak tahu tentang isi hatiku.

"Ah terserah lah, yang penting cepet disusun dulu ini gapuranya." Sisil mendirikan tiang bambu yang sudah dibalut dengan daun-daunan.

"Entar malem ngamen yuk, bosen nih." ajak Bonca sambil memegang kepalanya yang hampir plontos, kemarin ia kalah taruhan basket dengan anak jurusan desain sehingga harus menggunduli rambutnya sendiri.

"Bosen apa seret duit?" ledekku, padahal dompetku juga sedang mengalami kemarau.

"Sama aje, yuk."

Setelahnya kami cepat-cepat membereskan panggung dan menata dekor. Melapor pada senior yang mempunyai hajat lalu segera kembali ke kostan masing-masing. Saat sedang bersiap menuju titik kumpul yang sudah kami tentukan, handphoneku berbunyi. Ada chat whatsapp yang masuk.

Euis menyapa kami semua di grup, menanyakan kabar kami semua.

Aku baik kok, hanya saja terlalu merindukanmu.



Tanggal publikasi: 21 Juli 2016
Tanggal penyuntingan: 29 Agustus 2018

Katanya mah JodohCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang