Aku mendadahi mobil Heni, dengan hampir semua orang di dalamnya, berlalu hingga makin tak terlihat. Kak Ulfa pulang dengan kang Yoyo, dan Euis memilih untuk pulang denganku,
tentu saja.
Nonik yang baik mencantolkan helmnya di besi belakang motorku. Awalnya aku sempat bingung, mau mencari helm pinjaman dari mana untuk Euis?
Tapi itu sebelum melihat helm yang digantungkan Nonik.
Ah aku berhutang banyak padanya. Walau lagi-lagi aku bingung karena si pembuat-kue-racun itu berbalik 180° dari yang awalnya menentang menjadi sangat mendukung.
"Euis udah gak takut di begal lagi?" celetuk kak Ulfa sambil tertawa dari atas motor kang Yoyo.
"Tinggal teriak aja kak, paling entar dia digebukin orang. Hihi." kalau itu Bonca, Sisil atau yang lainnya pasti sudah kukatai 'kehed'
"Hayu atuh berangkat.. Eh.." handphone di saku celanaku berdering.
Uwa Yayan!
Aku menengok ke arah Euis yang seolah mengerti dan mempersilahkanku mengangkat telpon.
"Mega! Parah kamu teh gak pernah nelpon uwa!" baru saja kupencet tombol terima, omelan uwa Yayan langsung mengudara. Bahkan tidak ada basa-basi menanyakan kabar.
"Astaga hampura atuh uwa. Mega kan masih sering sms." (maaf uwa) aku menunduk-nunduk, kalau di depanku benar-benar ada uwa Yayan pasti kepalaku dijitak.
"Heuuu! Kamu teh lagi dimana? Masih di Jakarta keneh pan?" (masih di Jakarta kan?)
"Sumuhun Wa. Aya naon Wa?" (iya Wa. Ada apa Wa?)
"Ieu rombongan nembe di Jakarta, ai kamu taya gawe kadieu atuh. Isukan mapag panganten dulurna kang Rosyid." (ini rombongan lagi di Jakarta, kalo kamu gak ada kerjaan ayo kesini. Besok upacara mapag penganten saudaranya kang Rosyid)
Uwa Yayan menjelaskan panjang. Betapa rindunya aku mendengar logat sunda kentalnya.
"Euleuh, bihari wa? Jakarta mana wa atuh jakarta pan meuni gede." (halah, sekarang wa? Jakarta mana wa kan jakarta kan besar)
"Di Kuningan." aku menghela nafas. Hafal dengan kebiasaan ayah keduaku ini yang suka setengah-setengah dalam memberitahukan sesuatu.
"Nyuhunkeun dismskeun hungkul wa alamatna mah, engke Mega jeung batur kaditu." (minta tolong dismskan aja alamatnya wa, nanti Mega sama temen kesitu)
"Oke." lalu uwa Yayan menutup telpon. Aku menggaruk-garuk kepala. Gua kan mau ngomong sama Euis yak kenapa malah nyamperin uwa Yayan....
"Naha?" (kenapa?) tanya Euis.
"Rombongan sanggar aku yang di Sumedang lagi di Jakarta, besok mau pentas. Tadi aku ditelpon."
"HAH SERIUS?! IHH MAU LIAT!!" seru Euis dengan penuh semangat.
Oke fix, ke uwa Yayan dulu. Batinku sambil melajukan motor.
Sudah hampir setengah jam perjalanan menuju alamat yang diberikan uwa Yayan dan sedari tadi aku bingung, ini rumah sekomplek kenapa sama semua bentuknya.
Katanya sih ini rumah-rumah untuk para perwakilan kontingen apapun se-Indonesia. Tapi mana yang milik kontingen Jawa Barat aku betul-betul tidak tahu. Katanya pula disana lah uwa Yayan dan rombongan numpang menginap. Pasti uwa Yayan memanfaatkan relasinya dengan para pejabat petinggi sehingga bisa menginap disitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Katanya mah Jodoh
General FictionAda yang bilang, pemusik dan penari itu jodoh karena saling membutuhkan satu sama lain. Tapi apa iya? Kalau misalnya keduanya memiliki jenis kelamin yang sama, masih bisa disebut jodoh kah? Ah, 'jodoh' hanya sebuah kata yang selalu membentuk suatu m...
