Cerita Lepas: Lelah

8.1K 559 49
                                        

Rasanya aku sangat lelah. Baru saja aku selesai mendiskusikan konsep tarian selama hampir 5 jam, tiba-tiba Euis merengek minta diperhatikan. Entah sudah berapa ronde aku melayaninya, tapi Euis masih saja belum terlihat lelah.

"Is udah ah aku capek"

"Yah Jems, kamu udah makan belom sih?" Euis menyibakkan rambutnya sambil menatapku dalam.

"Belom..."

"Yah pantesaaann. Ini masih belom ngomongin kostum Jeeems, riasan, rambut, gitu-gitu, rondenya masih banyaaakk" Euis merengek lagi. Selama rapat tadi ia merasa tidak kuperhatikan karena aku terlalu berfokus pada alur cerita tarian karena akan disesuaikan dengan musik. Jadi lah ia mengajakku berdiskusi lebih ke soal tarian. Dan sudah berganti-ganti 'ronde' karena banyaknya hal yang didiskusikan.

"Udah ah Is seriusan aku capek....." aku merebahkan tubuhku di lantai. Euis menyusul dengan tidur tengkurap di sampingku.

"Makan dulu ya?"

Aku hanya tersenyum, membelai pipi Euis pelan. Melihatnya saja aku sudah merasa kenyang. Rasanya sudah tidak butuh makan atau apapun. Aku hanya butuh melihat wajahnya.

"Mending pulang dulu deh, kita ngemper di lorong gedung nih, mohon maaf"

"Jems belom pulang?"

Secepat kilat aku bangkit dan duduk dengan tegak. Telingaku tidak pernah salah mengingat suara mbak Yara, yang sekarang sedang berdiri sambil tersenyum di depanku. Memegangi tasnya yang terselempang di pundaknya. Keringat dinginku rasanya langsung mengucur entah kenapa.

"Ehehehe belom mbak.....mbak......eh....." aku menengok ke arah Euis yang juga sudah duduk dengan tegak di sampingku. Aku mengajaknya berdiri. "Mbak, kenalin ini Euis...penariku....untuk TA"

"Euis..." tangan mbak Yara dijabatnya dengan senyum manis.

"Yara..." mbak Yara memberikan senyum yang tak kalah manis. Aku hanya garuk-garuk kepala karena bingung harus apa. "Pijakan kamu Sunda lagi ya Jems?"

"Jems jagonya Sundaan sih kak, kak Yara penari juga?" duh, pasti Euis mengira kalau mbak Yara adalah mahasiswa.

"Ahahaha tapi sepertinya gak sebagus kamu. Kalian gak pulang? Udah jam 12 malem loh"

"DEMI APA?!" aku langsung melihat ke jam handphoneku. Astaga, berapa lama aku melayani ronde-ronde obrolan Euis.

Sedangkan Euis langsung terdiam. Aku tahu harapannya untuk tidur di kasurnya yang empuk dan disirami dinginnya AC di kamar kostannya yang nyaman pupus sudah. Kostannya dikunci total pukul 12 malam. Tidak ada pengecualian.

Dan sekarang aku malah bingung melihat mbak Yara. Sedang apa mbak Yara di kampus hingga jam 12 malam seperti ini?

"Euis pulang kemana? Nginep di rumahku aja mau?"

Semesta......apa-apaan tawaran mbak Yara barusan......

"Eh.....gak papah kak?"

Semesta.....kenapa Euis polosnya tidak tertolong.....

"Iya gak papah, atau kamu mau nginep di kostan Jems?"

Semesta.....kenapa kesannya kostanku tidak layak dihuni manusia lain selain aku... Yah, memang kostanku terlalu penuh dengan alat musik sebetulnya.

"Ehm, Jems gimana?" Euis melirikku.

"Kok nanya aku sih..." jawabku reflek.

"Kamu nginep di rumahku juga aja Jems, nemenin Euis" sekarang aku memandangi mbak Yara dengan tatapan datar. "Ada kamar kosong kok, Jems tau rumahku kan? Aku tunggu di rumah ya"

Katanya mah JodohCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang