Cerita Lepas: Lelah (2)

7.4K 549 32
                                        

Aku terbangun macam orang konyol. Pertama, karena aku tersadar aku tidak sedang tidur di kostanku atau di rumah. Kedua, aku sudah tidak mendapati Euis ada di sampingku lagi. Ketiga, waktu sudah menunjukkan pukul 09.22. Luar biasa. Aku langsung bergegas membuka pintu kamar dengan cepat.

"Ehh yang diomongin akhirnya bangun" mbak Yara tertawa kecil sambil melihat ke arahku. Sedang duduk di sofa sambil mengobrol dengan Euis yang duduk di sampingnya.

"Udah bangun Jems?" Euis tersenyum dengan teganya. Tega karena membiarkanku masih terlelap hingga sesiang ini.

"Is parah siah aku gak dibangunin" aku duduk di sebelah Euis, membenamkan wajahku di bantal yang ada di situ.

"Biarin! Biar kak Yara tau aslinya Jems tuh kaya apa! Haha" sial, mbak Yara ikut tertawa.

"Jems makan dulu gih, atau mau diambilin?"

"Aku aja yang ambilin kak"

Euis lalu bangkit berdiri, berjalan ke dapur. Dari gerak-geriknya terlihat kalau sudah tidak ada kecanggungan dengan mbak Yara atau rumah ini. Walau pada awalnya memang tidak pernah ada kecanggungan atau apa. Tapi itu kan menurutku.

"Pinter banget kamu milih calon istri"

"HAH??!!!" mbak Yara tertawa. Aku masih membelalak kaget setelah mendengar kata-kata ajaib tadi, 'calon istri'.

"Resmiin lah, jadiin istri lah" entah mbak Yara sedang menggodaku atau apa, dahiku tidak bisa kembali lurus sejak mendengar kata-kata ajaib itu.

"Mbak, TA dulu lah mbak. Yakin. Lieur teteuingan" (pusing banget)

"Daritadi aku ngomongin TA kamu terus tau sama kak Yara, harusnya aku yang pusing. Nih makan dulu"

Aku mendongak, Euis meletakkan sepiring nasi goreng di meja yang ada di depanku. Lalu di dalam hati aku berdoa semoga Euis tidak mendengar kalimat mbak Yara sebelumnya. Karena kalimatku barusan saja didengar olehnya.

"Iya makan dulu, tadi aku sama Euis yang masak" jelas mbak Yara, aku menyeringai.

"Eh..pada gak makan.....?"

"Kamu pikir daritadi ini cuma masak tapi gak dimakan?" aku menyeringai lagi ke arah Euis. Mbak Yara tertawa.

Otakku seolah baru tersambung lagi. Daritadi....mereka membicarakan apa saja ya.. Tidak mungkin juga kan kalau membahas TA-ku terus menerus.. Mbak Yara....kok udah pake sarung lagi ya...maksudnya apa ya...tadi subuh kan....

"Taunya Euis dulu pernah nyanggar di tempatnya pak Eno loh Jems" aku melongo. Pak Eno adalah dosen spesialisas tari sunda yang melegenda di kampusku.....dan dulu Euis pernah ikut sanggarnya....?

"Loh....yang kamu bilang mang Eno itu maksudnya pak Eno dosenku??" pandanganku langsung tertuju ke arah Euis yang menatapku juga.

"Iyaa tapi aku gak tau itu dosenmu! Kamu gak pernah cerita sih!"

"Ya atuh kan kukira Eno yang lain!"

"Aduuhh suami istri pagi-pagi berantem, hahaha"

DUAARRR!!

Bukan.

Tidak ada hal yang secara fisik meledak.

Itu kepalaku.

Saat mendengar kata-kata mbak Yara barusan.

Bahkan Euis langsung terdiam sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Mane suami istri....."

***

"Makasih udah mau nginep ya. Pokoknya kalo besok-besok mau nginep ke rumahku lagi langsung aja" kata mbak Yara disertai senyuman yang paling manis. Bila diibaratkan gula mungkin sudah berton-ton banyaknya.

Katanya mah JodohCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang