Hari pementasan dan aku tenang-tenang saja.
Ya,
memang terlihat tenang kok.
Coba lihat para penari yang sedang heboh berdandan, mulai dari make up, kostum, dan lain-lain. Aku dan kang Yoyo duduk di luar gedung dengan kopi hitam masing-masing di depan kami. Hanya saja bedanya kang Yoyo juga sambil merokok. Semua alat musik sudah dipasangi mic dan sudah disusun di samping panggung. Check sound pun sudah kulakukan lagi tadi pagi, sementara untuk gladhi resik sudah dilakukan kemarin. Masih jam 10 pagi, masih banyak waktu bersantai untukku dan kang Yoyo.
Sistemnya adalah para penari juga menjadi pemusik namun sistemnya bergantian. Misal tarian bergaya Minang, beberapa orang menjadi penari dan sisanya menjadi pemusik. Tapi ada beberapa orang juga yang tidak menjadi pemusik atau penari namun berganti kostum karena harus menarikan tarian lainnya. Dan seterusnya. Aku tidak mengerti sistemnya, biar para penari yang urus. Karena waktu aku coba membantu kak Ulfa dan Ara untuk menyusun hal itu aku malah pusing sendiri. Jadi lah hanya aku dan kang Yoyo yang tetap tinggal di panggung selama seluruh pementasan berlangsung. Tidak berpindah, boro-boro berganti kostum.
Aku menghela nafas panjang, kang Yoyo masih sibuk dengan handphonenya. Pikiranku jumpalitan.
Aku benar-benar digilakan oleh Euis.
Pernah suatu ketika Heni menyetel lagu Booty - Jennifer Lopez di speaker, semua orang bergoyang. Yang paling heboh? Kak Ulfa dan Euis. Yang membuatku hampir kehilangan kesadaran?
Tentu saja Euis.
Kukira melihatnya jaipongan saja sudah cukup membuatku menahan air liur, bahkan aku tidak tahu ia juga piawai dalam modern dance...dengan kategori sexy dance... Aku bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku dari Euis yang terus menari bergoyang dengan enerjiknya. Sisi nakalnya keluar. Ia terlihat sangat menikmati tiap gerakannya.
Tahu-tahu dengan segala keluwesan gerakannya ia berpindah, mendekatiku yang sedang berdiri menyender pada meja. Tiga langkah di depanku ia berjalan mundur hingga tubuhnya menempel ke tubuhku dari depan, tangannya memegang pinggangku dari depan, dan 'you wanna meet her, you wanna touch her. See the light in her eyes, and it starts to make you wonder'.
Ia menggoyangkan pantatnya meliuk-liuk dari atas ke bawah sambil kedua tangannya terus memegang pingangku.
Jelaskan kepadaku, bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak setelah 'digoyang' seperti itu? Setelahnya aku tidak bisa tidur sampai jam 5 pagi. Segala hal sudah kulakukan agar bisa tertidur dan tidak teringat 'goyangan' Euis yang tak kuketahui maksudnya itu. Spontanitas atau disengaja, entah. Tapi tetap saja. Masih beruntung hari itu semua permainanku lancar, tidak seperti saat aku bermain degung bersama Bonca dan teman-temanku yang lain.
Sial, senyum nakal dan menggodanya terlintas lagi di kepalaku. Aku kembali menghela nafas panjang.
"Kenapa Jal? Grogi? Hahaha."
"Bukan kang, lama banget. Haha." aku berkilah, padahal seisi kepalaku masih bekerja keras mengusir bayang-bayang Euis.
Nonik kuundang datang, bahkan kubelikan tiket. Bukan untuk menonton musik yang telah kubuat, tapi untuk melihat Euis dan membuktikan Euis tidak seperti ia sangka selama ini. Euis memang menggoda hatiku tapi tidak pernah memiliki maksud buruk.
Tahu-tahu ada yang menepuk bahuku.
"Kak Jems, nama lengkap dong. Kak Yoyo juga." Yuna yang bertugas sebagai stage manager menghampiriku dan kang Yoyo. "Untuk disebutin sama MC." sambungnya.
"Jalanidhi Megaseta. J-A-L-A-N-I-D-H-I." aku mengeja nama depanku, seringkali orang salah menuliskannya. Dan sering kali pula tidak ada yang tahu kalau artinya adalah samudra.
"Aryo Sunaryo." kang Yoyo menyebutkan namanya setelah Yuna tampak telah selesai mencatat namaku.
"Okeh. Gak mau ke dalem kak?" Yuna memandangi kami berdua atas bawah, mungkin bingung kenapa kami tidak berdandan. Ya, pemusik memakai hitam-hitam saja sudah cukup kok.
"Entar ah, riweuh di dalem." Yuna menatap kami seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Kenapa?" serobotku. Bibir Yuna bergerak tapi tak ada suara yang bergerak.
"Ngomong aja gak papah."
"Anu....ada lagu penyambutan untuk tamu-tamu gak?" aku dan kang Yoyo melongo, dari kemarin kami tidak menyiapkan apapun untuk menyambut tamu-tamu. Hanya pementasan inti.
"Eh....harus banget?" tanyaku balik.
"Abis masa kosong gitu aja sih kak, huhuhu maaf kak Genta baru bilang sama aku." Yuna terlihat sangat bersalah. Aku saling berpandangan dengan kang Yoyo.
"Kacapian suling ya Jal?" kata kang Yoyo.
"Kang Yoyo yang ngecapi ya?"
"Gua gak bisa nyuling sesadis elu Jal." kami berdua menolehkan kepala kami ke arah Yuna secara bersamaan, ia terlihat sangat gembira.
"Jadi bisa nih kak? Lagu pembukaannya??"
"Ya...asal dikasih tau kapan mulai kapan berhenti." ujar kang Yoyo sambil mematikan puntung rokoknya.
"Sama dikasih minum." sambungku, bisa kering tenggorokanku terus-menerus memainkan suling tanpa minum.
"Tenang aja kaaakk!! Yuk sekarang yuk?"
"HAH SEKARANG?!" seruku dan kang Yoyo hampir bersamaan.
"Loh bukannya masih jam 10??" tanya kang Yoyo bingung.
"Ini udah jam setengah 1 kaaakkk." Yuna mulai menarik tanganku dan kang Yoyo.
"Ya ampun pantesan jam tangan gua matiiii!"
"Bagus kang baguuussss!!" omelku sambil mengikuti Yuna masuk ke aula.
Tanggal publikasi: 19 Juli 2016
Tanggal penyuntingan: 28 Agustus 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Katanya mah Jodoh
Fiksi UmumAda yang bilang, pemusik dan penari itu jodoh karena saling membutuhkan satu sama lain. Tapi apa iya? Kalau misalnya keduanya memiliki jenis kelamin yang sama, masih bisa disebut jodoh kah? Ah, 'jodoh' hanya sebuah kata yang selalu membentuk suatu m...
