tiga puluh delapan

756 88 53
                                        

Eleanor's POV

Sudah seminggu aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Waktu yang biasa aku gunakan untuk bekerja diganti dengan membantu Mom memasak, mencuci dan semuanya. Daripada aku mengurung diri di kamar dan merenungi nasib dan permasalahan yang terus datang di hidupku?

Dan, sejak hari itu aku tak berkomunikasi lagi dengannya. Bukan hanya berkomunikasi, ketemu saja tidak. Tapi, nyaris waktu kemarin.

Flashback

"El, temani aku ke basecamp. Harry menyuruhku ke sana." ujar Barbara.

"Kau saja, Barbs. Kau yang disuruh, bukan aku." gerutuku.

"Aku tahu kau tidak mau ketemu Louis. Tapi, Harry bilang di basecamp hanya ada dirinya, Niall, Liam dan Sophia. Louis lagi menemani wanita itu jalan-jalan."

Hatiku sakit mendengan kalimat terakhir Barbara. Ternyata, yang dikatakannya itu hari benar adanya.

"Hey, El! Please ya. Temani sahabatmu sekaligus saudaramu yang paling cantik dan imut ini. Please El yang cantik, imut, perfect, dan-"

"Baiklah. Aku akan bersiap. Tapi, jangan sampai aku bertemu dengannya." ujarku.

"Aku janji El. Cepatlah bersiap. Aku menunggumu di mobil."

.

"Hey, El! Kau datang rupanya." ujar Harry.

"Ini karena kekasihmu yang meminta kepadaku. Karena aku kasihan, aku memuruti kemauannya." ujarku.

"El, bagaimana kabarmu?" tanya Sophia.

"Aku baik-baik saja, Soph. Kalau tidak, aku tak akan disini." ujarku.

"Dari luar, El kelihatan baik-baik saja. Tapi, tidak dengan hatinya." ujar Niall yang memainkan ponsel di tangan kiri dan burger di tangan kanan.

Aku terkejut mendengar Niall berkata seperti itu. Niall berkata benar.

"Apa kau bilang? Aku baik-baik saja." ujarku.

"Sudahlah, El. Kau jangan berbohong." kata Liam.

Kemudian, terdengar suara mesin mobil. Lalu, seorang mengetuk pintu.

"Liam Payne, Harry Styles, Niall Horan! Tolong bukakan pintu untuk Louis Tomlinson!"

"Louis pulang. Aku saja yang membukanya." ujar Liam.

"Kalau begitu, aku harus pulang." ujarku.

"El?? Kita baru lima belas menit. Kau mau pulang??" tanya Barbara.

"Sesuai perjanjian, kita pulang sebelum manusia itu masuk dan melihatku. Atau, begini saja. Aku akan pulang naik taksi saja. Aku mau jalan-jalan sendirian." ujarku.

"Kau yakin?" tanya Sophia.

"Yakin. Dan, aku harus lewat pintu belakang." ujarku.

"Aku akan mengantarmu lewat pintu belakang." ujar Niall.

Aku mengangguk dan berjalan menuju pintu belakang. Lalu, aku mendengar suaranya.

"Kenapa lama sekali??" Aku dengar dia menggerutu.

"Janganlah menggerutu. Kau harusnya bersyukur karena aku membuka pintu buatmu." ujar Liam.

Hahahaha! Rasakan!

"Dan, mana Niall??" tanyanya lagi.

"Aku disini, Lou." ujar Niall. Niall kembali sebelum ia curiga.

Right Now [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang