"Inilah rumah kita untuk kali ini." Tukas Liam.
Rumah yang dia tunjuk, sebagaimana rumah di Dublin pada umumnya. Hampir sama seperti townhouse di London, tapi yang ini sedikit lebih besar.
"Ada berapa kamar yang tersedia?" Tanya Louis. Liam tidak menjawab. Dia langsung mengisyaratkan keempat temannya untuk masuk. Dan jangan lupa juga dengan Kevia yang berada di belakang.
"Ada 3 kamar. Jadi kita harus berbagi." Jawabnya begitu mereka sudah berada di dalam.
"Rumahnya bagus." Puji Zayn sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
"Bagaimana menurutmu, Kevia? Kau suka?" Tanya Harry. Kevia hanya mengangguk kecil. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan mulai menjelajahi rumah itu. Atau lebih tepatnya, memeriksa dapur.
Simon bilang, ia tidak perlu belanja selama bekerja disana. Karena semua kebutuhannya juga yang lain sudah ditanggung oleh manajemen. Dan ternyata benar saja. Begitu Kevia ke dapur, kulkas dan lemari makan sudah diisi oleh berbagai macam bahan makanan. Bahkan ada camilan juga. Yang ia tebak milik Niall.
Kevia kembali ke ruang tengah, dimana ia mendapati lima orang laki-laki yang tengah tertidur di sana. Apa segitu lelahnya sampai mereka tertidur di sofa? Batinnya.
Kevia mengambil catatannya dan mulai menulis sesuatu. Lalu ia beralih pada Liam dan membangunkan laki-laki itu. Diguncangnya bahu Liam cukup kuat. Kevia tidak tahu cara lain untuk membangunkan mereka. Ia tidak bisa berteriak. Liam mengerang kecil dan mengernyit begitu melihat Kevia berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" Tanyanya serak. Kevia menyodorkan kertas yang ia pegang pada Liam.
Bantu aku bangunkan yang lain. Aku mau membuat makan siang. Dan kalau masih mengantuk, tidurlah di kamar.
Liam mengangguk mengerti. Kevia pun beralih menuju dapur, sedangkan Liam sendiri membangunkan keempat rekannya. Agak sulit membangunkan 4 orang dengan tingkat ke-pulas-an masing-masing. Louis dan Niall juga Harry bisa cepat bangun. Tapi tidak dengan Zayn.
"Kenapa, Li?" Tanya Louis serak.
"Kalau kalian masih mengantuk, pindahlah ke kamar." Ujar Liam, tidak menghiraukan pertanyaan Louis.
"Kevia dimana?" Tanya Harry.
"Dapur. Memasak makan siang." Jawab Liam. Dia menendang-nendang kaki Zayn, tapi laki-laki Pakistan itu tidak merespon. Dia seperti orang mati.
"Zayn. Bangun." Ujar Liam. Zayn mengerang dan perlahan membuka matanya.
"Kenapa?!" Tanyanya keras.
"Lebih baik kalian beristirahat di kamar." Tukas Liam. Zayn menggerutu dan mengambil tasnya lalu berjalan menuju kamar. Liam yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
"Lalu, kau mau apa sekarang?" Tanya Louis begitu kesadarannya sudah pulih.
"Aku akan ganti pakaian sebentar dan ke dapur untuk membantu Kevia." Jawab Liam. Dia beranjak menuju kamar yang dimasuki Zayn.
"Oy, kita belum berbagi kamar." Panggil Louis. Liam yang sudah setengah jalan, berhenti sebentar dan berbalik.
"Kau bisa tidur denganku dan Zayn atau kau bisa tidur bertiga dengan Niall dan Harry." Jawabnya.
"Lalu, bagaimana dengan kamar yang satunya?" Tanya Harry.
"Bodoh. Kau tidak mungkin tidur dengan Kevia atau membiarkan gadis itu tidur di luar." Tukas Niall. Dia mengambil ranselnya dan masuk ke kamar yang lain. Louis dan Harry mengikuti di belakang.
"Aku tidak yakin tempat tidurnya akan muat." Tukas Harry. Niall hanya mengedikkan bahu. Dia beralih menuju kamar mandi yang berada di sebelah kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Noiseless Assistant
FanficKevia Gusev, gadis beruntung yang bisa bekerja dengan band idolanya. One Direction. Kebahagiaan mampir di hidupnya. Namun itu tidak bertahan lama saat ia harus dihadapkan oleh kenyataan. Kalau segala harapan dan doanya, belum tentu bisa terwujud. Da...
