Chapter 29 (Trouble in Denmark)

229 30 5
                                        

Kevia melangkahkan kaki kecilnya menyusuri koridor panjang hotel besar di Copenhagen. Khusus untuk konser mereka di Denmark, manajemen meminta mereka untuk tinggal di hotel. Entah alasannya apa, Kevia tidak mau tahu. Setidaknya ia bisa beristirahat untuk sementara. Untuk pertama kalinya, ia bosan memasak. Mungkin hormon akibat menstruasi yang mempengaruhinya.

Kevia sekarang sudah sampai di tempat tujuan. Restoran hotel. Ini masih terlalu pagi untuk sarapan, sepertinya. Karena terlihat dari pemandangan restoran yang hanya berisi 4 orang, termasuk dirinya. Tapi Kevia tidak mempermasalahkannya, toh itu lebih baik.

Kevia mengambil beberapa menu sarapan sebelum mengambil salah satu kursi yang berada di salah satu sudut ruangan itu. Ia menyantap sarapannya dengan damai. Belum banyak orang, dan kelima bosnya serta kru lain belum ada yang terlihat. Namun di akhir santapannya, datang seseorang menganggu.

"Vellie." Panggil orang itu. Kevia yang sedang mengunyah tiba-tiba terdiam mendengar panggilan itu. Tubuhnya kaku seketika.

"Vellie." Panggil orang itu lagi. Dengan perlahan Kevia menolehkan kepalanya. Ia sedikit terkejut saat melihat sesosok laki-laki yang cukup tampan, berdiri di hadapannya.

"Akhirnya kita bertemu lagi." Kata laki-laki itu. Dengan tanpa dosanya, laki-laki tampan itu duduk di kursi yang ada di hadapan Kevia. Dia menyunggingkan senyum manis, yang entah kenapa terlihat sangat menyebalkan bagi Kevia.

"Sulit sekali untuk sekedar menyapamu." Katanya. Kevia tetap diam. Karena percuma juga ia menjawab. Jadi ia tetap membiarkan laki-laki itu bicara.

"Aku ingin meminta maaf atas apa yang aku pernah lakukan dulu." Laki-laki itu membuka percakapan tanpa beban. Dan Kevia, entah kenapa, tidak melihat ketulusan di sana.

Laki-laki itu mulai meneruskan kata-katanya, tepat saat Liam, Louis, Harry dan Niall muncul. Keempatnya hendak sarapan di salah satu sudut sampai mereka melihat Kevia. Namun diurungkan niat mereka untuk menghampiri gadis itu, saat melihat ada sosok laki-laki duduk di hadapannya.

"Siapa dia?" Tanya Louis. Ketiga yang lain mengedikkan bahu mereka.

"Sepertinya Kevia mengenalnya." Kata Liam.

"Tapi wajahnya menunjukkan kalau ia tidak suka dengan laki-laki itu." Timpal Harry.

"Apa sebaiknya kita hampiri mereka saja?" Tanya Niall.

"Jangan. Berikan mereka waktu dulu. Jika sesuatu terjadi, kita hampiri mereka. Sepertinya mereka sedang memiliki masalah." Tutur Liam.

Keempatnya pun memilih mencari kursi yang tidak terlalu jauh. Menyantap sarapan mereka sembari memperhatikan gerak-gerik Kevia serta orang asing itu. Mereka sedikit heran dengan sikap laki-laki itu. Wajahnya tampak tenang, padahal Kevia tidak merespon sama sekali dan malah memasang wajah datar. Namun keempatnya bisa melihat betapa kerasnya Kevia mengenggam garpu di tangannya.

"Kalau aku jadi laki-laki itu, mungkin aku sudah mati ketakutan." Bisik Louis. Sedikit ngeri dengan garpu yang sudah berdiri tegak di genggaman Kevia.

"Kira-kira apa yang akan Kevia lakukan dengan garpu itu? Menusukkannya ke mata laki-laki itu? Atau menusukkannya ke pipi laki-laki itu?" Tanya Louis asal. Liam memutar matanya.

"Kita semua tahu Kevia tidak sekejam itu, Louis." Katanya. Dan tepat saat Liam baru menutup mulut, mereka berjengit terkejut. Kevia baru saja menyiram laki-laki itu dengan air dan kini tengah mengacungkan garpu ke wajah laki-laki itu.

"Ya, Liam. Kevia memang tidak sekejam itu." Louis menyindir. Liam mencebik kesal.

"Kita harus segera kesana, Liam." Tukas Niall sembari beranjak dari kursinya. Diikuti yang lain, mereka menghampiri Kevia. Dan saat jarak makin dekat, mereka bisa mendengar laki-laki itu berkata.

The Noiseless AssistantTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang