Chapter 14 (Days Off)

256 28 4
                                        

"Baiklah, sampai jumpa."

"Have a safe flight."

"Berhati-hatilah."

"Jangan buat ulah ya."

Suara-suara umum yang akan kita temui di bandara. Dan suara-suara itulah yang menemani pagi Kevia beserta seluruh kru dan One Direction. One Direction dan kru mengambil penerbangan dini hari. Selepas konser terakhir mereka di Croke Park, kru dan management memutuskan untuk mempercepat penerbangan mereka ke London. Menyebabkan sedikit keributan di rumah sewaan One Direction.

Rencana penerbangan mendadak itu sedikit membuat Kevia kebingungan. Ia diberitahu 3 jam sebelum pesawat mereka lepas landas. Kevia yang terkejut memutuskan untuk kembali ke rumah sewaan itu dan mengepak semua barang-barang bos-bosnya. Beruntung kelimanya memang hendak kembali ke hotel selepas konser. Jadi sebagian besar barang-barang mereka sudah terkepak rapi. Kevia hanya perlu membawa barang-barang itu ke arena.

"Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, ya." Suara Harry mengejutkan Kevia. Kevia hanya tersenyum lalu memeluk Harry.

"Hey, Horan. Jaga Kevia baik-baik. Kita masih membutuhkan tenaganya untuk beberapa bulan kedepan." Ujar Harry pada Niall. Niall terkekeh.

"Tentu saja, mate." Niall dan Harry berpamitan. Begitu juga Niall pada seluruh kru dan teman-teman band-nya.

"Baiklah, hati-hati." Kata Niall.

Anggota One Direction dan sebagian kru memasuki pesawat menuju London. Sedangkan sebagian ada yang langsung ke Sunderland. Melihat persiapan konser disana 3 hari lagi. Niall tersenyum lebar dan kini menatap gadis berambut coklat kemerahan di sebelahnya.

"Ayo kita pulang." Katanya sembari menggenggam erat tangan gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Kevia?

Yaps, Kevia dan Niall memutuskan untuk menetap di Dublin sebelum menyusul ke Sunderland. Atau mungkin lebih tepatnya, Niall yang merencanakan itu. Kevia sama sekali tidak ada niatan untuk menetap, ia berencana untuk pulang. Tapi karena tatapan memohon Niall yang tidak bisa ditolak itu, Kevia kini terjebak bersama Niall di Dublin.

"Kau pasti mengantuk." Suara Niall memecah keheningan antara mereka berdua. Kevia hanya mengangguk kecil. Ia tidak mau berbohong soal itu. Ia lelah.

"Baiklah, kuharap kau masih tahan untuk keluar dari bandara." Kata Niall. Kevia mengernyit. Belum sempat ia bertanya, Kevia mendengar suara ramai di depan dan sempat terkejut melihat kilatan putih. Kilat kamera paparazzi.

"Kuharap mereka tidak mengurung kita. Ayo." Niall menggenggam erat tangan Kevia dan berjalan cepat menerobos kerumunan itu.

Ternyata bukan hanya paparazzi yang mengepung mereka. Tapi juga sebagian fans yang datang ke bandara. Niall mengutuk situasi ini. Mereka berdua pun terjebak. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Niall. Dia mulai takut.

'Sial, kalau tahu begini harusnya aku minta Tom untuk menemani kami berdua.' Batin Niall.

Kevia yang melihat gelagat Niall mengeratkan pegangannya. Ia juga mengusap lembut lengan bawah Niall. Berusaha menenangkan laki-laki Irlandia itu. Niall mulai bisa mengatur nafasnya. Tapi itu tidak terlalu membantu karena mereka berdua masih terjebak dalam kerumunan. Langkah mereka berdua terhambat. Teriakan fans juga kilatan kamera sedikit membutakan dan membuat mereka bingung.

Kevia merasakan tangan Niall yang mulai mendingin. Maka dengan sebagian tenaga yang ada, Kevia kembali mengeratkan genggaman tangannya dan mulai berjalan mendahului Niall, membelah kerumunan itu. Tidak peduli tangannya yang tercakar maupun kepalanya yang sempat terkena kamera paparazzi. Niall di belakangnya hanya mengikuti. Dia juga tidak peduli kalau dirinya terluka, yang penting dia dan Kevia keluar dari kerumunan itu.

The Noiseless AssistantTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang