I

25.1K 1.5K 12
                                        

Edenorth, 1477

Suara roda berdecit di atas jalanan bebatuan bersamaan dengan matahari yang mulai menyingsing dari timur. Hanya gerobak yang ditarik seekor kuda terlihat melintasi jalanan desa. Seorang gadis remaja beranjak dewasa berada di atas gerobak itu yang tengah asik memegang tali kekang. Sesaat angin melintas menerpa rambut brunette bergelombang, membuat mata hazel dengan bulu mata nan lentik terpejam sesaat. Satu tangannya berkulit putih pucat mulai melepas tali kuda dan sibuk memegang baju terusannya. Sesuatu nampak terbang mengikuti arah angin tersebut.

"My lady, kau kehilangan sesuatu?" tanya seorang pemuda yang mulai menyusul dari belakang dengan kuda gagahnya.

Pemuda yang sebelumnya melajukan kudanya dengan kencang, perlahan mulai meregangkan tali kekang kudanya setelah mensejajarkan posisinya tepat di samping gerobak yang dikendarai gadis itu. Mata birunya menelusur tidak ingin lepas dari sosok disebelahnya.

"Kau ingin pergi berladang, my lady?" tanya pria berambut pirang dengan perawakan tinggi tidak berisi yang sebelumnya melirik ke arah gerobak kosong.

"Ya. Dan kau ingin menggangguku, my lord?"

"Mungkin, jika menurutmu demikian." tukas pria itu.

Hening menyapa setelah percakapan singkat itu berlalu. Keduanya memilih terdiam menikmati sunrise bersama. Hanya suara decitan roda bertaut dengan hentakan kuda yang terdengar di tengah mereka. Tidak lama keduanya sampai di ladang domba milik keluarga Preaux, Baron kaya yang ada di Edenorth. Gadis itu menyambar kasar topi miliknya yang saat ini sedang berada di atas kepala pria muda itu.

"Jika kehadiranmu disini hanya untuk menggangguku, pergilah! Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini," ucap gadis itu seraya melayangkan pecutan untuk mempercepat gerobaknya, meninggalkan pria muda itu.

"Kalau begitu aku hanya akan mengamatimu seperti biasa. Lagipula, kau bukan sedang bekerja saat ini, lebih tepatnya melaksanakan perintah ayahmu. Bukankah begitu, Aleenor Preaux?" tanya pria itu.

Ya, Aleenor Preaux adalah nama gadis bermata hazel dengan perawakan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu berisi.

"Terserah apa katamu. Tetapi aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Ric!"

Aleenor turun dari gerobaknya lalu meninggalkannya di samping rumah kayu tua yang biasa dipakai untuk menaruh hasil panen. Ia membawa kudanya untuk sarapan bersama kuda lain yang ada di ladang itu. Ia bahkan tidak mempedulikan pria yang terus mengekorinya.

Eric Rochefort, pemuda tampan yang hari-harinya disibukkan dengan mengekori Aleenor kemanapun gadis itu keluar rumah. Jika biasanya pemuda desa seumurannya sudah sibuk membantu berkebun ataupun mencari uang dengan menjadi pekerja ladang, berbeda dengan Eric. Walaupun bukan dari keluarga bangsawan, Eric merupakan putra tunggal keluarga pedagang terkaya di Edenorth membuat pemuda itu tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana mengisi perutnya esok hari. Setiap hari ia bagaikan raja di rumahnya yang memiliki banyak pelayan. Karenanya, ia cukup terobsesi dengan sahabatnya. Aleenor seakan menjadi penghilang rasa bosan yang sering melandanya.

Eric menyingkir dari Aleenor, membiarkan gadis itu bekerja. Pohon apel besar rindang di ladang itu menjadi tempat favoritnya untuk mengamati sahabatnya yang biasa sibuk melakukan berbagai macam pekerjaan di ladang. Di batang besar pohon apel itu terdapat kayu-kayu yang sengaja dipaku Eric sebagai tangga untuknya memanjat. Eric berdiri dengan menempelkan satu kakinya di tangga terujung seraya tangan kanannya bergelayut di salah satu batang kokoh. Sementara tangan kirinya ditangkupkan di alis, menghalau silau sinar matahari dari matanya. Pandangannya menelusur kesana-kemari, sekilas pemuda tampan itu mulai menyimpulkan ujung bibirnya. Ladang hijau nan luas dengan pepohonan yang tumbuh teratur serta domba-domba yang berlarian kesana kemari di dalam pagar kayu, tak kalah para pekerja ladang yang sibuk menata jerami, memberi makan domba, dan mencukur bulu domba berhasil membuat mata pemuda itu berbinar. Pohon apel yang tumbuh menjulang tinggi di tengah ladang benar-benar menguntungkannya untuk mengamati setiap bagian dari ladang keluarga Preaux yang indah. Pandangannya seketika terhenti pada Aleenor yang baru saja keluar dari rumah panen membawa setumpuk jerami yang sudah diikat. Aleenor terlihat kewalahan membawa jerami yang bertumpuk hingga hampir menutupi penglihatannya. Eric semakin memicingkan matanya, menatap fokus Aleenor yang berjalan terhuyung.

A Lady in ArmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang