Aleenor berjalan di belakang Jaren. Dia menangkupkan selendangnya untuk menutupi wajahnya ketika melewati pengawal atau pelayan. Mengetahui dirinya mungkin saja akan kembali menjadi prajurit membuatnya tidak ada pilihan selain untuk sebisa mungkin menyembunyikan dirinya sebagai wanita.
Kereta kuda mewah dengan dua kuda putih gagah mulai terlihat di pandangan Aleenor begitu dirinya keluar dari kastil. Aleenor mempercepat langkahnya melihat Jaren hampir menjangkau kereta kuda itu. Dia terlalu berjalan buru-buru hingga tanpa sengaja kakinya menginjak gaunnya yang panjang. Aleenor tersadar dirinya akan terjatuh, dia mengulurkan tangannya untuk menjangkau Jaren yang sudah berada di dekatnya.
"My lord!" panggil Aleenor dengan keras membuat Jaren seketika terkejut hingga berjalan melihat ke bawah.
Sebelumnya duke itu selalu berjalan dengan gaya yang terkesan angkuh, namun juga tampak berwibawa dengan tatapannya yang selalu memandang jauh ke depan dan kedua tangannya bertaut di belakang.
"Oh," Jaren tampak menghindari sesuatu dari jalannya.
Brukkk!
Jaren menoleh mendengar suara seseorang terjatuh di belakangnya. Yah, Aleenor berakhir terjatuh tepat di belakang Jaren dengan wajahnya hampir mencium lantai. Untung saja Aleenor segera berpikir cepat untuk menahan tubuhnya dengan telapak tangannya. Sejenak Aleenor menggerak-gerakkan hidungnya mendapati bau tidak sedap yang sangat menyengat penciumannya. Kepalanya menoleh ke kanan-kirinya mencari sumber bau itu berasal.
Weekkkk!
Sebuah suara nyaring menganggetkan Aleenor. Tidak jauh dari tempatnya seekor itik melewar tampak manatapnya, begitu pun dengan dirinya. Itik itu kemudian berbalik dan berlalu begitu saja menuju kawanannya yang berada di kolam kastil utama.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jaren melihat Aleenor tak bergeming dari tempatnya.
Jaren berdiri di sebelah Aleenor hingga bayangan dirinya meneduhkan sebagian tubuh gadis itu. Aleenor kemudian menoleh pada Jaren mendengar suara berat itu bertanya padanya.
Terlihat sekilas Jaren mengangkat sebelah alisnya. Dia lalu menaruh telunjuknya di hidungnya. Aleenor tampaknya mengerti isyarat dari duke itu, ia mengikuti Jaren dengan menaruh telunjuknya di hidungnya. Dirasakannya sesuatu yang lembut menempel pada hidungnya. Maniknya membulat melihat apa yang ada di telunjuknya. Aleenor kemudian melihat ke bawahnya, tempat dia terjatuh.
"Sepertinya kau mengenai apa yang sengaja aku hindari sebelumnya," ucap Jaren, kemudian kembali berjalan menuju kereta kuda, mengabaikan Aleenor yang masih terbaring di tanah.
Aleenor menarik bibir dan alisnya ke bawah sembari menatap kotoran itik yang berada di bawah wajahnya itu. Sepertinya hidungnya tanpa sadar menyentuh kotoran di bawahnya itu ketika terjatuh. Malu bercampur rasa jijik dirasakannya saat ini. Aleenor kemudian bangkit setelah mengusap-usapkan kotoran yang di telunjuknya di dedaunan yang terjatuh di sekitarnya. Dia tidak mungkin mengusapkan kotoran itu di gaun mewahnya. Sementara di hidungnya masih menempel kotoran itik itu. Seandainya ada sapu tangan mungkin akan lebih memudahkannya.
"Ini," Jaren kembali menghampiri Aleenor untuk memberikan sapu tangannya.
"My lord!"
Aleenor tersenyum hingga menunjukkan lekukan pipinya sebelum meraih sapu tangan itu. Dia merasa terharu dengan perlakuan manis yang jarang diperlihatkan duke itu. Perlahan sapu tangan itu berpindah pada tangan Aleenor. Dia kemudian mengusap kotoran yang ada di hidungnya dengan sapu tangan yang terlihat mahal itu.
"Saya akan mengembalikannya setelah mencucinya."
"Kau bisa memilikinya. Aku tidak ingin memakai sesuatu yang sudah terkena kotoran hewan."
Senyum kembali ditampakkan Aleenor di wajahnya. Digenggamnya erat sapu tangan itu di dadanya, sementara Jaren mengernyit melihat bagaimana Aleenor menempelkan sapu tangan yang terkena kotoran itu di gaun mahalnya.
Jaren kemudian berbalik dan kembali berjalan. Terlihat duke itu tersenyum diam-diam kemudian sesaat menggelengkan kepalanya dan mengembalikan wajah dingin yang biasa dipasangnya.
Apa baru saja aku tersenyum karena tingkah bodoh wanita itu?
×××××
Ps:
Buat yg bingung,
Ini selingan scene part sebelumnya yaa..
Saat Jaren dan Aleenor mau berangkat ke pesta😄
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lady in Armor
Ficción históricaMengurus hewan ternak, mencukur bulu domba, dan menjual-belikan hasil ladang sudah menjadi keseharian Aleenor Preaux, seorang Lady yang juga putri pemilik ladang tempatnya bekerja. Perlahan hidupnya mulai berubah berawal dari sahabatnya, Eric Rochef...
