Bram memegang lengannya yang terasa berdenyut. Pukulan Gina keras sekali, seakan cewek itu ingin menghukum Bram atas kesalahannya. Pasti Nana baru saja mencurahkan kekesalannya pada Gina dan cewek itu mendukung Nana
Ralat. Ini bukan kesalahannya. Ia kan tidak melakukan apa pun. Ini kesalahan managernya... atau kakeknya. Bram jelas merasa sebagai korban di kasus ini. Ia kan tidak tahu apa-apa. Siapa sangka yang tinggal di rumah lamanya adalah keluarga dari korban konser tiga tahun lalu.
Bram kembali ke kamarnya dan mencoba menghidupkan ponselnya. Sudah sejak kemarin Bram mencoba menghubungi managernya, tapi sialnya, ponsel butut itu malah tidak mau hidup. Ingin meminjam pada Nana atau Martha, Bram gengsi. Tapi kalau begini terus, mau tak mau ia memang harus meminjam pada mereka.
Ponsel sialan itu masih tak bisa dihidupkan. Bram mencoba mengambil baterainya dan memasangnya lagi. Tetap tak ada perubahan, layarnya tetap hitam. Ia mencoba mengisi baterainya, juga tak terjadi apa-apa. Frustrasi, ia membanting hape itu, menimbulkan bunyi yang cukup keras karena hape itu mengenai kursi kayu sebelum terlempar ke lantai.
Bram mengempaskan diri di kursinya sambil menjerit tertahan. Ia hendak mengumpat ketika ketukan di pintu membuatnya mengurungkan niat. Bram memilih diam, tidak berminat membuka pintu kamarnya.
Sayangnya, si pengetuk menyangka keheningan itu adalah tanda bahwa ia boleh membuka pintu kamar. Kepala si kecil Jose menyembul.
"Kak Br...?" ucapannya terhenti. Gadis kecil ini tiba-tiba mengamati punggung Bram yang masih duduk di meja belajar.
Bram akhirnya menoleh. "Kenapa, Jose?" tanyanya datar. Meski ia sedang jengkel, tapi melampiaskannya pada anak kecil tentu tidak baik.
"Jose kaget. Habisnya dari belakang tadi mirip kak Yohan..."
Bram melirik sebuah foto Yohan yang tergantung di kamar itu.
"Yohan kan agak gemuk," Bram memprotes.
Jose terkikik "Dari belakang tadi Kak Bram juga kelihatan gendut. Habisnya pake lampu meja belajar. Kuhidupin, ya."
Tanpa mendapatkan persetujuan Bram, Jose langsung menekan saklar lampu.
"Siapa bilang aku gendut?" Bram pura-pura cemberut.
Jose terkikik. "Kak Yohan juga nggak suka dibilang gendut. Katanya dia itu cuma montok... sehat.... kayak bayi sehat."
Tawa Jose itu entah kenapa membuat hati Bram serasa mencelus. "Jose kangen Kak Yohan?" tanyanya.
Jose mengangguk, kemudian menggeleng. "Jose nggak begitu inget sama Kak Yohan. Pas Kak Yohan pergi, Jose masih kecil."
"Jose tahu Kak Yohan pergi ke mana?" tanya Bram.
"Tahu," jawab Jose mantap. "Kak Yohan pergi konser..."
Bram merasa jantungnya terhenti mendengar jawaban Jose.
"Konser?" Beo Bram.
Jose mengangguk. "Iya, ke konser yang terkenal banget! Dapet tiketnya aja susah."
Apa Jose juga tahu kalau dia adalah penyebab kematian kakaknya? Bram pikir, anak sekecil ini tidak akan mengerti konsep kematian. Ia pikir...
"Tapi terus konsernya bagus banget, Kak Yohan nggak mau pulang."
Bram menelan ludah.
"Atau... Kak Yohan pergi ke konser terus diminta ikutan main music, terus sekarang sudah terkenal banget dan tinggal di luar negeri... itu versi di tahun kedua"
"Versi ketiga... pas di konser, Kak Yohan melarikan diri sama ceweknya terus mereka udah berbahagia entah di mana. Versi Mama sih mereka ke Belanda karena banyak kejunya, kesukaan kak Yohan. Versi Kak Nana, mereka justru ke Italia biar Kak Yohan lihat cowok-cowok yang badannya bagus dan tergerak mengurangi berat badan."
"Kok banyak versi?" Bram kebingungan.
Yose nyengir. "Tahun ini Kak Bram boleh pilih versi kenapa Kak Yohan menghilang,"
"Versi?"
"Cerita. Boleh bikin cerita. Setiap tahun peringatan meninggalnya Kak Yohan, Mama ngusulin bikin cerita. Ini udah tradisi." Jose menjawab antusias. " Dua minggu lagi kan peringatannya kak Yo. Tanggal... em...."
"19." Bram menjawab muram. "19 Desember".
"Nah itu..." Jose mengiakan. "Kok Kak Bram tahu sih kapan Kak Yo meninggal?"
"Jose tahu Kak Yohan sudah meninggal?" tanya Bram.
"Tahu dong Kak. Dulu waktu Jose masih kecil sih enggak tahu. Kalau sekarang kan Yose udah gedhe ya wajarlah kalau tahu. Seumuran Jose sih udah ngerti tentang mati dan hidup, Kak. Kan diajarin di sekolah."
Bram merasa hatinya diremas-remas saat mendengar penuturan Jose, padahal penuturan itu begitu ringan seakan mereka bukan sedang membahas kerabat Jose. Bram teringat saat orang tuanya mengalami kecelakaan. Ia ingat masa-masa itu adalah saat terburuk dalam hidupnya. Sampai sekarang, terkadang Bram masih terbayang bagaimana kalau orang tuanya masih hidup. Bagaimana kalau mereka tidak pernah mengalami kecelakaan. Dan berbagai pertanyaan yang diawali dengan 'bagaimana kalau'.
"Jose kangen Kak Yohan?"
Jose angkat bahu. "Kadang. Tapi enggak sering. Yang sering tuh Kak Nana. Kata Mama, kak Nana pernah sampai masuk rumah sakit saking sedihnya."
Bram menelan ludah. Kata-kata Nana berputar di kepalanya.
Tapi pernah nggak sih kamu mikir dari sisi keluargaku? Gimana kami harus ketemu... tiap hari, bahkan tinggal seatap dengan kami, sama orang yang sudah bikin Kak Yohan nggak ada?
Saat ini, Bram mengubah pemikirannya. Ia pantas mendapatkan pukulan Gina. Ia tidak memikirkan perasaan Nana. Ia tidak memikirkan perasaan keluarga ini yang dengan murah hati menerimanya.
"Makanya Mama bilang enggak boleh bersedih terus menerus, soalnya itu sama aja penyakit," suara Jose masih mengalun dengan riang. "Terus juga cepet bikin keriput. Nah tuh, kayak Kak Bram sekarang... lama-lama dahinya penuh keriput kalau gitu terus."
Bram tersadar ia sedang mengerutkan keningnya dalam-dalam. Bram mencoba tersenyum. "terus Jose tadi ke sini mau ngapain?"
Jose menepuk jidatnya, seakan gemas dengan diri sendiri. "Sampai lupa deh... Mama bilang ada Opa yang mau telepon sama Kak Bram nanti malam jam 8."
"Opa?" tanya Bram.
Jose mengangguk. "Iya, Opa beneran. Yang kakek-kakak itu lho, Kak. Bukan yang cowok ganteng."
Bram menipiskan bibir berusaha tersenyum. "Thanks, Jose."
Akhirnya ia bisa meminta penjelasan pada kakeknya.
*
Maaf agak lama updatenya :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Jackson
Teen FictionPROSES REVISI Jackson, si penyanyi muda itu kalah bertaruh dengan opa-nya. Alhasil, di umurnya yang sudah menginjak angka 22 tahun, ia justru harus kembali ke bangku SMA. Cowok ini juga harus tinggal di sebuah keluarga yang tidak ia kenal. Keluarga...
