Lelah

2.8K 165 4
                                        

Kedekatan Erick dan Delia semakin intens, mereka sering menghabiskan waktu bersama di luar jam sekolah. Hal itu sedikit membantu Delia mengalihkan pikirannya.

Hari ini Erick mengajak Delia ke studio musik tempat bandnya biasa latihan. Di sana Delia menyaksikan mereka latihan sampai selesai. Kemudian Erick mengajak Delia ke kafe, ia sudah menyiapkan kejutan untuk Delia. Sesampainya mereka di kafe, Delia diam mematung karena itu adalah kafe tempat El bekerja dan Delia yakin El pasti ada di dalam.

"Rick, kita ke tempat lain aja yuk!" Ajak Delia, ia tak siap jika harus bertemu El.

"Gak bisa Del, gue udah kangen banget makan di sini. Lagian ini tempatnya asyik loh, gue bareng temen band gue sering ke sini. Lo mau yah, please..." bujuk Erick.

"Tapi gue pengen makan di tempat lain, lo inget kan kafe yang deket studio musik itu? Gue pengen makan di sana," ujar Delia alasan.

"Coba lo ngomong dari tadi, pasti gue ngajak lo ke sana."

"Sekarang juga gak apa-apa kok, belum terlalu malam ini."

"Gue tau, tapi gue lagi pengen banget makan di sini, udah lama banget gue gak ke sini gara-gara tour konser gue." Erick kembali mengatakan hal yang sama, "Kita masuk aja yah, please... Gue janji besok kita ke tempat yang lo mau."

Delia hanya bisa mengangguk pasrah, ia tidak punya lagi alasan  untuk menolak keinginan Erick. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berdo'a supaya tidak bertemu El di dalam.

Erick memilihkan meja di lantai atas, di dekat jendela dan terpisah dari pengunjung lainnya. Meja tersebut telah dihias sedemikian rupa. Tapi itu tidak sedikitpun menarik perhatian Delia, ia terlalu gelisah untuk sekedar memikirkan hal lain selain kemungkinan ia akan bertemu El kapan saja.

Erick sedang pergi ke toilet meninggalkan Delia sendirian yang tak hentinya melirik ke sekeliling memastikan El tidak ada di sekitarnya.

Seorang pria datang menghampiri Delia.

"Maaf, kamu putrinya Renata Gusman sosialita itu?" Tanya pria tersebut tiba-tiba.

Delia mengangguk, "Bagaimana anda tahu?"

"Saya pernah melihat poto kamu di dompetnya Renata."

"Apa anda mengenal ibu saya? Apa hubungan anda dengan ibu saya?" Tanya Delia beruntun, ia mulai curiga dengan kedekatan antara pria di depannya dengan sang Mama sampai pria itu bisa mengetahui isi dompet Mamanya.

"Saya hanya mengenal ibu kamu karena saya pernah menawarinya untuk menjadi model di agensi saya."

"Maaf Pak, jika hubungan kalian hanya sebatas itu tidak mungkin Anda bisa melihat isi dompet ibu saya," ujar Delia sedikit emosi hampir saja melupakan tata krama saat bicara dengan yang lebih tua.

Bukannya tersinggung, pria tersebut justru malah terkekeh membuat Delia semakin kesal.

"Itu suatu kebetulan, saya menemukan dompetnya terjatuh di hotel dan saat saya lihat isinya ada poto Renata Gusman bersama keluarganya termasuk kamu. Saya menelpon nomor yang ada di kartu namanya, lalu kami bertemu. Saat itulah saya menawarinya menjadi model di agensi kami, tapi sayang sekali dia menolak," jelas pria itu membuat Delia terdiam mencerna kebenarannya.

"Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, dan kebetulan tadi saya melihat kamu. Kamu terlihat lebih dewasa dari pada yang di poto, tapi kecantikan kamu tetep sama seperti ibu kamu."

"Terimakasih," ucap Delia mendengar pujian pria tersebut.

"Saya sampai lupa mengenalkan diri." Pria tersebut mengulurkan tangannya ke arah Delia, "Saya Arga dari agensi model."

The MostTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang