El dan Delia berhenti di depan sebuah rumah sederhana, dengan baju yang sedikit basah kena hujan meski tak sampai basah kuyup.
"Assalamu'alaikum!" El mengucapkan salam cukup keras, sampai terdengar suara orang berlari dari arah dalam.
"Wa'alaikumsalam," balas suara dari dalam diikuti dengan pintu terbuka memunculkan sosok gadis mungil yang manis khas gadis desa atau lebih tepatnya kembang desa. Gadis tersebut langsung tersenyum lebar saat melihat El.
"El, kamu!" Pekiknya senang. "Kapan kesini? Udah dua tahun baru mampir lagi, kemana aja?" ujar gadis itu mendekati El.
"Makin ganteng aja kamu, gak heran ceweknya secantik ini." Pandangan gadis itu beralih pada Delia lalu tersenyum manis.
Delia dan El hanya menatap gadis yang mungkin lebih muda dari mereka, dengan perut yang lebih besar dari normalnya.
"Ini apa?" Tanya El menunjuk perut gadis itu.
"Perut," jawabnya ketus.
"Lo hutang penjelasan sama gue," kata El penuh penekanan menggunakan kata lo-gue.
"Kamu juga hutang penjelasan sama saya." Si gadis menunjuk Delia dengan ujung matanya. "Udah ah buruan masuk, di luar dingin."
Si gadis masuk ke dalam diikuti El dan Delia yang masih terbengong-bengong.
Si gadis pergi ke dapur untuk menyediakan minuman, meninggalkan El dan Delia di ruang tamu.
"Itu teman kamu El?"
"Iya."
"Udah nikah?"
El menggeleng, "Gak tahu."
"Itu udah hamil gede, masa kamu gak tahu katanya temannya."
"Kami emang masih sering tukeran kabar, tapi dia gak pernah cerita," kata El kesal,
"Tapi dia keliatan masih muda."
"Seusiamu," jawab El. "Nah itu dia."
Si gadis muncul dengan nampan di tangannya, meletakkan dua gelas teh panas yang masih mengepul di atas meja.
"Maaf, adanya cuma teh," ucap si gadis sambil duduk di kursi dengan sedikit kepayahan karena perutnya yang besar sedangkan tubuhnya sangat mungil.
"Atau kamu mau kopi?" Tawar gadis itu pada Delia.
Delia menggeleng sambil tersenyum, "Gak perlu, makasih ini cukup."
"Jadi El, kapan kamu datang? Dan kapan kamu akan mengenalkanku pada gadismu." Berondong gadis itu.
"Aku datang tadi malam, dan ini Delia temanku," tutur El.
"Hanya teman?"
"Del, ini Dhifa temanku sejak kecil." El mengenalkan gadis itu pada Delia tanpa memperdulikan pertanyaan gadis benama Dhifa itu.
"Aku Delia."
"Dhifa."
Mereka berjabat tangan sambil mengucapkan nama masing-masing.
"Jadi ini yang namanya Delia," batin Dhifa, memandangi Delia dengan senyum misterius, ia beralih memandang El dengan cara yang sama tapi pria itu tak menghiraukan.
"Tugasku selesai, sekarang giliranmu," ucap El tegas.
"Oohh, kamu pasti nanyain Bapak. Bapak masih di kebun, belum pulang. Tenang aja, bentar lagi juga pulang kok. Oh ya, gimana kabar Kak Eve?"
"Kak Eve baik."
"Aku kangen sama Kak Eve, dia gak pernah main kesini lagi sejak kembali ke Jakarta."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Most
TienerfictieArdelia Putri Wijaya, cewek populer di sekolah yang digilai para cowok di SMA Teratai. Karena kepopulerannya itu ia membuat sebuah tantangan untuk dirinya sendiri. Selama ia menjadi siswi di SMA Teratai, Ardelia harus berpacaran dengan sepuluh dari...
