Lima belas menit berlalu dari waktu yang telah dijanjikan, tapi si pembuat janji belum juga terlihat batang hidungnya.
"Kenapa?" Tanya Sarah pada Delia yang kembali melakukan gerakan duduk berdiri berkali-kali.
"Kalau lo gak yakin, kita balik aja!" Lanjut Sarah.
Delia menggeleng dan kembali duduk. "Kita tunggu lima menit lagi."
Sarah mengedikkan kedua bahunya pasrah dengan keputusan Delia. Walau sebenarnya ia juga merasakan kegelisahan yang dialami Delia saat ini. Bukan hal mudah bagi Delia datang ke tempat ini setelah apa yang dialaminya. Sarah tahu, trauma itu masih ada dalam diri Delia. Itulah sebabnya Sarah langsung mengiyakan saat Delia memintanya untuk menemani Delia menemui si pembuat janji di restoran cepat saji.
"Del, lo yakin ini bukan jebakan?" Tanya Sarah.
"Gue sendiri gak yakin, tapi gue pengen banget ketemu mereka dan nyelesain semua ketidak nyamanan ini. Siapa tahu aja ini beneran mereka, jadi lo mau kan besok nemenin gue?"
"Pasti, gue bakal nemenin lo." Sarah mengiyakan tanpa ragu.
Itulah obrolan mereka kemarin sesaat setelah Delia mendapat pesan dari si pembuat janji.
"Gue pesen minum dulu, minuman gue udah habis." Sarah menunjuk gelasnya yang sudah kosong. "Gue tinggal sebentar gak apa-apa kan?"
Bukannya mengangguk atau menggeleng, Delia justru malah menegang dengan pandangan lurus ke depan tepat di belakang Sarah.
"Del lo kenapa?" Tanya Sarah.
Karena tak ada jawaban, Sarah akhirnya memutar tubuhnya untuk mengikuti arah pandang Delia.
Dari kejauhan terlihat dua orang gadis berjalan ke arah mereka.
"Itu mereka," ucap Delia pelan.
Mora dan Silva berjalan mendekat. Berdiri berdempetan saat sampai di depan Delia. Keduanya tampak saling sikut sampai akhirnya Silva menyapa duluan.
"Hai!"
Sapaan canggung untuk teman yang dulunya sangatlah akrab.
"Hai!" Delia balas menyapa.
Berbeda dengan Mora yang sedikit tertunduk menghindari tatapan Delia.
"Kalian duduk aja, biar gue pesenin minum." Sarah berlalu meninggalkan mereka bertiga.
Sedangkan Silva dan Mora duduk bersampingan.
Tak ada perbincangan lebih di antara mereka bertiga selain bertegur sapa dan menanyakan kabar, bahkan sampai Sarah datang kembali membawa senampan minuman dan makanan ringan.
Setelah membagikan jatah minuman, Sarah duduk di kursi samping Delia.
"Ayo diminum!" Sarah berusaha memecah kecanggungan mereka.
Tanpa mengatakan apapun Mora dan Silva langsung menyeruput milkshake milik masing-masing, entah karena kehausan atau hanya untuk menyembunyikan rasa gugup.
"Jadi, apa tujuan kalian meminta Delia datang kesini?" Tanya Sarah langsung ke inti masalah karena sudah tidak nyaman dengan kebisuan yang ada.
Bukannya menjawab, Silva maupun Mora hanya bertukar pandang.
"Kalian mungkin keberatan dengan keberadaan gue, tapi gue gak akan pergi kemana-mana." Sarah bersikap protektif terhadap Delia karena masih tidak bisa mempercayai teman-temannya.
"Jadi, katakan apapun yang ingin kalian katakan sebelum kita bosan melihat kebisuan kalian," ujar Sarah sarkastik.
"Kita gak masalah sama sekali dengan keberadaan lo." Silva mulai pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Most
Teen FictionArdelia Putri Wijaya, cewek populer di sekolah yang digilai para cowok di SMA Teratai. Karena kepopulerannya itu ia membuat sebuah tantangan untuk dirinya sendiri. Selama ia menjadi siswi di SMA Teratai, Ardelia harus berpacaran dengan sepuluh dari...
