A Confusing Day

4.8K 397 2
                                        

haha...bisa ngapdet colongan juga. Ini mepet banget ngeditnya, jd ya..gitu deh :D

Selamat menunggu waktu berbukaaa XD

Dave menoleh ke jok samping tempat kotak berisi black forest kesukaannya sekilas lalu kembali memandangi jalanan. Pagi itu, dia melewati salah satu toko bakeri dan tanpa sengaja melihat kue kesukaannya itu bertenger di salah satu etalasenya.

Mendadak, dia teringat Bela dan ingin memakannya bersama. Lantas dia membelinya dan berkendara ke RS tempat dimana Bela bekerja. Harusnya wanita itu sudah dirumah sakit setengah jam lagi.

Setelah bertemu dengan salah seorang suster yang Dave tahu asisten Bela, dia disuruh menunggu di ruangan wanita itu. Lantas Dave berjalan menaiki lift menuju lantai dimana ruangan Bela berada.

"Tama?" Dave menghentikan gerakan saat mau membuka pintu ruangan kekasihnya karena seseorang memanggilnya. Sesorang yang dia tahu siapa.

Pria itu menghela nafas sebelum menoleh. "Kamu beli kue dari toko itu?" tanya Sandra memperhatikan paper box ditangannya. Oh ya, tentu saja wanita itu masih ingat. Mereka cukup sering pergi kesana, dulu.

Karena Dave hanya diam, lantas Sandra lanjut bertanya. "Kamu—apa kabar?"

"Apa yang mau kamu katakan sebenarnya," ucapnya dingin mengabaikan pertanyaan wanita itu.

Sandra hanya memandanginya beberapa saat sebelum mengangguk. "Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, tentang—perjodohan kita,"

"Aku sudah mengurusnya. Kamu hanya perlu menolak dan mengatakan pada papamu. Dengan begitu tidak akan—"

"Bagaimana kalau aku...tidak ingin menolaknya?" Dave mengerjap bingung mendengar  ucapan Sandra.

Kebingungannya berubah kesal karena Sandra mengatakannya dengan tatapan yang sempat membuat sebagian hatinya mencair. Sebelum membeku karena wanita itu juga.

"Kenapa? Kamu ingin melanjutkan perjodohan karena ingin mengembangkan bisnis keluargamu?"

Sandra hanya menggeleng tanpa merubah tatapannya. "Perasaan itu—aku baru menyadari masih memilikinya. Aku—"

"Hentikan." Dave menunjuk bibir wanita itu dengan tatapan tajam.

Pria itu mengalihkan pandangan sambil menghela nafas kasar sebelum kembali menoleh. "Aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya,"

"Tapi kamu mendengarnya Tama. Aku..."

"HENTIKAN AKU BILANG!!" Sandra terdiam mendengar bentakan Dave.

"Setelah menyakiti dan memilih untuk meninggalkan seseorang, jangan coba-coba berpikir untuk kembali." Dave menggeleng dengan tatapan nanar. "Karena hanya luka yang orang itu rasakan."

Kemudian berbalik menghadap ke pintu ruangan Bela. Pria itu menarik nafas dalam-dalam berusaha meredam emosi seperti yang diajarkan Bela. Lalu menggantung paper box di pegangan pintu sebelum beranjak menuju lift. Sarapan black forest dengan Bela, batal.

Ketika sudah berjalan beberapa langkah Sandra mengejar dan menahan tangannya. "Tama please...aku akan menjelaskan semuanya kenapa aku memilih pergi saat itu. Dengan begitu akan bisa menyembuhkan luka kamu, aku..." Sandra menghentikan ucapan karena Dave meremas tangannya tanpa menoleh.

"Kamu tidak akan pernah tahu seperti apa lukanya." Dave tersenyum dengan keuda alis bertaut. "Bagaimana bisa penjelasan bisa menyembuhkannya, jika hanya kepergianmu yang aku inginkan?"

Dave memejam dengan kerutan alis yang dalam sebelum membuka mata kembali. Ekspresinya berubah lebih dingin.

"Seharusnya kita tidak pernah bertemu." Dave melepaskan tangan Sandra nyaris menghentaknya. Lalu segera berjalan memasuki lift tanpa menoleh sedikit pun.

My lovely PATIENTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang