My Lovely Shoes VS My Lovely Patient

7.6K 614 5
                                        

finally, bisa up-date setelah di hantui makalah dosen killer. senangnya, walaupun disuruh revisi. mudah-mudahan pada suka partnya ya, happy readiiing ^^

~~~

Berhasil menemukan klinik terdekat dari pantai, David menghentikan mobil dan segera keluar. Pria itu kembali menggendong Bela sepanjang jalan masuk klinik. Membuat Bela setengah terpaksa merapatkan kepala ke dada bidang pria itu menghindari tatapan beberapa orang yang berpapasan.

"Saya serius, bisa jalan sendiriiii!" Omelnya sambil berbisik untuk kesekian kalinya.

"Berisik. Kamu sendiri yang narik saya di pantai supaya gendong kamu kan" hah?? Bela nyaris menganga mendengarnya.

Tapi belum sempat protes, seorang suster menghampiri dan menyuruh mereka masuk ke ruang perawatan. Barulah David menurunkannya diatas ranjang kosong. Saat menarik tubuh menjauh, Bela merasa lehernya tertarik sesuatu. Owh crap! Kalung liontinnya tersangkut di kancing baju pria itu.

David mendecak melihat kancing bajunya sebelum melepaskan kalung Bela dengan menariknya. No! Jangan rusak kalung itu.

"Stoppp!!!" Seru Bela cepat, sekali lagi menahan tangan David.

"Jangan rusak kalung saya. Kancing baju kamu aja yang di lepas!" Katanya lagi mulai menarik kancing ketiga kemeja David.

"No! Kalau sampai copot penampilan saya semakin berantakan," ucap David menahan tangannya juga.

Bela memejam keki mengingat orang seperti David bisa memiliki kecemasan berlebihan pada penampilan. But wait, bukannya penampilan pria itu memang sudah berantakan? Lihat rambutnya yang acak-acakan karena angin pantai, dan celana plus sepatunya yang kuyup.

"Penampilan kamu udah terlanjur berantakan. Seharusnya nggak jadi masalah. Tapi jangan rusakin kalung saya!" Bela kembali berusaha menarik kancing David. Tapi pria itu seperti tidak mau kalah, sebelah tangannya menahan satu tangan Bela dan satu tangan lagi menggapai-gapai lehernya, Ya ampuuun!

"Stop!" Keduanya spontan menoleh mendengar teriakan seseorang.

"Tolong jangan buka-bukaan disini," lanjut orang yang ternyata suster yang tadi menyambut mereka. Excuse me?

"Buka-bukaan?" ulang David heran.

"Bapak sama ibu sadar kan, ini tempat umum?" kata suster itu lagi.

Bela yang melihat David masih diam memandang suster, lantas melihat kesempatannya. "Iya sus. Pacar saya memang nggak tahanan orangnya," ujar asal sebelum menyentak kancing David sampai copot.

Wanita itu mengacungkan kancing malang itu ke wajah David, lalu memasukkan ke saku kemejanya. Bela membetulkan letak kalungnya sambil tersenyum penuh kemenangan. David? Nggak usah di tanya, pria itu menatapnya seperti siap mencekik lehernya.

"Permisi. Saya obati pacarnya dulu Mas," kata suster muda itu. David bergeser tanpa melepaskan tatapannya.

Bela mengernyit saat suster menjahit lukanya. Bukan karena menahan sakit, tapi karena mata David yang tidak lepas memandanginya sejak tadi. Tidak ada ekspresi, pria itu hanya mengerjap sesekali tanpa melepaskan tatapan sampai suster selesai menutup lukanya. Masih dendam kali ya?

"Tolong angkat roknya mbak. Saya akan memberi suntikan supaya tidak infeksi," perhatiannya teralihkan mendengar suara suster. Bela melirik David. Pria itu sepertinya tidak berniat merubah posisi.

"Dan masnya bisa tunggu di luar," kata suster lagi mewakili perasaan Bela.

"Dia pacar saya. Seharusnya nggak jadi masalah, kan?" David mengulang ucapannya sambil mengangkat sebelah alis. Haha..what??!

My lovely PATIENTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang