Akhirnya minggu sibuk berakhir juga, kangen apdet. Jadi langsung cuss!!
"Selamat pagi pak Bara..." Sapa Bela berusaha tersenyum saat memasuki ruangan pasien mesumnya.
Ini hari kelima dia memeriksa pria itu. Bara menatapnya tidak bersahabat. Sepertinya pria itu masih kesal dengan pertemuan pertama mereka. Tatapannya langsung berubah was-was ketika Jeni masuk. Pasti mengira perawatnya membawa Rio.
"Kita bisa mulai pemeriksaan tanpa kucing kan?" Ucapnya sekaligus bertanya. Lebih tepatnya menekankan supaya Bara tidak macam-macam, jadi dia tidak perlu menggunakan kucingnya lagi.
Bara kembali menatapnya lalu memiringkan kepala untuk menyodorkan telinga tanpa melepaskan tatapan tidak bersahabatnya. Bela tersenyum, syukurlah pria itu menurut. Lalu mengeluarkan termometer digital dan memasukkannya ke telinga Bara.
Setelah menunjukkan hasilnya ke Jeni, Bela mengulurkan tangan. "Selanjutnya, denyut nadi." Katanya menarik sebelah tangan Bara. Dan menekankan jemari ke pergelangan tangan pria itu. Selain melalui alat pendeteksi jantung yang terpasang di jemari pasien, Bela memang selalu menggunakan cara manual untuk memeriksa pasiennya. Supaya datanya lebih akurat.
Bela sempat melihat tatapan Bara berubah tepat saat tangan lain pria itu menyambar tangannya, secepat itu juga dia melepaskan satu tangan untuk mengambil jarum suntik di sakunya. Ya, beberapa kali memeriksa Bara, dia memang siap sedia kalau pria itu mengulah.
"Berhenti." Bara mencengkeram tangannya yang di saku, dan menahan tangannya yang lain.
Bela mengerjap ketika tatapan mereka bertemu. Yang membuatnya heran, tidak ada tatapan mesum disana. Sorot mata pria itu datar tapi mengintimidasi. Kalau bukan dokternya, Bela pasti gugup karena merasa di pandangi seorang pria normal.
"Seperti kamu tidak memerlukan monster, saya juga tidak perlu suntikan dalam pemeriksaan."
Kedua alis Bela terangkat. "Oke Kalau begitu kamu bisa melepaskan tangan saya?" Tanyanya kemudian.
Bara memandangi tangan mereka dengan alis berkerut dan eskpresi tertekan. Seolah melepaskannya sangat sulit dilakukan. Oh, hiperseks-nya pasti.
"Apa sesulit itu?" pria itu menoleh.
"Apa tidak menyentuh lawan jenis sangat sulit dilakukan? Bahkan setelah...sampai saat ini?" Tadinya Bela ingin mengatakan 'setelah perawatan sampai pemasungan kakinya apa Bara tidak juga jera?'
Kerutan alisnya perlahan menghilang. "Tidak sesulit sebelumnya." Jawab Bara lalu menyandarkan punggung dan membawa tangan mereka ke pangkuan. "Aku hanya—perlu usaha keras untuk mengendalikannya. Atau menyerah dengan nafsu abnormal yang kalian sebut penyakit."
Bela menghela nafas melihat Bara kembali memandangi tangan mereka dengan eskpresi tertekan. "Tapi aku nggak akan menyerah." Bela mengernyit. "Karena aku tahu kamu mau menyembuhkanku." Mau?
Bara melepaskan satu tangannya. "Ketika aku berulah kamu tidak takut atau memandangku dengan jijik. Kamu bahkan bertanya untuk memberikanku kesempatan. Bukannya langsung menghakimi. Aku tahu itu sejak awal." Bara menggenggam satu tangannya dengan tatapan memohon. "Tolong—sembuhkan aku."
Senyum langsung mengembang diwajah Bela. Dia benar-benar bersyukur karena pasiennya sendiri yang ingin sembuh. Karena pengobatan akan berhasil saat pasien dan dokter bekerjasama.
Dan dikasus seperti 'Pasiennya', saat mereka punya kesadaran untuk sembuh, maka pengobatan hampir berhasil. Sebab ketika mereka sadar untuk sembuh, mereka sudah mendekati normal. Alhamdulillaah, Gumamnya sambil berpikir, sepertinya mulai sekarang dia bisa melepaskan pacungan kaki pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My lovely PATIENT
ChickLitQory Adisabela. Pskiater muda yang sedang menyelesaikan gelar Doctornya itu mendapat tugas akhir yang benar-benar tidak masuk akal, menurutnya. Yaitu menyembuhkan seorang CEO muda single dengan menjadi orang terdekatnya. Look the point, single d...
