hay-hay...akhirnya bisa update juga. bab ini setengah maksa buatnya karena senang yang minta lanjut nambah :D
Tapi ini dibuat waktu mood lagi kacau. semoga dapat feelingnya ya. happy reading~
Dave memperhatikan bangunan minimalis bercat abu-abu muda didepannya. Tadinya dia mau berangkat kerja. Tapi saat masuk mobil dia melihat paper bag berisi sepatu untuk Bela di jok belakang. Dia belum sempat memberikan sepatu itu karena Bela terlihat sibuk semalam. Jadi dia memutuskan menemui wanita itu pagi-pagi.
Tapi saat ke rumah sakit, wanita itu tidak ada. Salah satu perawat yang mengatakan kalau Bela tidak bekerja hari ini. Jadilah dia berdiri didepan pagar rumah wanita itu.
Beralih ke halaman samping, dia melihat seorang wanita sedang menjemur pakaian berdiri membelakanginya. Dave menyipitkan mata melihat kaki jenjang yang hanya mengenakan celana pendek sepaha dan kaus kebesaran di tubuh rampingnya.
Dari potongan rambutnya, Dave yakin itu Bela. Dan benar saja, saat wanita itu berbalik, mata mereka bertemu.
Bela buru-buru membetulkan posisi baju dan rambut sebelum menghampirinya.
"Hai?" Sapanya masih membetulkan poni lalu membuka pagar. "Ayo masuk," ajaknya bahkan tanpa menanyakan maksud kedatangannya.
Pria itu menggeleng. "Nggak usah. Saya cuma mau memberikan ini," katanya menyodorkan paper bag.
"Apa itu?" Tanya Bela melirik ke tangannya.
"Barang ganti rugi," Bela mengernyit. "Sepatu,"
"Oh..yaudah kamu tetap harus masuk kalau gitu," Sekarang giliran Dave yang menatap Bela dengan alis berkerut. "Aku nggak mungkin coba sepatunya disini, kan??" Jelasnya sebelum melanjutkan, "Kamu bilang ganti rugi. Aku nggak mau kalau ukuran sepatunya nggak cocok." Bela mengangkat bahu dan segera berbalik.
Dave memandangi punggung wanita itu dengan sebal, sebelum menghela nafas. Baiklah, biar urusannya selesai. Dia tidak suka lama-lama berurusan dengan wanita ceroboh.
*
Ini maksud pertemuan selanjutnya? Kenapa harus sekarang sih? Bukan cuma look bagian atas aku aja yang berantakan. Ini mah dari atas sampe bawah berantakan semua, mck!
Bela mengomel dalam hati sepanjang jalan menuju pintu depan. Dave mengikuti di belakangnya.
"Ayo masuk," katanya setelah membuka pintu.
Pria berjas hitam itu memandangi bagian dalam rumah Bela sambil melangkah masuk. Bela menutup pintu sebelum mendahului Dave.
Dia berjalan melewati ruang tamu sambil menatap was-was. Mudah-mudahan si orang utan masih ngebangkong. Dave bisa ilfeel kalau lihat peliharaan aku yang satu itu. Gumamnya mengingat ada Ira di rumahnya sekarang.
Bela terus berjalan membawa Dave ke ruang TV. karena ruang tamu beralih fungsi menjadi peralatan medis untuk pasien yang rawat jalan saat hari weekend.
"Duduk dulu disini." Bela menunjuk sofa ruang TV tapi matanya melongok ke dapur mencari keberadaan Ira, lalu ke pintu kamar gadis itu. Syukurlah pintunya masih tertutup rapat.
Bela beralih ke Dave. "Ayo duduk," suruhnya lagi karena pria itu masih berdiri memandanginya. "Hm-oke. Aku ganti baju dulu," katanya langsung beranjak saat pria itu mau membuka mulut. Nggak mungkin ngobrol sementara penampilannya nggak enak dilihat.
Bela memikirkan apa yang mau dibicarakan selama mengganti baju. Dia berniat harus mendapatkan sesuatu hari ini untuk analisanya. Apapun tentang Dave. Atau paling tidak, dia harus berhasil membuat mereka bertemu lagi setelah ini. Lima menit kemudian Bela keluar dengan dress biru lengan pendek selutut.
KAMU SEDANG MEMBACA
My lovely PATIENT
Chick-LitQory Adisabela. Pskiater muda yang sedang menyelesaikan gelar Doctornya itu mendapat tugas akhir yang benar-benar tidak masuk akal, menurutnya. Yaitu menyembuhkan seorang CEO muda single dengan menjadi orang terdekatnya. Look the point, single d...
