Selamat membaca....
"Ini profile pasien yang kita bicarakan. Semua hal mengenai pasien bisa kamu pelajari melalui ini," Bela hanya diam menatap file yang di sodorkan profesor Rima.
Wanita itu masih syok mendapat tugas dari seniornya untuk menangani seorang pasien dengan cara yang tidak biasa.
"Dokter Bela?" panggil profesor Rima.
Gadis itu menoleh. "Prof—profesor bercanda kan?"
Profesor Rima menghela nafas seraya menurunkan file pasien yang belum juga di terima bawahannya itu. "Apa saya terlihat bercanda?" tanyanya balik.
Bela diam memandangi profesornya. Kedua mata wanita berusia empat puluh tahunan itu balas menatapnya dengan serius. Jelas menunjukkan kalau dia tidak main-main. Dan sejauh yang Bela kenal, profesor Rima tidak bisa di bantah kalau sudah menatap begitu.
"Boleh saya pikirkan dulu prof?" tanyanya tetap berusaha meski tahu tidak berhasil.
"Boleh. Tapi kamu harus menunda pendidikan kamu dan melakukan penelitian dengan dana sendiri. Kamu mau?" oh sial. Profesor Rima memang paling mengerti dirinya.
Bela mengalihkan pandangan ke samping. Kalau saja dia punya orang tua kaya raya yang nggak bakalan habis tujuh turunan, dia pasti akan menolak mentah-mentah permintaan profesornya dan melakukan penelitian sendiri meski harus ke desa terpencil sekali pun, nggak masalah. Tapi kenyataan yang menyebalkan, dia harus berkerja untuk membiayai pendidikan dan hidupnya sendiri. Dan untuk membiayai penelitian lagi? Itu sulit. Ya Allah, dia harus bagaimana?
Bukan, dia bukan menolak tanpa alasan. Hanya saja, dari sekian banyak jenis penelitian yang bisa dilakukannya, profesor Rima malah menyuruhnya menjadi orang terdekat seorang CEO muda untuk menyembuhkan orang itu.
Memangnya dia Dokter cinta? Astaga, dia seorang Psikiter! Hal menyebalkan lainnya, titah profesornya itu adalah bagian dari tugas akhir untuk gelar Doktornya. Double, triple crap!!
*
Bela keluar dari ruangan profesor Rima sambil membawa profile pasien ditangan kirinya. Langkahnya terhenti begitu melihat keranjang sampah. Tanpa pikir panjang dia langsung melemparkan file menyebalkan itu dan beranjak malanjutkan langkah.
Tapi baru berjalan tiga langkah, dia kembali lagi mengambil file itu. Bela mendengus sambil mengibaskan ujung rambutnya yang dikucir kuda sebelum melanjutkan langkah. Dia berjalan ke ruangan Tami, satu-satunya sahabat yang juga bekerja dirumah sakit yang sama dengannya.
"Haha serius? Enak dong bisa kenalan sama cowok, tajir lagi," kata Tami tertawa setelah Bela selesai bercerita.
"Iya enak. Tapi lebih banyak payahnya. Ngedeketinnya aja belum tentu gampang. Belum lagi soal penyakitnya. Kalau iya aku berhasil nyembuhin. Kalau enggak?" Bela melepaskan jas dokternya dan nyaris meremas kain putih itu dengan kesal.
Tami mengangguk sekilas. "Iya sih susah, buat yang belum pernah punya hubungan sama sekali," Bela menatap keki mendengar ledekan Tami.
Tami menghentikan tawa sebelum mengatakan. "Tapi orang dewasa kan? Gampanglah, nanti aku bantu caranya. Kalau soal sembuh nggaknya, kita masih punya obat dan alat canggih kali,"
"Iya. Tapi aku masih nggak habis pikir. Profesor Rima kesambet apa bisa ngasih tugas akhir itu. Aku pikir dia cukup ngerti aku dan nggak menyulitkan. Tapi apa?" Bela menghela nafas kasar.
"Tapi coba lihat sisi positifnya deh. Kamu nggak perlu observasi untuk penelitian. Nggak perlu mikirin biaya penelitian. Malah di bayar lagi sama keluarga pasien. Bonus banget kan? apalagi coba yang sulit," tanya Rima menekan sesuatu di layar tab-nya. Wanita itu sedang memeriksa diagnosa pasien saat Bela menemuinya. Lagi-lagi soal biaya...
KAMU SEDANG MEMBACA
My lovely PATIENT
ChickLitQory Adisabela. Pskiater muda yang sedang menyelesaikan gelar Doctornya itu mendapat tugas akhir yang benar-benar tidak masuk akal, menurutnya. Yaitu menyembuhkan seorang CEO muda single dengan menjadi orang terdekatnya. Look the point, single d...
