Four

211 28 0
                                        


"Bang, gue mau skydiving lah. Ayo lah"

Dion menatap tajam adiknya. Bagaimana bisa Vamella mengajak nya melakukan hal itu, tetapi kan ia tau jika dirinya takut akan ketinggian.

"Ogah!" Balasnya mentah-mentah menolak. Vamella mencebikkan bibirnya lalu mendelik kesal.

"Lo gak tau kalo gue mau banget? Udah lama tau. Dan kapan gue bakal  skydiving kalo bukan sekarang? Emangnya daddy bakal ngizinin kalo kita udah balik rumah? Pasti engga bang. Lo gak ngertiin banget sih jadi abang" Cerocos nya panjang lebar.

Dion menghela nafasnya. "Ya udah boleh. Tapi gue tetep gak mau nemenin lo"

Vamella mendelik kesal. "Terus gue sendirian gitu? Andai aja ada mommy, lo emang gak pernah ngertiin adek lo yang cantik nya kayak Gigi Hadid ini ya?"

"Huekk" Dion bergaya layaknya sedang muntah. "Apaan sih lo pede amat jadi anak. Mendingan kita naik banana boat aja lebih seru lagian" Ujarnya seraya memandang pantai dari balkon  villa nya.

"Gak mau. Gue kan takut" Rengek Vamella. Mereka berbeda, Dion takut ketinggian sementara Vamella takut berurusan dengan air pantai ataupun laut.

"Sama gue aja"

Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu kaca yang menampakkan dua cowok. Lalu Marshall menyunggingkan senyum di bibirnya. "Pepettttt terus"

David menatap nya tajam. Lalu beralih pada kakak beradik yang memandang nya dengan seksama.

"Serasa jadi tersangka gini gue" Ucapnya. Dion bangkit dari duduk nya mendekati David lalu menepuk bahu nya berulang kali.

"Serius bro?" Tanya nya tak percaya. David mengedikkan bahu nya. "Terserah adek lo mau nya gimana."

"Dek, gimana?" Sebenarnya Vamella mau-mau saja karena ia ingin sekali melakukan nya. Meskipun tidak bersama abangnya, namun tak ada yang beda walau bersama David. Okelah

"Gue siap-siap dulu" Ujarnya lalu beranjak.
***

Vamella dan David sudah berada di antara awan-awan dan sebentar lagi akan terjun payung.  Berbagai alat sudah terpasang di tubuh mereka. Setelah di beri pengarahan, David berdiri di belakang Vamella, badan nya sangat dekat dengan gadis itu. Ya, mereka akan terjun bersama.

Dalam hitungan detik, mereka sudah melayang bebas di udara. Entah dorongan darimana yang membuat David memeluk gadis itu. Percis yang seperti ia lakukan tempo hari.

Vamella tersenyum saat tangan dari David melingkar di pinggang nya. Ia membawa go pro untuk merekam moment ini. Kedua nya sama-sama bergaya konyol di depan alat itu yang sudah mulai merekam.

David menumpukan wajahnya di bahu Vamella. Tersenyum manis  lalu mempererat peluknya. Dapat ia lihat dari samping, jika gadis itu sedang tersenyum menampakkan lesung pipi nya.

"Makasih ya Dav" Ujar Vamella dan melirik ke samping nya. Pandangan mereka bertemu, dengan cepat Vamella pejamkan mata nya. Menikmati suasana ini.

"Kalau lo ngerasa nyaman, kenapa harus di sembunyiin?"

Ah, rasanya jantung berdegub lebih kencang lagi. Perasaan nya entah bagaimana, tetapi ia senang bahkan sangat senang saat ini.

***

"Ngerasa gak kalo mereka itu deket banget?"

Dion menghela nafasnya lalu tertawa melihat ke arah Vamella dan David yang baru saja datang.

"Ssstt elah. Tuh orangnya mau kesini" Ia menyuruh Marshall diam saat yang mereka bicara kan kini sudah berada di hadapan nya.

"Bang, gue seneng banget hari ini" Vamella memeluk Dion dan berbicara sangat pelan di telinga abangnya. Tak lama, ia melerai peluknya, mengedipkan mata sebelah nya lalu ngacir masuk ke dalam villa.

Marshall mengernyit bingung karena gadis itu tampak bahagia. "Ayo lo ngaku Dav, abis ngapain lo sama dia. Sampe senyum senyum kek gitu"

"Apaan sih lo, ngaco" David menatap  teman nya sambil tersenyum geli.  Lalu melangkah kan kaki nya ke dalam meninggalkan kedua orang yang sedang di landa kebingungan.

"Bener dugaan lo Shall" Dion melongo. Marshall mengangguk setuju dengan mulut yang masih terbuka.

"Jadi kalah gue Di, gue kalah cepet dibanding tuh si kunyuk" Marshall memasang muka sedih. Sementara Dion menepuk punggung nya menyalurkan kekuatan tanpa bicara apa-apa.

***

Vamella tertawa sendiri begitu melihat rekaman video dari kamera go pro nya. Di tatap nya kedua wajah orang yang ada di dalam video itu.

Ia tertawa lalu lompat-lompat kegirangan di ranjang. Berteriak histeris, lalu tertawa. Terdiam, lalu tertawa lagi. Begitu lah ia jika sedang dalam keadaan bahagia.

Ia menyambar ponsel di nakas lalu di tempelkan ke telinga saat mendengar ponsel itu berdering.

"Vamella, gimana keadaan kamu? Asik kan pasti liburan nya?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Carra.

"Yes mom, asik banget. Dan mom tau? Mella lagi bahagia banget ma hari ini" Vamella belum berhenti dari aksi nya, melompat-lompat.

"Anak gadis mommy ini kenapa? Kayak nya lagi bahagia banget. Right?"

Vamella mengangguk kuat meskipun ia tahu, Carra tidak melihatnya. "Yes, yes, yes, mommy" Ujarnya begitu girang.

"Ko mommy ngerasa ada yang jatuh cinta ya, siapa itu ya?"

Vamella terdiam, ketika mendengar kalimat 'Jatuh cinta' dari Carra. Apa benar ia sedang merasakan jatuh cinta seperti apa yang di katakan Carra? Namun ia menepis hal itu.

"Nggak! Siapa lagi yang jatuh cinta" Ujarnya ketus. Dan duduk di tepian ranjang, mengehentikan aksi nya.

"Emh, ngambek nih" Goda Carra.

"Apa sih mom, sebenarnya mom nelpon itu tujuan nya apa, ada yang penting kah?" Tanya Vamella.

"Engga ko Mella, mommy cuma ingin tau gimana keadaan kamu sekarang. Eh iya, abangmu itu baik-baik aja kan? Mommy telpon, ga aktif hp nya"

"Baik ko mom, ga ada masalah sama dia. Palingan lagi ga pegang hp" Jawabnya.

"Ya sudah, mommy tutup telpon nya ya. Inget, kalau punya pacar kasih tau mommy"

"Mom udah deh gausah godain Mella gitu. Udah ah, Mella matiin ya. Bye mommy kesayangan" Balasnya, lalu mematikan sambungan telpon nya.

***

Hope you like it❤


My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang