Forty Six

41 4 0
                                        

"Mell bangun nak"

Vamella menggeliat di atas ranjang nya yang nyaman. Ia mengusap matanya yang baru saja terbangun.

Carra mengelus rambut Vamella. "Kamu baik baik aja?"

Vamella hanya mengangguk. Tubuh nya memang tidak apa apa, namun hatinya mengapa terasa sakit sekali?

"Dion.."

"Iya Mommy udah tau semuanya, Mell. Kenapa kamu ga bilang sama Mom?" Tanya Carra sambil merapihkan rambut Vamella yang berantakan.

Vamella menggeleng lemah. Ia sendiri pun kecewa dengan Carra dan Raphael. Mengapa mereka tega membohonginya? Kalau mereka ingin menyembunyikan sesuatu, sembunyikan sampai akhir jangan sampai ketahuan agar rasa sakit dan kekacauan ini tidak hadir dalam keluarga mereka.

Mengapa mereka ceroboh sekali dengan album foto itu?

"Mom, bisa keluar dulu? Vamella ingin sendiri" Vamella membalikkan badannya, enggan untuk melihat Carra untuk sementara waktu. Ia kecewa terhadap semuanya.

Carra mengangguk lemah, ia meninggalkan putri nya terbaring.

Vamella menutup wajahnya, rupanya setelah ia bangun tidak ada sesuatu yang menjadi lebih baik.

Ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan dari David seperti waktu dulu. Namun tidak. David tak mengirimnya pesan apapun.

Gadis itu bangun, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya dengan David malam kemarin.

Apa terjadi sesuatu setelah ia tertidur? Apakah kemarin David melakukan hal itu untuk meninggalkan nya kembali?

Tak ada sesuatu yang menjadi lebih baik. Dion tetap tidak pulang, keluarganya semakin renggang, David tidak ada untuknya.

Ia menghela nafasnya. Setelah David mengatakan semuanya kemarin, akankah dia kembali bersamanya atau kembali masing masing.

Vamella menangis, David sudah menyelematkannya dari cowok yang tak tahu diri itu. Ia ingin berterimakasih, sangat sangat berterimakasih.

Jika David akan pergi, sakitilah sampai akhir hingga benci itu tetap menjadi benci. Tidak seperti kemarin, perasaan itu kembali hadir.

"VAMELLAAA"

Gadis yang disebut namanya itu langsung mendongak ke arah pintu, disana berdirilah seorang cowok tinggi dengan nafas nya yang tidak teratur.

"Heh lo ga tau malu banget main masuk kamar cewe aja!" Vamella berdiri dan mendorong cowok itu keluar dari kamarnya.

Marshall mengangguk angguk bersalah, lalu keduanya berjalan menuju ruang tengah. "Mell, denger gue baik baik"

"Iya, kenapa sih?" Vamella penasaran.

"David."

"Kenapa David?"

"Dia pergi"

"Kemana Shall?!"

"Spanyol"

"SPANYOL?!"

Vamella menatap Marshall tak percaya, David pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu nya sama sekali?

Marshall mengangguk kuat. "Tapi, dia pernah bilang ga akan kuliah disana"

"Iya emang" Marshall membenarkan perkataan Vamella. David memang tidak akan kuliah di sana. Ia sudah diterima di universitas ternama di Jakarta.

"Terus kenapa dia kesana?"

"Gue juga ga tau kenapa tiba tiba dia kesana. Gue juga baru pulang dari Padang dan langsung dapet kabar David ke Spanyol." Marshall menepuk bahu Vamella, seakan menyalurkan ketenangan untuknya.

"Shall, Dion belum ketemu" Vamella menangis lagi. Kedua cowok yang ia sayangi kini tidak ada bersama nya. Dion entah kemana, dan David seakan pergi jauh darinya.

Marshall mengusap punggung Vamella, "Maafin gue ya Mell. Disaat kayak gini gue malah pergi."

"Ngga, lo ga salah apa apa ga perlu minta maaf" Vamella mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Gue janji, gue bakal temuin Dion" Marshall berusaha tersenyum.

Vamella mengangguk lemah. "Gue ngerasa hidup gue udah hancur Shall. Keluarga gue makin jauh, gue ga tau Dion dimana. Dan David ninggalin gue lagi."

"Lo baik baik aja kan?"

"Hmm?"

"Gue denger lo kemarin ke club" Marshall bertanya. Ia dapat kabar dari teman temannya yang kemarin ikut bersama David.

Vamella menunduk. "Tolong jangan bahas itu lagi Shall. Gue malu."

"Oh iya, maaf"

"Ya udah gue balik ya Mell? Gue bukan ingin nambahin beban lo. Tapi gue cuma pengen lo tau tentang David" Marshall berdiri.

Vamella mengangguk. "Makasih Shall. Gue baik baik aja ko"

Marshall tersenyum lantas mengusap puncak rambut Vamella. Ia pergi dari rumah itu.

Gadis itu mengambil ponsel nya, menelepon David. Namun tidak tersambung, ia bingung apakah nomor David telah ganti?

Sebegitunyakah David meninggalkan dirinya? Bahkan belum sempat Vamella mengucapkan salam perpisahan?

Hancur.

Hanya itu yang Vamella rasakan sekarang. Ia ingin tidak peduli apa apa lagi. Namun tidak bisa.

Gue harus ke Spanyol.

***

"Sylla, gue udah nyampe"

Gue kesini karena Sylla, gue kesini karena kangen lingkungan tempat gue sekolah dulu, gue kesini karena ingin nonton Barcelona, gue kesini karena itu.

Vamella meninjakkan kaki nya ke kota Barcelona, Spanyol. Entah mengapa ia sekarang berdiri disini? Apa yang membawa nya kesini? Ya karena perkataan dalam hatinya tadi.

Ia menghela nafasnya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sekarang ada disini hanya karena alasan tadi, bukan David.

"Vamellaaaa" Sylla yang merupakan temannya disini berlari ke arah nya dan memeluk dengan erat.

"Hola?" Sapa Vamella.

"Ah apaan sih?!" Sylla menepuk bahu Vamella.

Gadis itu terkekeh. "Takutnya lo udah ga bisa bahasa Indonesia lagi"

"Mana mungkin?" Sylla mendelik. Lalu menarik Vamella, "Yu, lo pasti cape"

Vamella mengangguk kuat.

David, kalau disini aku ketemu kamu. Tolong, jangan buat aku menyesal. Dav, bagaimana pun kamu buat aku kecewa, aku selalu sayang kamu. Tapi, sekarang aku putuskan buat lupain kamu. Tapi aku juga gatau kenapa aku malah kesini.

***

HELLO.

Makasih udah baca MBMR

ikutin terus ya kisah David dan Vamella


My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang