Forty two

54 6 1
                                        

"Udah udah sayang jangan nangis mulu" Carra mengusap kepala gadisnya. "Ga apa apa, jangan terlalu dipikirin. Sayang loh air mata nya. Kamu nangis kayak gini ga akan buat David balik sama kamu kan?"

Vamella masih terisak. "Bukannya dipikirin, tapi emang kepikiran mom. Aku tuh sayang banget sama dia"

"Kamu sayang sama Mommy ga?"

"Sayang"

"Mommy juga" Carra menatap mata Vamella. "Kamu sayang Daddy, abang kamu, Nichole, Karin, Marshall, dan temen temen kamu semua kan?"

"Iyaa"

"Itu berarti masih banyak yang kamu sayang dan sayang kamu. Jangan hilang harapan hanya karena kamu kehilangan satu orang yang kamu sayang" Jelas Carra. Ia pernah berada di posisi Vamella. Ditinggalkan dalam keadaan tak ingin ditinggal.

Vamella berhenti sejenak. Untuk alasan apapun perkataan ibu nya sangat benar. Ia hanya kehilangan satu orang pada saat bahkan ia memiliki seribu orang untuk ia sayangi.

"Makasih Mom" Katanya seraya memeluk wanita yang diwajahnya mulai ada garis garis halus.

Carra tersenyum lalu mengecup puncak kepala Vamella. "Mommy ke ruang kerja dulu ya, kamu tidur ya sayang"

"Iya mom"

Vamella menarik selimut yang ada di kamar Ibu nya. Ia memejamkan matanya, berharap David akan segera pergi dari pikirannya. Namun dalam hitungan detik pintu kembali terbuka.

"Ngapain lo masuk sih, bang?!"

Dion melempar tas nya ke sembarang arah. "Ceritain lagi gimana dia putusin lo!"

"Ya Allah buat apa?! Malah bikin nyesek tau ga?" Vamella mendelikkan mata nya yang basah karena air mata.

"Gue dari dulu berusaha buat ga bikin lo nangis, gue pengen lo bahagia, gue pengen lo seneng. Tapi, dia yang baru aja dateng ke hidup lo dan malah buat lo kayak gini!" Dion duduk di sebelah adiknya. Ia merasa gagal menjadi seorang kakak. Ini memang bukan salahnya, tapi ia merasa ia tidak becus dalam menjaga adik satu satunya itu.

"Udah bang, gapapa." Vamella bangun dan memeluk abangnya. "Makasih banget lo selama ini udah jadi abang yang baik buat gue. Gue sayang lo. Masih banyak yang gue sayang dan sayang sama gue. Kehilangan satu orang gaakan bikin gue hancur"

"Halah sok banget sih lo. Dari kemarin nangis juga! Awas loh kalo sampe nilai PAT jelek gara gara masalah ini" Ujar Dion. Selama PAT kemarin, Vamella tidak fokus dalam belajar. Ia hanya mengandalkan otak nya yang pas pasan.

Vamella terkekeh. "Kalem bang, kicepin guru nya satu satu"

"Bajeng!"

"Eh kasal"

Dion tertawa seraya mengelus kepala Vamella. Setelahnya ia bangun untuk mengambil kacamata milik Raphael. Seketika matanya melihat album foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Mell, lo udah pernah liat ini belum?"

"Woo, belum tuh. Kan cuma liat yang warnanya putih" Ujar Vamella.

Dion mengangkat alisnya. "Foto foto Dad sama Mom pas lagi zaman pacaran nih kayaknya, yang masih alay. Jadi ga diliatin ke kita"

Gadis yang telah kering air matanya itu tertawa, "Ahahaa coba bang liat"

Keduanya membuka album foto itu dengan seksama. Ada foto Carra yang masih muda dengan rambut yang dikucir, foto Raphael yang terlihat tampan dengan setelan kemeja biru tua yang elegan. Foto berikutnya adalah foto Carra dan Raphael yang tampak sedang menghadiri pesta.

My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang