Fourteen

139 15 2
                                        

"Lo yakin dia gapernah hubungin lo?"

Sebenarnya Vamella ingin memberi tahu kakaknya jikalau seseorang yang ia tunggu sudah kembali ke Indonesia. Namun ia terlanjur berjanji pada seseorang itu untuk diam tanpa bisa menjelaskan semuanya.

"Jangan bohong bege" Dion menatap tajam adiknya yang memasang tampang polos.

"Gu-gue gak bohong" Jawab Vamella sembari mencomot keripik kentang digenggaman kakaknya. Kemudian pandangan nya beralih pada televisi yang sedang menayangkan film horror. Sebenarnya Vamella sangat tak menyukai film seperti ini yang hanya bisa membuat ia merinding ketakutan. Namun untuk saat ini, ia memberanikan diri karena penasaran dengan jalan cerita film ini yang menurutnya beda.

"Awas aja kalo sampe lo bohong Mell, habis lo sama gue" Dion kembali serius menonton film, dengan tangan nya yang ia rangkulkan kepundak Vamella membuat gadis itu menyandarkan kepalanya ke tubuhnya.

Mereka terlarut dalam menonton film dengan Vamella yang sesekali teriak karena adegan seram disertai suara yang bergemuruh. Kalau film horror tanpa suara yang menggelegar pasti tak akan membuat takut para penontonnya kan? Apalagi Dion mematikan lampu ruangan itu agar terasa kesan menyeramkannya.

Vamella mendekatkan dirinya ke Dion saat merasa ada yang mencolek nya dari belakang. Rupanya Dion juga merasakan hal yang sama dan langsung merekatkan rangkulan nya pada Vamella.

"Bang.." Gumam Vamella dengan nada sekecil mungkin.

"Gue juga ngerasa Mell" Dion menarik selimut yang tadinya cuman membalut kaki sekarang sudah sampai leher. Ia berpikir siapa yang mencolek nya itu? Carra dan Raphael sedang berada di Jerman untuk mengurusi perusahaan nya. Sementara Mbak Lastri sudah pulang sejak sore tadi, lalu siapa?

"Bang.. Gue takut" Vamella memejamkan matanya tepat saat merasa ada yang mengusap punggung nya dengan halus. Ia bergidik ngeri, kalau saja saklar lampu itu berada disampingnya mungkin sudah ia nyalakan sedari tadi. Namun sial, saklar lampu itu berada dibelakangnya yang pasti mengharuskan nya berjalan beberapa langkah untuk menyalakannya.

Detik selanjutnya adalah bunyi pintu yang ditutup sangat keras seperti dibanting membuat Vamella dan Dion melonjak kaget dan teriak histeris.

"SIAPA LO ANJIS?" Ujar Dion dengan murka. Kalau misalkan hantu ya gapapa, itu sudah biasa baginya. Namun jika ini semua adalah ulah dari tangan manusia yang tidak ia kenal bagaimana? Ataupun para maling yang menyelindap masuk kedalam rumahnya, belum lagi jika maling itu akan melakukan macam macam pada dia dan adiknya, itu lebih membahayakan dibanding diganggu oleh hantu.

Kemudian semua lampu rumah itu menyala dan dilanjuti dengan suara orang tertawa dengan ngakaknya. Dion menoleh kebelakang, ia terbelalak kaget saat melihat kedua temannya yang sedang memegang perut karena tertawa.

"Bangsat kalian berdua, emang bener-bener taik, bener-bener anjing, bener-bener kurang ajar" Umpat Dion seraya menghampiri David dan Marshall yang masih tertawa. Ia memukuli kedua temannya tanpa ampun, bisa-bisa nya mereka menakuti nya dan Vamella bertepatan dengan rumah yang dalam keadaan sepi.

Vamella masih terpaku ditempat. Ia berdiri, rambut panjang nya ia gerai hingga menutupi sebagian wajahnya. Kemudian dengan kepala yang menunduk, ia berjalan lambat mendekati David, Marshall, dan Dion.

Ketiga lelaki itu saling memandang sebelum kemudian perlahan berjalan mundur hingga punggung mereka bertubrukan dengan tembok.

"Di, adek lo kenapa?" Tanya Marshall yang sudah mulai berkeringat melihat Vamella berjalan satu langkah satu langkah dengan rambut yang membuat ia menyeramkan, apalagi saat ini Vamella sedang memakai kemeja putih panjang menutupi lututnya yang tak memakai celana lagi.

My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang