"Welcome back in your home, my princess"
Vamella benar-benar menangis. Bukan karena sedih melainkan bahagia juga terharu. Rasanya, ia merasa terbang dengan jutaan burung yang akan membawa nya berkeliling dunia.
"Thank you so much" Ia berhambur ke pelukan abangnya. Bagaimana tidak? Vamella di sambut dengan kejutan yang sangat luar biasa dari abangnya itu.
"Abang kangen lo, dek. I miss you're laugh. Don't leave me again, my little princess" Dion membenamkan wajahnya di lekukan leher gadis kecil nya itu. Sementara Carra -Mommy- dan Raphael -Daddy- nya hanya tersenyum haru.
"Mom Dad, see? Dia rindu pada Mella" Ujarnya sedikit berteriak. Carra mengelus rambut Vamella halus dan kemudian mengusap kepala Dion.
"Sudah pasti ia akan rindu padamu. Rindu bertengkar" Carra terkekeh dengan perkataan nya sendiri. Ia memandang Dion yang kini menatap nya juga. Tersirat banyak rindu dari dalam mata mereka.
"MOMMY," Dion telah memeluk Carra, sebelum wanita paruh baya itu berbicara kepada nya. "Mom, Dion sangat sangat merindukan ocehan mom, senyum mom, dan itu gak ada selama tiga tahun"
Carra mengusap berulang kali punggung anak tertua nya. "Dan sekarang, kita akan tinggal bersama sama lagi Di. Mommy janji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi sendiri di rumah ini"
"Daddy," Dion yang telah melerai peluknya, kini tengah melihat Raphael yang diam saja dan dengan wajah dingin nya.
Tiba-tiba Raphael merentangkan kedua tangan nya sembari tersenyum lebar sebagai tanda jika Dion bebas untuk memeluk dirinya. "Anak lelaki kesayangan Daddy"
"Vamella, c'mon" Setelah puas melepas rindu dengan kedua orang tercinta nya kini ia kembali menaruh perhatian nya pada Vamella dan mengajak gadis itu ke dalam kamar nya.
"Wow" Decak kagum terlontar begitu saja dari dalam mulut Vamella. Kamar nya kini begitu indah dan pasti membuat ia nyaman berada disini. Ia melangkah dan mendekati rak buku besar yang berisikan novel novel di sana.
Vamella melihat satu-satu novel yang ada. Bibirnya tak henti merekahkan senyum bahagia. Ia merasa sangat beruntung mempunyai abang yang sangat sayang padanya.
"I love you" Ia mengecup pipi Dion sekilas.
"Ini udah malem. Lo mandi, istirahat ya sayang" Dion mengusap rambut adiknya.
"Okay" Sahut Vamella. Cewek itu mengiyakan perintah Dion. Lagipula sekarang memang ia perlu mengguyur badan nya yang terasa lengket.
"Badan lo udah bau" Ledek Dion sambil berjalan keluar dari kamar Vamella.
Mendengar itu Vamella mendelik kesal, baru saja ia pulang sudah diledek. Tanda tanda mereka tidak akan akur.
***
Sejak pagi sekali, Vamella sudah siap dengan training dan jersey berwarna putihnya. Sekarang hari Minggu, dan ia gunakan untuk mengikuti kegiatan car free day di sekitar jalan Sudirman-Thamrin.
"Udah siap aja?" Vamella menoleh ke arah pintu kamar saat abangnya yang menyelonong masuk tanpa salam.
Dion memperhatikan jersey yang di pakai adiknya. Ia memicingkan mata saat sadar jika itu adalah jersey miliknya.
"Eh itu kan jersey punya gue" Ujarnya tanpa menghilangkan tatapan tajam untuk adiknya yang selalu saja mencuri jersey nya.
Vamella memang kebiasaan mencuri jersey abangnya tengah malam. Sebenarnya, ia bisa saja untuk membeli tetapi itu tidak pernah di lakukan nya. Dengan alasan uang nya lebih baik ia gunakan untuk membeli novel.
"Biarin dong bang. Tiga taun gue gak pake punya lo, kan sedih-sedih gimana gitu" Jawab Vamella santai sembari mengucir rambutnya tinggi.
"Lah alasan doang lo. Bilang aja gak mampu beli" Ledek Dion seraya menjulurkan lidahnya.
"Enak aja lo" Vamella melempar sisir nya, dan lemparan nya tepat sasaran. Sisirnya berhasil mendarat di wajah Dion membuat cowok itu mendengus kesal.
"Dasar adik gatau diri! Udah nyolong, lempar sisir pula. Lo tuh harusnya berterima kasih ke abang lo ini yang baik hati dan rela barang-barang nya colong. Eh lo malah ga so-" Belum sempat Dion menyelesaikan perkataan nya, Vamella sudah menarik lengan Dion keluar kamar.
"Jangan ngomong mulu. Ayo berangkat" Ujar Vamella yang masih menarik lengan Dion hingga sampai di lantai satu.
"Eh itu abang nya ko di tarik tarik gitu?" Tanya Carra yang sedang menuangkan air panas kedalam gelas berisi kopi.
Vamella menyengir kuda. "Dia lama mom, yaudah kita berangkat dulu ya" Ujarnya seraya menyalami Carra, sama hal nya dengan Dion yang masih memasang tampang kesal.
"Anak mom tuh ga sopan amat ke abang sendiri" Adu Dion seraya mempercepat langkah menyamai adikya sebelum Vamella kembali menarik lengan nya paksa. Carra hanya tertawa memandangi Dion dan Vamella yang berjalan keluar rumah.
Setelah menyalami Raphael, mereka pun siap dengan sepeda nya, kemudian mulai mengayuh sepeda dengan santai.
Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di tempat car free day. Suasana nya sangat ramai.
Mereka bersepeda bersama yang lain hingga merasa lelah. Akhirnya mereka beristirahat di salah satu bangku yang ada. Vamella sibuk menggibas-gibaskan tangan nya ke arah wajah yang berkeringat. Sementara Dion tengah membelikan nya minuman.
"Etdah bro, lo disini juga" Seru Dion ketika menemui teman nya yang sama sedang membeli minuman.
"Iya ini gue ajak nyokap kali-kali. Biar ga sedih mulu" Cowok itu memberi beberapa uang lembar kepada penjual. Lalu kembali menatap ke arah Dion. "Gue duluan ya"
"Oke bro, salam buat nyokap lo" Jawab Dion sembari melihat ke arah wanita paruh baya yang sedang melamun di bangku sebelah sana. Cowok itu hanya mengacungkan jempol nya lalu pergi.
Vamella melihat cowok itu. Ia tampak berpikir. 'Kayaknya gue pernah ketemu sama tuh orang' Ia menjentikkan jari nya saat ingat jika cowok berjambul itu pernah di temui nya di pesawat tempo hari.
'Cowok nyebelin yang bisa nya cuma baca pikiran orang!'
***
Hope you like it.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Mind Reader
Fiksi Remaja"Coba baca pikiran aku sekarang Dav" David tersenyum tipis menanggapi gadis didepannya ini. Gadis yang berhasil membuat nya berubah, gadis yang selalu hadir menemaninya, gadis yang selalu ada untuk menyelesaikan apapun masalah dia. Dan gadis itu a...
