Five

222 28 0
                                        

Vamella menghembuskan nafas lega ketika menginjakkan kaki di rumah nya, Jakarta. Ya mereka sudah pulang, setelah seminggu liburan disana.

Menurutnya, liburan kali ini termasuk dalam kategori liburan terbaik nya. Kemudian ia duduk sofa ruang keluarga, melepas lelah. Sementara abangnya sudah berlalu ke kamarnya.

"Non, mbak buatkan minum ya, mau minum apa? Atau mau makan apa?" Tanya Mbak Lastri sopan  selaku asisten rumah tangga keluarga ini.

"Air dingin aja mbak, nanti lagi makan nya." Ujar Vamella ramah dan di balas anggukan oleh wanita paruh baya itu dan lalu berjalan ke dapur.

Kemudian ia merogoh tas nya, mengambil ponsel nya yang sempat tidak ia aktifkan selama beberapa hari. Banyak sekali notifikasi yang masuk.

Sylla : Hei, i miss u, sweety

Ia tersenyum senang mendapat pesan dari Sylla, teman baik ketika ia di Spanyol.  Teman yang selalu ada untuk nya dan kini ia tak tahu, apakah ia akan bertemu dengan teman yang baik seperti Sylla?

Vamella : I miss u too, sweetheart

Ia simpan kembali ponsel nya saat Mbak Lastri sudah kembali dan membawa segelas air dingin untuknya. "Makasih mbak"

Mbak Lastri berlalu berbarengan dengan datang nya Dion. Wajahnya begitu murung, tampak sekali raut kecewa di wajahnya.

"Kenapa lo bang, udah kaya curut ke serempet aja" Tanya Vamella memandang abangnya yang sudah duduk di samping nya.

Dion menghela nafasnya. "Gue gak tau lagi sama hubungan gue ini. Gue capek tau ga sih"

"Hubungan? Hubungan apa ko gue ga tau sih. Lo punya pacar, bang?" Tanya Vamella menatap Dion dengan tak percaya. Tangan nya memegang lengan Dion.

"Karin."

Vamella terperangah dan kaget saat abangnya menyebutkan nama Karin yang tak lain tak bukan adalah teman dekat nya yang belakangan ini sudah tidak lagi bertukar pesan.

"Iya dia. Lo tau? Dia menghilang udah dua bulan. Dan gue gak tau kita ini masih pacaran atau udah putus. Gue bingung" Ujar Dion menunduk.

Terlihat jelas raut wajah Dion yang kecewa, marah, kesal, sedih, menjadi satu. Vamella memeluk abangnya berusaha untuk menyalurkan kekuatan darinya. Ia belum pernah melihat Dion sesedih ini.

"Sabar bang, mungkin dia lagi sibuk" Ucap nya mencoba untuk menenangkan.

"Tapi Mel, emang dia gak ada waktu sedikit pun untuk kabarin gue? Berapa banyak pesan yang gue kirim ke dia, segimana sering nya gue telpon dia. Tapi itu semua sia-sia Mel. Dia sama sekali gak ada kabar" Lirih Dion terdengar pasrah.

Hubungan Dion dan Karin berlangsung baik-baik saja, meskipun mereka di halangi oleh jarak. Awalnya mereka satu sekolah pada kelas 10. Dion mulai mencintai nya hingga mereka berpacaran. Namun ketika mereka akan menginjak kelas 11, Karin pindah ke London. Kecewa, tentu saja. Sedih, sudah pasti.

Dan sekarang ia merasakan sedih yang paling luar biasa. Disaat merindukan seseorang, namun hanya bisa memandang hampa fotonya tanpa bisa mendengar suara nya. Awalnya Dion berusaha berpikir positif tapi, ego nya sudah mulai menguasai dirinya. Ia marah, ia kecewa, dan yang paling pedih ia tak dapat melakukan apapun.

Dion melerai peluknya. Sebenarnya ia tak ingin menangis, namun memang benar cinta itu kuat. Hingga bisa membuat orang berubah drastis karena cinta. Contohnya saja Dion, ia tak pernah sesendu ini.  Tapi sekarang, ia sangat sendu karena cinta nya.

"Lo harus sabar. Gue tau Karin, dia baik dan pasti ga akan ngecewain lo." Ujar Vamella tersenyum hangat.

Dion hanya diam, dan perlahan mengangguk. Merasa tenggorokan nya kering, ia mencuri minum yang ada di meja dengan seenaknya, dan meneguk nya sampai tandas.

"Minum gue!" Desis Vamella. Sementara Dion hanya nyengir kuda.

"Tapi gak apa-apa lah, yang lagi galau mah bebas" Ledeknya dan dihadiahi tampang mengajak perang dari abangnya itu.

***

Hope you like it.

My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang