Jika benar ini jatuh cinta. Maka dia adalah cinta pertama ku. Jika ini hanya sebuah asa, maka ini adalah sebuah pengharapan. Jika ini mimpi, maka jangan bangunkan aku. Jika ini nyata, maka aku tak tahu harus apa.
Maka aku hanya diam, menikmati semua nya. Menunggu saat nya tiba, untuk mengatakan 'Hai aku suka dengammu'
Apa itu jatuh cinta? Mengapa semua orang menyebutnya dengan jatuh cinta? Bukan kah jatuh itu sakit? Lantas bagaimana dengan jatuh cinta?
Apa jatuh cinta itu seperti aku yang terjatuh dalam pesona nya lebih dalam dan terlalu dalam, hingga ku lupa bagaimana cara nya melupakan pesona itu.
Mencintai seseorang, lalu jatuh di antara awan-awan. Hingga lupa, jika cinta tak selama nya berakhir bahagia.
***
Author
"MELLA BANGUN LO, KEBO"
Ahh, rasanya baru saja ia tertidur namun kini teriak abangnya sudah memenuhi seluruh isi ruangan kamarnya. Ia mengucek mata nya, mencoba untuk memperjelas penglihatan nya.
"Apa sih bang?" Jawabnya masih menggeliat.
"Ini. Udah. Siang." Dion menekan setiap kata yang ia ucapkan. Lalu menggebrak pintu kamar. "KITA TELAT BANGSUL!"
Vamella tersontak kaget lalu buru-buru ke dalam toilet nya. Dion tertawa, padahal ini masih pukul lima lebih. Masih cukup untuk nya menonton film kartun karena Dion sudah siap sejak shubuh.
Secepat kilat, gadis itu keluar dengan seragam nya. Rambutnya yang panjang ia gerai, wajahnya di lapisi bedak sangat tipis, dan bibirnya di pulasi lipbalm agar tidak terlalu pucat.
Setelah selesai gadis itu menuruni anak tangga nya secara buru-buru. Ia mendapati keluarga nya yang 'baru sarapan?' Apa semua nya telat?.
"Hei, kamu kenapa buru-buru gitu sayang?" Tanya Carra sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Tadi abang bilang, kita udah telat" Jawab nya dan menatap sepiring nasi goreng.
"Loh ini kan baru jam enam." Sahut Raphael seraya menunjukkan jam dinding, ia melihat ke arah nya. Benar saja, ia telah di bohongi.
Vamella menatap tajam Dion yang kini terkekeh di buatnya. "Maksud lo apa? Lo buat gue buru-buru, dan tampil ga maksimal!" Ujarnya sembari menodongkan garpu ke wajah abangnya.
Dion tertawa. "Ya ampun dek, mau tampil maksimal kek, ga maksimal kek, lo mau tebar pesona? Ke siapa? Emang ada yang bakal suka sama lo?" Ledeknya seraya memulai sarapan nya.
"DION!" Vamella melempar garpu dan sendok ke piring.
"Eh lo manggil gak sopan banget. Hargain dikit dong, gue itu abang lo" Dion masih tenang dengan sarapan nya. Sementara Raphael dan Carra hanya diam memandang kedua adiknya yang sebentar lagi akan perang.
"Kalau lu mau di hargain, lu juga harus ngehargain perasaan gue!" Vamella beranjak dari tempatnya. Tanpa menyentuh sarapan nya sama sekali. Mood nya sudah hancur akibat ulah Dion. Ia melangkah kan kaki nya menuju luar rumah.
"Vamella sayang, sini nak. Sarapan dulu, kamu belum makan loh" Ujar Carra.
Dion menatap punggung Vamella yang menjauh. Ia merasa bersalah telah mengusili nya dua kali. Bicara telat, lalu bicara seakan-akan merendahkan Vamella.
"Minta maaf atau fasilitas kamu Daddy sita"
Kalimat horror bagi Dion, kalimat yang membuat ia tegang. Bagaimana mungkin fasilitas nya Raphael sita? Ia menggeleng tidak mau akan hal itu terjadi. Lalu mengangguk pasrah dan berjalan menyusul Vamella.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Mind Reader
Teen Fiction"Coba baca pikiran aku sekarang Dav" David tersenyum tipis menanggapi gadis didepannya ini. Gadis yang berhasil membuat nya berubah, gadis yang selalu hadir menemaninya, gadis yang selalu ada untuk menyelesaikan apapun masalah dia. Dan gadis itu a...
