Thirty Nine

78 7 4
                                        

"Apa susah nya sih Mas? Kamu tinggal jelasin alasan kamu pergi selama ini"

Andhika mengusap kepala nya pening. "Ndien, aku gak bisa. Yang penting aku sudah kembali, dan aku minta maaf soal itu"

Andien mengalihkan pandangannya. "Kamu pikir kami mudah melupakan soal itu? Kami hidup tanpa kehadiran seorang Papa. David selalu tanya 'kemana kamu pergi?', 'kenapa kamu ga pulang pulang ?' dan aku ga bisa jawab."

"Maaf kan aku Ndien. Aku janji aku takkan pergi tanpa kabar lagi" Ia mengusap kepala istri nya.

"Aku sedih Mas, aku kecewa"

Andhika mengangguk. "Mari kita perbaiki,"

David melangkah masuk. "Ma, mau ke rumah Oma sekarang?"

Andien menoleh. "Iya nak, tunggu sebentar."

Andhika mendekati David. "Dav, Papa mau bicara sebentar sama kamu" Keduanya berjalan meninggalkan kamar Andien.

"Kenapa?" Tanya David tak bersahabat.

"Papa ingin bertemu sama Vamella. Bisa kamu bawa kesini?" Tanya Andhika dengan sirat kesungguhan di mata nya.

David mengangkat alis nya, "Untuk apa Papa ketemu sama dia?"

"Ini urusan Papa"

"David putus sama dia" Ujar David lirih.

Andhika jelas saja kaget. "Loh? Kenapa kalian putus?"

David mendudukkan dirinya di ruang keluarga, begitu juga dengan Andhika. "Sebenernya ga putus. Tapi, David bilang mau break aja sama dia."

"Kenapa?"

"David bingung, Pa. Di satu sisi David ingin terus sama Vamella. Di sisi lain, David ga tega kalau Keisha jadi kena batunya" David mulai bercerita.

"Keisha punya penyakit, Pa. Dia minta sama David untuk jaga dia, katanya dia takut kalau hidup dia ga akan lama lagi. David pernah sayang sama dia. Dan ga ada salah nya kan kalau David berusaha buat dia bahagia, dan jaga dia?" Tanya nya dengan sungguh.

Papa dari anak itu mengangguk. "Ga ada yang salah, Dav. Hanya saja kamu juga harus bisa mengerti posisi nya"

"Vamella pacar kamu, dan Keisha hanya mantan kamu"

Andhika mengusap punggung David. "Bicarakan baik baik, Papa ga mau kamu seperti Papa. Yang egois dan memilih untuk mengikuti kemauan Papa sendiri. Jangan seperti Papa nak"

David menoleh sambil tersenyum tipis. "Papa sadar juga"

"Berapa banyak lagi kata maaf yang harus Papa ucapkan?" Tanya Andhika.

"Sampai David ngerti alasan Papa ilang kemarin"

Andhika tersenyum. "Kalau misalnya Papa sama seperti Keisha, Papa punya penyakit dan belum tau gimana kelangsungan hidup Papa tanpa adanya pendonor. Papa ilang karena Papa dirawat, dan Papa ga bilang karena gamau buat kalian susah. Dan keuangan yang Papa kirim itu sepenuhnya dikelola oleh orang tepercaya Papa. Papa hanya terbaring lemah di brangkar salah satu rumah sakit luar negeri. Bagaimana pendapat kamu? Apa kamu tetap membenci Papa?" Ujar Andhika membuat David sedikit terperangah.

"Pa, itu semua benar?"

Andhika menepuk bahu David. "Papa bilang misalkan nak"

"Ya David marah sama sendiri lah"

"Kenapa begitu?"

"Karena David ga becus jadi anak. Harus nya David ada ketika orang tua nya lagi kesusahan. Tapi, itu hanya misalkan kan? Dan sekarang David masih nunggu alasan Papa" Jawab David serius.

My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang