Twenty Eight

81 4 0
                                        

Dia milikku.
Kamu tak berhak apapun atas dia.

****

"Saya memang sangat berterimakasih pada Anda. Tapi, dia putra saya. Anda tidak mempunyai berhak apapun atas putra saya"

"Apa salah saya mengingingkan anak itu?"

"Karena dia putra saya."

"Tapi, nyawa nya diselamatkan oleh saya. Saya berhak mengangkat dia menjadi putra saya."

"Jangan seenaknya. Dia darah kandung saya, anak dari rahim istri saya. Anda tidak bisa mengangkat dia menjadi anak sebelum ada kesepakatan."

"Tiga tahun sudah berlalu, bahkan Anda telah menganggap nya meninggal, bukan? Dan juga Anda telah memungut anak dari panti asuhan, benar kan?"

"Itu karena Anda tidak memberi tahu saya"
"Untuk apa?"

"Anda benar benar membuat saya marah. Kembalikan putra saya sebelum saya laporkan Anda ke pihak yang berwajib"

"Jangan buru-buru. Kita bisa membuat kesepakatan bukan?"

"Apa maksud Anda?"

"Bagaimana kalau melakukan persaingan?"

"Persaingan?"

"Jika Anda memenangkan persaingan itu, dengan segenap hati saya akan kembalikan dia pada Anda, Bapak kandung nya."


***

"Dav, ada Keisha."

David yang tengah membaca buku nya terpaksa harus keluar kamar menemui gadis itu. Sebenarnya hari Sabtu sekarang ingin ia gunakan untuk belajar saja mengingat hari Senin sudah mulai ujian akhir semester. Bukannya malah kedatangan tamu.

"Ngapain?" Tanya David seraya duduk di hadapan Keisha yang datang dengan beberapa buku pelajaran.

Keisha tersenyum manis. "Mau minta ajarin kamu, boleh kan?"

Andien yang kebetulan lewat ikut duduk di samping Keisha. "Bagaimana keadaan mu?"

"Baik Tan."

Andien mengangguk pelan. Tahun tahun sebelum nya, David memang sangat dekat dengan Keisha. Hingga kemarin saat masa berlibur sekolah, David harus menghadapi dua kenyataan pahit.

Yang pertama, Keisha yang meninggalkannya. Dan yang kedua, Andhika datang tapi tidak bisa memberikan alasan yang jelas, yang semakin membuat ia benci pada Andhika.

"Om Andhika mana tan? Kok ga kelihatan. Bukannya sudah pulang?"

Pertanyaan dari Keisha, membuat David sedikit kesal. Kalimat bukannya sudah pulang? Seakan menyindir keluarganya yang sempat ditinggalkan.

Andien tersenyum tipis. "Beliau sedang bekerja"

Keisha manggut manggut sambil tersenyum, kemudian Andien pamit untuk  melanjutkan kegiatan memasaknya.

My Beloved Mind ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang