Verfϋhren 16

4.1K 694 80
                                        

||•||


Aku yang masih terlentang di atas kasur terbengong-bengong─mencerna apa yang sudah terjadi sejak tadi. Sedang Pak Jimin sendiri sudah duduk membelakangiku, sesekali tangannya mengacak rambutnya dengan frustasi dan aku dapat mendengar suara napasnya yang dibuang gusar.

"Rapihkan dirimu. Kita bersiap-siap ke atas."

Yang kutahu setelah itu Pak Jimin meninggalkanku ke kamar mandi, lalu ia banting pintunya dan tak sedikit pun menoleh ke arahku.

Di sini─aku yang terlalu bodoh atau memang lambat memproses, senantiasa memandangi kepergiannya. Mataku mengerjap-ngerjap dan sesaat──

"Astaga!"

──aku memekik, lalu menutup mulutku dengan kedua tangan. Segeralah aku merapihkan pakaian yang keadaannya nyaris tanggal semua.


© ikvjou ©


Tiga puluh menit aku menunggu Pak Jimin keluar dari kamar mandi─entah apa yang ia lakukan di dalam. Aku sendiri berpikir-pikir; bagaimana mukanya Ibu Pak Jimin ketika kami tiba, sementara kami sudah melewatkannya nyaris empat puluh menit sebelum memasuki ruang makan.

Sembari berjalan ke dalam, kuapit tangannya dengan kuat. Aku takut─sangat─dan Pak Jimin yang tengah merangkul pinggulku hanya mengelus dan sesekali berbisik padaku bahwa semua akan baik-baik saja.

"Jimin!"

Nah kan, baru saja dipikirkan, karakter antagonis utamanya sudah nampak.

Waduh, aku nggak bisa bayangkan akan seberapa lamanya ia menceramahi Pak Jimin, juga memarahiku. Aku dan Pak Jimin memilih tidak menggubris dan duduk di hadapannya.

"Gini Na, kelakuan Jimin. Sering telatnya nggak berubah-ubah." Ibu Pak Jimin memulai percakapan. Bisa kulihat tangannya merambat pada sebuah punggung tangan yang berada di sebelahnya.

"Iya Tante, Jimin nggak berubah." O, jadi wanita itu yang namanya Nana. "Dari dulu nggak berubah, ya."

Kemudian tatapannya yang hangat tertuju pada Pak Jimin. Ish, aku bisa lihat ada aura-aura aneh dari wanita itu.

Pak Jimin sendiri diam, tidak menanggapi apa pun selain menggenggam tanganku di bawah meja. Diam-diam ia mengelus punggung tanganku dan tak sedikit pun berminat menatap wanita yang berada di hadapannya. Hahaha, aku merasa lega dan menang dari si Nana itu.

"Jimin tadi sibuk sama Christa. Maklum, pasangan baru, jadi anget."

Nah, yang ini suara orang bernama Chanyeol itu. Matanya berkedip genit ke arahku dan berkedip menggoda ke arah Pak Jimin.

"Tch! Sibuk apanya," komentar Ibu Pak Jimin. Lagi-lagi aku terdiam. Hanya bisa mengikuti Pak Jimin mengambil makanan. Namun, sebelum ia sempat mengambil sendiri, aku sudah menyelak.

"Biar aku aja."

"Adudu ... udahlah nikah aja kalian."

Ini si Chanyeol sepertinya mendukung hubungan kami? Eh, kami kan, tidak punya hubungan apa pun. Pak Jimin hanya mengangguk dan mempersilakanku mengambilkan makanan untuknya.

"Usaha kamu gimana Kak? Lancar?"

"Lancar."

Skak.

Aku tertawa-tawa dalam hati, meledek si Nana itu yang cuma dibalas singkat oleh Pak Jimin. Pokoknya, malam ini gay-vibe Pak Jimin kelihatan banget─kecuali sama aku, yang lagi berperan sebagai pacarnya.

© ikvjou ©


Atmosfer di dalam mobil terasa hening. Baik aku ataupun Pak Jimin sama sekali nggak berbicara apa pun. Kami sekarang sedang menuju Jakarta kembali, karena hotel yang kami kunjungi itu berada di Bogor.

"Kamu kalau mau tidur, tidur aja, Ta?"

Aku menoleh, menatap Pak Jimin yang kini tengah serius mengemudi. Rasanya nggak enak kalau aku tidur, terus Pak Jimin nyetir. Takut kurang ajar.

"Saya nemenin Bapak aja."

Ia tersenyum─lebih tepatnya menyeringai. "Makasih buat hari ini, Ta."

Haduh, hatiku yang lemah ini merasa tersentuh, deh. "Sama-sama, Pak."

"Dia itu mantan saya, Ta."

Eh?

"Nana mantan, Pak Jimin?"

Pak Jimin mengangguk, "Kita putus dua tahun yang lalu."

Lha ... jadi? Pak Jimin baru jadi gay selama dua tahun? Eh ... gimana , sih? Aku nggak ngerti, deh.

"Dulu kita pacaran, terus putus. Udah lama sih, dari jaman SMA. Makanya bunda nggak terima waktu denger saya putus sama Nana."

Aku mengangguk-angguk saja; nggak mau nanya alasannya kenapa putus. Takut sakit hati, soalnya aku mikir kalau Pak Jimin yang mutusin dan alasannya karena Pak Jimin gay. Kelihatan banget Nana masih suka sama Pak Jimin tadi; dari caranya bersikap, centil-centil gimana, gitu.

"Saya juga, Pak. Setahun yang lalu putus sama Mas Seok Jin."

Aduh, ini ceritanya jadi curcol-curcolan ya. Hahaha, nggak apa-apa, deh. Lagian kayaknya aku sama Pak Jimin itu senasib.

"Saya diputusin sama Mas Seok Jin karena kesalahpahaman. Bapak inget Mingyu kan, yang waktu itu kita makan bubur?"

Kulihat alis Pak Jimin bertaut. "Iya. Kamu punya affair sama dia?"

Aku menggeleng, "Saya jalan sama Mingyu─euhm, clubbing. Waktu itu Mingyu baru sehari kerja di kantor, terus saya pergi sama dia. Ngeliat saya pulang yang setengah mabuk terus dianter sama Mingyu, Mas Seok Jin kalap. Terus ... begitu, deh."

"Tapi hubungan kamu sama dia kayaknya baik-baik saja?"

"Iya sih. Saya juga nggak ngerti, Pak."

"Mas Seok Jin kamu itu masih suka sama kamu. Mungkin itu amarah sesaat. Udah pernah dibahas soal masalah kalian putus?"

Aku menggeleng.

"Coba face to face ngomong, heart to heart. Barangkali ini bener salah paham. Mungkin kamu yang gengsi, atau beliau yang juga gengsi. Siapa yang tahu, Ta? Jatuh cinta lagi itu susah. Jadi, kalau masih ada cinta, kenapa tidak pertahanin yang ada aja."

Ini ... seriusan Pak Jimin? Pak Jimin yang perlente itu ngomong soal cinta? Sepanjang dan sebaik ini?

Sungguh, yang bisa kulakukan sekarang hanya mengangguk sambil mengerjap-ngerjapkan kedua bola mataku. Takut-takut aku berhalusinasi atau salah dengar. Tapi, kayaknya ilusi nggak akan senyata ini.

Jadi, lagi-lagi aku hanya diam. Nggak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Sekarang kita udah jadi temen, Ta. Jadi nggak usah formal lagi."













bersambung ....

How To Seduce Mr. Park ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang