(2) Sudden test

7.6K 528 7
                                        

"Baik. Ada yang ingin bertanya padanya?"

"Saya!"

"Silahkan Reanil."

"Nama panggilan siapa?" Tanya seseorang yang duduk di tengah. Rambutnya berwarna merah, auranya, tidak biasa. Aku sedikit takut dengannya.

"Rine." Jawabku singkat.

"Nah, biasa dipanggil Rine kan? Gimana kalo kita panggil dia rinso? Biar gak biasa, setuju ga?"

"Setuju!" Seisi kelas berteriak seperti itu. Aku semakin gugup di depan. Berusaha menutupinya, aku membantahnya.

"Rinso? Baiklah, bagaimana jika aku memanggil mu Kudanil? Setuju?" Aku membantahnya dengan nada sedikit sombong, padahal aku ketakutan sekali.

"Lebih setuju!!!" Teriak seisi kelas. Aku tersenyum kemenangan sambil menatapnya. Aku pun dipersilahkan untuk duduk di salah satu bangku yang kosong, yang terletak di samping Reanil, Reanil itu.

"Jangan sekali-kali kamu berani mengejek atau mengganti-ganti namaku sembarangan! Jika tidak,"

"Baik semuanya. Buka buku hologram kalian bab 2. Untuk Rine, silahkan dikejar ya pelajaran yang tertinggal."

"Baik Bu."

Pelajaran pertama pun selesai, lanjut ke pelajaran kedua. Aku mengambil jadwal pelajaran ku dan melihat pelajaran selanjutnya adalah Teori.

"Selamat pagi Bu. Shika."

"Selamat pagi. Duduk. Kita sudah menyelesaikan bab 1. Hari ini kita ulangan mendadak. Siapkan alat tulis kalian."

"APA?!!" Teriak kami seisi kelas. Aku pun terkejut bahwa hari ini ulangan mendadak. Mereka semua memprotes pada Bu Shika kecuali seseorang. Ia duduk di pojok dengan sangat santai tanpa terlihat sedikitpun raut terkejut atau pun panik. Sepertinya dia sangat pintar.

"Tidak ada protes. Duduk sekarang dan siapkan alat tulis. Saya akan segera mengirimkan file soal nya ke hologram kalian."

"Sudah, kerjakan soal tersebut dengan cermat. Ingat, yang nilainya di bawah standar kompetensi, jangan harap nilai rapor kalian nanti lulus. Berlalu untuk anak baru."

Aku tersentak saat mendengar hal ini. Aku bahkan belum masuk pelajarannya, bagaimana mengerjakan soal ulangan atau ujian ini? Terdengar seisi kelas yang berbisik-bisik bahwa aku akan tidak lulus. Sepertinya soal Bu. Shika sangat susah.

"Jangan harap kamu bisa lulus! Kamu hanyalah anak yang bodoh." Siapa lagi kalau bukan Rean yang berbicara seperti itu. Kenapa dia sangat membenci ku? Aku coba untuk tegar dan melawannya.

"Jangan bilang aku bodoh, jikalau kau tidak beda jauh denganku." Perkataan yang singkat ini sepertinya menusuknya dan membuat amarahnya semakin meluap.

"Sudah berani lawan rupanya." Ucapnya. "Temui aku di lapangan pertarungan jika kamu bukan pengecut."

"Kaulah yang pengecut, mengajak seorang perempuan untuk bertarung bukankah pengecut?" Bantah ku.

"Rean! Kamu anak baru! Sekali lagi berbicara, keluar kalian dari kelas saya!" Bentak Bu Shika dari depan kelas. Aku begitu terkejut saat dibentak seperti itu. Aku pun kembali mengerjakan soal ulangan ini.

Selang beberapa menit kemudian, aku pun siap mengerjakan soalnya. Tidak terlalu sulit dan tidak rumit. Hanya butuh sedikit logika untuk menjawabnya. Aku melihat ke arah kanan dan kiri, melihat apakah ada yang sudah selesai. Ternyata tidak. Tiba-tiba namaku dipanggil oleh Bu Shika.

Magical ControllerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang