(37) Test? Fainted?

2.2K 165 10
                                        

"aku... Akhh... Aku tidak ingin memberitahu nya,.. aku mencintainya!" Ucap Glenn yang mengejutkan kami semua. Tampak Yura yang sudah mulai menangis dan terisak mendengar kabar buruk baginya itu. Kami melongo di tempat dan tidak bergerak.

"Ka... kamu bohong kan Glenn? Jawab aku! Bilang kalo kamu cuma bohong! Jawab Glenn!!!" Teriak Yura mendesak Glenn untuk berbicara. Sepertinya Yura benar-benar sakit hati diperlakukan seperti ini. Aku dan Ressa berusaha menenangkannya.

"Glenn? Lo gila apa? Dia itu ratu kegelapan bego! Hati Lo atau otak lo yang dirasuki? Jelas-jelas lebih cantik dan lebih baik Yura bego!" Keine meluapkan seluruh kemarahannya pada Glenn. Sedangkan Glenn hanya diam tidak menjawab Keine satu patah kata pun.

"Kei, emang kamu udah pernah ketemu Aleynna?" Tanya Pak Arlex.

"Sudah lah pak. Pas di Hutan Eert! Kami ujian praktek! Cuma kelompok kami sampai disana. Dia culik Raven dan Yura! Orang gila yang suka sama dia!" Ucap Keine dengan nada yang sangat tak suka.

"Kamu sama Rine nggak apa-apa kan?" Tanya Ray.

"Gapapa. Untung! Dia pas ketemu kita pertama-tama, baik banget, tapi habistu apa? Dia nyerang kami! Dengan sihir Mystique nya!" Ucap Keine yang masih menggebu-gebu.

"Trus kalian keluar dari lobang nya itu gimana?" Tanya Pak Arlex. Dia tahu soal lobang itu kah?

"Rine membawa kami kembali dengan kecepatan cahaya." Ucap Keine. Saat ia membicarakan hal itu, aku teringat sesuatu yang sudah sekian lama terlupakan.

"Dan... Kei... Perjanjian kita?" Ucap ku pada Keine sambil menatapnya dengan tatapan menagih janji nya. Ia akan kusumpeli kaus kaki yang belum di cuci! Ingat kan?

"Kaus kaki... 1 tahun... ~~ " Ucapku meledek ledeknya. Ia meneguk ludah dan ketakutan. Aku tersenyum sinis menatapnya. Hahahaha...

"Kalian! Malah bercandaan berdua! Liat teman mu!" Ngomel si Ressa.

"Iya iya." Jawabku lebih baik mengalah.

"Intinya aku minta maaf sama kalian. Aku ga ada maksud untuk nyakitin kamu Yura, dan satu lagi, aku ingin memberitahu Rine. Ibumu ditahan sama Aleynna sampai sekarang. Dia Ratu Lunarisa. Segera selamatkan dia di Ujian praktek nanti. Dia yang memegang permata cahaya." Ucap Glenn melangkah pergi meninggalkan kelas dimana kami berada.

"Rine, kamu jangan sedih yaa.. kita bantu kamu kok." Ucap Yura dan Ressa menghiburku. Aku hanya mengangguk pelan dan memikirkan nasib ibuku sendiri disana. Aku harus segera menyelamatkannya.

"Iya. Aku gapapa kok." Ucapku.

"Tidak ada bolos tambahan pelatihan buat kamu." Ucap Pak Arlex tiba-tiba. Kami tertawa kecil mendengar nya.

"Oke pak." Ucapku mengangguk pelan.

Keesokan harinya...

"Yak! Hari ini kalian akan mengikuti tes untuk naik ke tingkat selanjutnya dengan kakak tingkat kalian sendiri. Mungkin tidak semuanya bisa, jadi yang gagal, jangan berkecil hati yaa..." Ucap Bu. Liestyn selaku kepala sekolah di sekolah kami.

Kami pun diarahkan ke sebuah ruangan. Masing-masing kelas berada di ruangan yang berbeda. Urutan pun dimulai dari belakang. Aku terkejut setengah mati. Dari 30 orang, aku adalah urutan 23. Arrgghh!!! Aku jadinya maju urutan ke tujuh! Asem itu Pak Arlex! Ya, dia yang menguji kami. Entah sengaja atau apa dia!

"Rine... Lo pertama~" ledek Ray. Dia urutan 22.

"Gue mah bodo amat. Mau dari awal kek, mau dari akhir kek, gue tetep urutan ke 15." Ucap Keine tenang tenang. Asem! Pada ngeledekin aku semua.

Magical ControllerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang