10 tahun yang lalu, aku masih berumur 7 tahun. Aku tidak tinggal dengan orangtua yang sangat menyayangi anaknya. Justru kebalikannya, ayah dan ibuku sangat membenciku. Sebenarnya sejak aku diadopsi, mereka sudah membenciku. Terlebih lagi saat mereka mengetahui bahwa aku memiliki sihir cahaya. Mereka beranggapan bahwa anak yang memiliki sihir tersebut, bukan lah anak yang baik. Gampang terlepas kontrol, sering mencelakakan orang, gampang emosi dan tidak punya etika, karena sihir cahaya adalah sihir tersulit untuk dikontrol. Ayah dan ibu ku tidak mau menyekolahkan ku. Mereka berkata bahwa aku sudah terlahir menjadi anak yang durhaka, jadi tidak perlu untuk sekolah lagi. Aku memendam semua perkataan kasar itu. Untungnya, aku memiliki sahabat yang bersebelahan rumah dengan ku yang mengajariku setiap hari. Namanya aku gak ingat. Dia cowok, tapi dia perhatian bangetttt. Ganteng, baik, pintar lagi. Aku manggil kalong, gara gara nama nya mirip sama kalong.
#flashback on
"Rine! Cepat! Mau belajar gak? Mumpung Mama papamu ke luar negeri kan?" Suara ini pasti si kalong! Dia udah pulang sekolah ya? Yeah! Bisa belajar!
"Sabar kalong! Aku lagi ambil buku!" Teriak ku.
"Oke! Cepat yaa!!"
Dia itu udah seperti guruku, yang selalu mengajari ku. Dia tahu kalo papaku dan mamaku keras dan tidak mau menyekolahkan ku. Makanya setiap pulang sekolah, si kalong selalu ngajarin aku.
"Rine! Aku belajar astronomi lho tadi! Bagussss banget! Kamu mau gak coba belajar?" Tanya si kalong.
"Mau lah! Astronomi itu tentang apa?" Tanya ku. Aku baru pertama kali denger kata itu.
"Astronomi itu berhubungan dengan luar angkasa! Kita kan hidup di bumi, di luar sana ada tempat bulat yang kayak bumi juga! Namanya apa yaa??"
"Apa namanya? Kasitau lahh... Cepat!!!" Desak ku sambil menggoyang goyangkan badannya.
"Bentar kali! Palnet! Namanya panlet!"
"Panlet? Tablet? Obat?" Tanya ku.
"Ishh... Bukan! Panlet! Pokonya itu deh! Kesel lama lama."
"Trus ada apa lagi?"
"Bulan, bintang, matahari!"
"Bulan sama bintang kan lengket sama bumi?"
"Kok lengket?"
"Kan huruf depannya B. Wkwkwk"
"Rine... Apa hubungannya??? Gak nyambung Jaka sembung."
"Iya iya. Terus apa lagi???"
#flashback off.
"Hii! Ngelamun lagi! Kamu kenapa sih Rine? Ngelamun terus." Kata Ressa.
"Hai. Gapapa kok. Aku cuma ingat masa lalu aja. Dulu aku ada sahabat, dia baik banget. Cowok, ganteng lagi." Kata ku.
"Siapa namanya?"
"Lupa."
"Bah! Sahabat sendiri dilupain yaa... Kalo aku bentar lagi lupa nih!"
"Enggak lah! Aku lupa namanya gara gara aku manggilnya nama panggilan dia. Kalong."
"Kalong??? Wkwkwk... Namanya Deket Deket situ kan?"
"Iya kalii... Seharusnya sihh..."
"Disini ada yang namanya kalong gakk???" Teriak Ressa di depan kelas.
"Woy! Diteriaki pula! Jangan lah Res!" Kata ku sambil ngambekin dia.
"Kalong? Siapa itu??" Tanya teman-teman.
"Ada lahh... Doi nya Rine!"
"Mana ada! Aku cuma mikir nama aslinya aja! Kau tuh ya!" Kata ku.
"Canda canda. Bohong aja kok. Jangan ngambek lahh..." Kata Ressa memelukku
"Seandainya aku bisa ketemu dia lagi. Dia mengalami kecelakaan. Terus dia dibawa ke luar negeri, sejak itu aku gak liat dia lagi. Kangen yaa..." Kata ku.
"Hallo! Lagi pada ngapain nih? Menggosip di siang bolong ya? Dasar cewek!" Kata seseorang di belakang ku. Aku menoleh ke belakang dan melihat ternyata Keine dan Glenn yang datang.
"Hai! Gimana kabarmu Rine? Masih sakit?" Tanya Keine.
"Masih dikit sih." Kata ku memegang kepalaku.
"Cal! Kemarin kamu kok bisa ngeluarin listrik sih? Lo kan di kelas cahaya! Kok bisa ngontrol listrik?" Tanya Ressa. Aku bingung maksudnya apa.
"Ha? Listrik? Maksudnya?" Tanya ku. Ressa menjelaskan semuanya apa yang terjadi saat aku sedang berada dalam keadaan pingsan. Aku baru ngerti.
"Bukan kok. Kebetulan aja kali. Cuma sikit aja kok." Kata Keine ragu-ragu. Aku merasa ada kejanggalan pada dirinya.
"Owhh... Makasiii ya Keine!" Ucap ku berterima kasih padanya. Lupakanlah hal kejanggalan tersebut. Yang penting dia sudah banyak menolongku.
"Ya. Makanya jangan histeris lagi. Bikin orang sakit jantung aja!" Kata Keine menjitak kepalaku.
"Keine! Sakit! Kepalaku masih pusing!" Teriak ku. Aku memegang kepalaku dan berpura-pura kesakitan akibat jitakannya. Sebenarnya tidak terasa apa-apa sih, hanya saja aku ingin melihat raut wajah paniknya.
"Eh?? Sorry sorry, refleks. Sakit yaa?? Maaf." Kata nya sambil mengelus kepalaku yang habis dijitaki nya.
"Ya sakit lah. Makanya jangan main jitak orang."
"Ya sorry... Refleks sihh..."
"Dah lah. Dah mau bel. Aku balik kelas dulu deh... Bye!" Kata Ressa dan Glenn.
"Bye!" Kata ku. Ok, akhirnya aku bisa duduk tenang, menenangkan otakku ini. Kepalaku pusing terus.
"Haiii Rinee!!! Pagiiii!!!!" Teriak Alenna dan Yura. Astaga. Baru mau istirahat, 2 toak ini datang pula.
"Astaga.. Kalian ini. Baru saja dengar toak sedang, sekarang toak jumbo datang. Kombo lagi." Kata ku.
"Jumbo? Suara kami masa dibilang toak sih Rine. Tega kamu." Kata Alenna.
"Habisnya, orang mau istirahat, kepala ku barusan dijitak Ama Keine! Sakit tauk!" Kata ku
"Kan orang udah sorry, jangan diungkit-ungkit lagi lah, kan aku jadi ngerasa bersalah." Ucap Keine yang duduk di belakang ku.
"Biarin. Biar kau ingat seumur hidup. Makanya hobi jangan suka jitakin orang.😛😛." Kata ku.
"Iya Bu. Bu guru bawelll" ledeknya.
"Awas ya kamu kei! Kalau sampai Rine ada apa-apa, kepala mu hancur dalam 5 detik. Oke?" Kata Alenna sambil meremas tangannya.
"Iya iya. Bodyguard mu galak amat Rine." Ledek Keine.
"Bodo amat. Lo mau bilang kita bodyguard kek, serah mu. Yang penting, kalo sampe ada apa apa, bye bye sama kepalamu." Kata Yura.
"Iya iya." Kata Keine.
"Kita habis ini pelajaran praktek kan? Ngeluarin sihir cahaya ya?" Kata ku
"Iya. Gampang lah bagi kau Rine, kau kan dah bisa nyerang Rean kemarin." Kata Keine.
"Aku juga nggak terlalu tau lah ya... Aku bisa ngeluarin sihir nya saat lagi tidak sadar. Jadi kalo aku menyerang orang, itu nggak disengaja." Kata ku.
"Kalo dalam keadaan sadar? Nggak bisa?" Tanya Alenna.
"Gatau. Makanya aku takutnya ga bisa. Malah nanti jadi lepas kontrol lagi gimana?" Tanya ku
"Jangan gitulah... Pede dikit!" Kata Keine.
"Ya. Ini kenyataannya. Semoga bisa lah yaa..." Kata ku.
Gimana nasib Rine seterusnya? Bisakah dia mengeluarkan sihirnya saat dalam keadaan sadar? Ikuti terus kisahnya! Jangan lewatkan yaaa...😘😘
Salam lope lope for you all😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Magical Controller
Fantasy{SEDANG REVISI! PERBAIKAN KATA-KATA DAN SEDIKIT PERUBAHAN ALUR CERITA} Rine Nethine Rylista adalah seorang gadis yang bersekolah di sekolah sihir. Ia dianugerahi sebuah kekuatan sihir, yaitu sihir cahaya. Perjuangannya untuk memaksimalkan potensi ya...
