Hahh... Untung saja arwah nya Rine masih sadar. Sekarang roh sial itu sudah pergi! Sekarang ini gimana caranya sihir cahaya matahari? Uhhhhh... Gerem kali lama lama. Pikir Keine!!!! Pikir!!!
"Keine, Rine gpp kan?" Tanya Yura menepuk pundak ku. Dia mungkin khawatir sama sahabatnya. Mana disini gelap lagi. Dan binatang itu terus melawan Raven yang payah ini. Dia ga bisa nyihir ato apa sih? Ga becus kali!
"Yura, jaga Rine bentar." Ujar ku membaringkan Rine diatas tanah. Yura mengangguk tanda setuju. Aku pun langsung menghampiri Raven yang ga becus itu.
"Woi! Lo ga bisa nyihir mending ga sah ikut ujian!" Bentak ku yang udah jengkel ini. Ga bisa tahan emosi lagi klo kayak gini.
DUARRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!
Rine? Ada apa dengannya? Dia mengeluarkan cahaya matahari??? Tapi... Ini bukan dari tangannya, me.. melainkan... Tubuhnya??? Apa maksudnya ini? Dia bisa melakukan internal power? Lu...luar biasa.
"Rine!!! Kok... Dia bisa?" Teriak ku menghampiri mereka. Binatang buas itu tidak kuat menahan intensitas cahaya yang besar itu. Ia pergi dan meninggalkan sebuah permata. Permata itu jatuh tepat di atas badannya Rine.
"Eh? Permata apa ini?" Tanya Yura mengambil nya. Aku dan Raven pun penasaran dan memutuskan untuk melihatnya. Permata ini... berwarna kuning keemasan, berkilau dan bercahaya. Di tengah kegelapan hutan ini, permata kecil ini dapat menerangi hampir sebagian dari hutan ini. Sangat, sangat terang. Bahkan permata ini Lebih terang dari sihir yang kami keluarkan.
"Wow! Apakah ini semacam bantuan dari ujian ini? Sangat menarik!" Ujar Yura semangat. Ya... Bisa jadi.
"Tapi, Rine tidak sadarkan diri. Bagaimana dia bisa mengeluarkan sinar seterang dan sekuat itu?" Tanya Raven yang kembali membuatku bingung. Iya juga, dia ga sadar, tapi dari mana internal power itu terbentuk dan keluar? Setahuku, internal power hanya bisa dikeluarkan dalam kondisi sadar.
"Ntahlah... Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita. Biar ujian ini cepat selesai. Aku muak sekali di dalam sini." Ujar Yura. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Rine's POV
Arrgghh!! Kepalaku... Sangat-sangat sakit... Aku... Belum mati? Dan apa yang keluar dari tubuhku? Aku merasa disetrum dan kayak gosong gitu deh... Terus, kelompok ku udah lawan binatang itu? Roh sial ini sudah pergi? Kenapa membingungkan sekali? Aku sudah sadar, tapi rasanya aku tidak mau bangun. Aku bisa merasakan keadaan hutan ini lagi sekarang. Angin sepoi-sepoi yang bertiupan bergantian yang membuat keadaan di luar sudah malam. Dengan ditambah suasana gelap yang mendukung. Hah... Tapi aku tidak boleh terus-terusan sperti ini. Aku harus bangun! Kasian mereka.
Aku pun membuka mataku pelan-pelan dan melihat terangnya hutan ini. Sepertinya, sebagian hutan ini disinari cahaya yang terang. Tidak mungkin! Aku melihat ke bawah, dan keadaan ku sekarang sedang digendong oleh Keine! Aku langsung terperanjat dan jatuh dari gendongan Keine.
"Ka... Kau! Nga...ngapain aja! Dasar Mesum!" Teriak ku yang jatuh dari gendongannya langsung karena kaget. Dia ngapain aja? Haduuhh... Awas sampe dia macam-macam!
"Heh! Mesum, mesum! Otak mu tuh yang mesum! Aku ga ada macam-macam lah! Bukannya terimakasih di gendongin! Daripada ku tinggalin di sana tadi!" Jawabnya dengan nada kesal. Hohh... Ya udah... Kan aku takut diapa-apain sama dia.
"Wkwkwk... Sudah... Jangan berantam gitu dong... Syukurlah kamu dah sadar Rine..." Kata Yura.
"Hehehe... Terus ceritain dong kalian lawan binatang tadi gimana?" Tanya ku penasaran.
"Itu nanti aja! Aku juga yakin kamu ga bakal tau!" Bentak Keine yang masih marah ku katain mesum.
"Yee... Kau ngambek atau apa sih? Gitu aja marah... Ya jelas lah aku takut, aku kan masih perawan!" Ujar ku.
"Ya ya ya! Sudah lah! Lanjut perjalanan aja! Habis ini tantangannya apa lagi..." Ujar Keine menghela nafas.
Aku penasaran dengan permata kuning yang di pegang Keine. Itu... Permatanya yang menerangi hutan ini! Cantikk... Aku langsung merampasnya dari tangan Keine.
"Woww!!! ... Apa ini!" Teriak ku merampas permata itu dari tangan Keine.
"Rine! Awas! Belakang mu!" Teriak Keine yang menunjuk bahaya yang ada di belakang ku. Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati sebuah lobang dengan Medan gravitasi yang sangat kuat hampir menarikku ke dalamnya. Hitam, pekat dan terdapat listrik listrik yang mengelilingi nya. Permata itu tiba-tiba tersedot ke dalamnya. Aku langsung lari menjauh dari lobang itu. Dan... Permata itu lenyap seketika setelah masuk ke dalam lobang itu. Oh tidak! Kalian tahu pastinya bukan? Jika tidak ada cahaya itu... Maka, hutan ini kembali gelap.
"Rine! Makanya tolong lah! Kamu jangan bikin masalah!!!!!! Sekarang permata itu jatuh ke dalam lobang itu! Pliss jangan lakukan hal yang aneh-aneh!!!!" Bentak Keine dengan nada yang meninggi.
Aku tertunduk dan tidak berani bicara. Okay, aku salah. Aku sudah membuang permata itu ke dalam lobang nya.
"Ya. Maaf. Emang permata apa sih itu?" Tanya ku.
"Selagi kamu pingsan, tiba-tiba tubuhmu mengeluarkan internal power yang sangat besar. Binatang itu pun pergi karena tidak tahan dengan cahaya itu! Dan ia meninggalkan permata itu dan tepat terjatuh di atas badanmu. mungkin saja itu pertanda bahwa kita bisa lulus dengan nilai bagus dengan adanya bantuan permata itu!" Jelas Keine.
"Ga masuk akal! Permata itu hanya menerangi hutan ini. Ya, kuakui cahayanya terang. Terus, sekarang bagaimana? Kalo emang sudah masuk ke dalam lobang itu, lebih baik jangan cari mati untuk masuk ke sana. Mending kita pergi." Bantah ku tak terima.
"Ga bisa! Permata itu bukan hanya bisa menerangi hutan ini. Permata ini merupakan bagian dari sihir mu yang keluar! Cahaya yang keluar dari kekuatan internal power tidak akan hilang sia-sia. Dia akan kembali menjadi bentuk permata permata kecil yang bisa di kuasai lagi." Jelas Raven.
"Ha? Masa? Aku ga percaya. Lebih baik kita pergi sekarang!" Bantah ku yang masih tak terima. Bodo amat! Yang penting aku ga mau masuk ke dalam lobang itu!
"Ga bisa! Kalo kamu tidak mengambil permata itu, internal powermu tidak akan terisi kembali, dan energi mu akan habis." Jelasnya lagi.
"Sudah! Pokonya aku akan masuk ke dalam! Kalo kalian ga mau masuk biar aku yang masuk aja!" Bentak Keine yang nekat masuk ke sana.
"Ga! Ga boleh Keine! Bahaya! Jangan!!!" Cegah ku. Aku ga mau dia ada apa-apa! Pokoknya ga boleh!
"Biarin aja internal power ku tidak ada! Yang penting kalian jangan masuk ke sana!!!!" Ujar ku yang mulai meninggikan suara.
"Rine! Ga bisa! Aku ikut sama Keine masuk ke sana!" Ujar Yura. Kalian semua gila!!!! Cari mati itu namanya!!
"Aku juga ikut." Jawab Raven singkat.
"Jadi gimana? Semua mau masuk ke sana! Kamu disini ato ikut?" Tanya Keine.
"Oke! Terserah! Aku udah ga sayang nyawaku lagi!" Jawabku pasrah. Emang ga sayang nyawa satu-satu.
"Gitu dong! Kita harus berjuang demi kamu Rine! Masa kamu ga mau berjuang demi diri mu sendiri?" Ledek Keine. Tadi marah, sekarang ngeledekin.
"Suka mu lah." Jawab ku malas.
😉😉
Author mau bilang makasih buat kalian semua yang udah vote dan baca Wattpad ini dengan setia😚😚. Akhirnya, wattpad ini sudah dibaca oleh kalian sebanyak 1000 kali. Makasiii banyak ya smuaaaa 😊😊.
Vote dan Share terus yaa...
Salam hangat dari Author😉😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Magical Controller
Fantasy{SEDANG REVISI! PERBAIKAN KATA-KATA DAN SEDIKIT PERUBAHAN ALUR CERITA} Rine Nethine Rylista adalah seorang gadis yang bersekolah di sekolah sihir. Ia dianugerahi sebuah kekuatan sihir, yaitu sihir cahaya. Perjuangannya untuk memaksimalkan potensi ya...
