(27) Bad Dream

2.6K 191 14
                                        

Rine segera dibawa oleh Pak Arlex dan Ressa ke ruangannya Pak Arlex. Rine sudah sedikit mereda dan sudah tenang. Sekarang ia dibaringkan di atas sofa di ruangan Pak Arlex.

"Emm... Pak, kok bapak bisa tahu Rine seperti ini?" Tanya Ressa heran.

"Hah... Emm... Tadi, saya lagi lewat aja. Trus denger dia teriak-teriak. Jadi saya samperin lah..." Jawab Pak Arlex.

"Ohh... saya kira ada insting gitu... Kayak anak sama bapak gitu... Ikatan batin." Ujar Ressa.

"Ya enggak lah... Kamu aneh-aneh saja. Ngomong-ngomong, kamu anak sihir apa?" Tanya Pak Arlex

"Saya? Saya sihir api." Jawab Ressa.

"Ohh.."

Sesaat kemudian, Rine akhirnya sadar dan bangun dari tidurnya.

"Rine? Gimana? Kamu pusing ga?" Tanya Pak Arlex khawatir. Ia membantu Rine untuk duduk.

"Gapapa kok pak... Saya cuma keringat masa lalu aja. Kangen mama sama papa ajaa..." Jawab Rine.

"Tapi kok kamu teriak-teriak anak durhaka kayak gitu sih?" Tanya Ressa penasaran.

"Eh? Ngg... Ga ada deh... Aku juga ga ingat." Bohong Rine. Mungkin ia belum siap untuk memberitahu Sahabatnya tentang masa lalu yang suramnya itu.

"Oh... Iya lah, kalo lagi ngigau gitu siapa yang ingat wkwkwk..." Ujar Ressa berusaha mencairkan suasana.

"Sekarang, kamu mau balik ke kamar atau gimana? Kalo saran saya, lebih baik kamu disini saja. Ressa kalo mau disini boleh." Ujar Pak Arlex.

"Saya disini deh pak. Takut sendirian di kamar. Nanti ada sundel bolong wkwkwk..." Ucap Ressa.

"Hahaha... Ressa aneh-aneh aja deh... Wkwkwk.. iya sih, lebih baik saya disini. Saya takut nanti di kamar." Ucap Rine.

"Ya sudah. Sekarang kamu tidur. Ini masih malam. Kamu mau tidur di sofa ini atau sofa sana? Yang lebih empuk?" Tanya Pak Arlex menunjuk ke arah sofa berwarna putih.

"Disini aja deh pak."

"Ya sudah. Kamu tidur disana ya. Saya di kursi aja." Ucap Pak Arlex menyuruh Ressa untuk tidur di sofa berwarna putih itu.

"Oh ok pak. Makasih pak."

Keesokan harinya, mereka pagi-pagi sudah balik ke kamarnya, sedangkan Pak Arlex Masih terlelap. Mereka memutuskan untuk balik ke kamar dan mempersiapkan pelajaran hari ini.

Rine's POV

Hahh... Hari ini... Sekolah. Malas kaliii... Maunya bobo di kamar, pake AC, meluk guling, cium bantal, dipeluk selimut... Ahhh enak kali... Daripada di sekolah... Mana sekarang ga ada Yura, ga ada yang bisa kupeluk. Masa aku meluk Keine... Ihhh... Ga muhrim!

"Aku ke kelas ya Rine! Jangan pingsan lagi!" Ucap Ressa menepuk bahuku dan pergi ke kelasnya.

"Iyaa... Bye." Jawabku. Aku pun bergegas pergi ke kelas ku. Aku menaruh tasku di tempat duduk ku kemarin, dan sepertinya Keine sudah datang. Tasnya di samping tempat dudukku. Keine mana ya kira-kira?

"Hai! Rine... Emm... Boleh kenalan ga?" Tanya seorang perempuan yang menepuk pundak ku dari belakang. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum manis. Cantik banget dia...

"Eh... Boleh kok. Kamu..." Jawabku sambil mengingat-ingat namanya. Aku lupa namanya lah... Padahal dia ingat namaku!!!

"Calyxe Fleura. Panggil aja Flera." Ujarnya. Aduhhh malunya, dia ingat namaku aku ga ingat namanya...

"Hahaha... Iya Flera, sorry lupa. Terlalu banyak wkwkwk..." Ucapku.

"Gapapa kok. Btw, nama belakangmu Rylista kan? Kalo aku panggil Rysta boleh ga? Lebih bagus sih menurutku..." Ujarnya.

"Boleh boleh aja sih... Cuma ga kebiasaan aja wkwkwk... Mungkin lama-lama terbiasa." Ucapku menggarukkan kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku kikuk deh sama dia... Terlau cantik.

"Oh ok deh. Kamu kok kayak bingung gitu sih? Santai aja kalii..." Ujarnya.

"Hahaha... Iya deh. Kamu cantik sihh..." Jawabku.

"Makasii... Emm... Aku balik dulu deh, aku bukan kelas sini soalnya." Ujarnya pamitan. Bukan kelas ini? Maksudnya? Dia kelas lain gitu?

"Eh! Flera!" Teriak ku tak sempat memanggilnya. Dia bukan sihir cahaya ya??? Iya sih... Karena dia bajunya agak beda.

"Selamat pagi murid-murid." Seorang guru perempuan yang tidak kukenal masuk ke kelasku.

"Pagi Bu!" Teriak kami membalas sapaannya. Terlihat semua anak-anak langsung balik ke tempat duduknya.

"Nama saya Ryvela Lysha. Kalian boleh panggil saya Bu. Ryv. Saya akan mengajar kalian untuk teori." Jelas nya. Kalian perhatiin ato nggak, guru yang mengajar teori pasti cewek. Cewek emang ga bisa apa-apa ya???

"Hari ini kita akan langsung belajar. Aktifkan buku hologram kalian, dan buka pelajaran tentang Jenis-jenis sihir cahaya. Bla bla bla..." Haduuhh Bu... Baru juga masuk, dah langsung belajar. Emang guru-guru teori, terutama Cewek, pasti tak berperikemanusiaan! Ahhh... Malas lahh...

Singkatnya, sekolah pun berakhir... Sudah ada 2 guru baru yang masuk ke kelas kami. Bu Ryv dan Bu Ixora. Bu Ixora ngajar astronomi. Pelajaran tersayangku... Aku sangat suka astronomi! Kalian tanya kenapa? Singkat saja, karena menarik dan menyenangkan... Saat sekolah berakhir, aku langsung pergi ke kelasnya Ressa dan segera menemuinya.

Aku menepuk bahunya dari belakang. Tampaknya ia masih ngobrol sama temannya. Dan lagi, temannya itu... Cowok! Ow! "Hai Res! Dah siap ya?" Tanya ku.

"Eh Rine! Dah kok. Bentar ya..." Ujarnya.

Aku mengangguk pelan. Setelah beberapa lama, aku menyindirnya. "Ekhm. Itu... Siapa Res?" Tanya ku menyipitkan mataku dan melirik lirik cowok yang dia ajak ngomong.

Aku melihat wajahnya yang tersipu. "Apa sih Rine... Ini, kenalin, namanya Caylord. Cay, dia temanku, Rine." Jawabnya malu-malu. Woy! Ingat Rane coy!

"Hai. Kamu... Anak Sihir cahaya ya?" Tanya cowok yang bersama Ressa, yang katanya namanya Caylord.

"Hahaha... Iya. Kamu... Siapanya Ressa?" Tanya ku langsung. Interogasi dulu dia nya... Karena raut mukanya itu mencurigakan. Ada unsur-unsur suka di dalam senyumannya itu.

Ia menjawab ku dengan menggarukkan kepalanya, "Hah? Siapanya? Aku temannya. Tadi, kami ada tugas kelompok dari guru, jadi kami bahas sebentar." Jawabnya. Entah iya entah nggak.

"Oh. Ya sudah, balik yok Res." Ujarku menarik tangan Ressa dan pergi. "Oh ya! Ingat ya, jangan macam-macam sama Ressa, dia dah punya pacar!" Aku membalikkan tubuhku ke arahnya dan meneriaki Caylord yang masih mematung di depan kelasnya itu.

"Rine!" Panggilnya sambil menginjak kakiku dengan hentakan yang sangat-sangat keras. Aku teriak kesakitan di lorong kelas itu. Ressa kalo nginjak orang emang ga pake hati tau!

"Sakit kali! Aduuh... Biru ini pasti!" Aku memastikan kakiku pasti biru nanti. Gila sakitnya minta ampun... Aduhhh...

"Biarin! Habis! Ngomong yang nggak-nggak." Ujarnya ngambek. Duhhh... Kok jadi dia yang ngambek sih? Bukannya seharusnya aku ya?

"Ishh... Kan aku cuma ingatin. Kau tau ga, dia itu cemburu banget tau sama kamu. Dia takut nanti kamu digoda cowok, baru kamu putusin dia. Kasian kalii..." Ujarku.

"Ya tapi kan jangan ngomong Ama yang lain gitu lah... Malu tau ga."

Magical ControllerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang