Selesai pulang sekolah, ya, aku belajar mengontrol sihir ku di ruangan Pak Arlex sampai pulang sekolah, dengan Kak Keane. Kami bercanda ria bersama, curhat-curhatan, wkwkwk... Dan, aku tidak sengaja ngelukain tangannya. Dia menyuruhku untuk menyerangnya, tapi ada aba-aba nya, sedangkan aku langsung menyerangnya dan dia tampak tidak ada persiapan. Tangannya terbakar akibat goresan cahaya yang kulontarkan. Untunglah tidak parah, aku segera meminta maaf padanya. Dia tidak marah, dan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
Balik ke topik, bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung menyerbu ke asrama ku. Aku membuka pintunya dengan password ruangan yang kami set masing-masing. Aku membukanya agak sedikit keras, sangking capeknya, aku langsung mendobrak pintu nya dan menutupnya kembali. Aku membantingkan tubuhku di atas kasur, merentangkan kedua tangan ku seperti orang pasrah, melebarkan kakiku, sangking pegelnya. Keringat sudah menjalar ke sekujur tubuhku. Aku udah kayak orang mandi.
Di saat aku sedang santai-santai tiduran di kamarku tanpa ada yang ganggu, pintu terbuka dan menampakkan seseorang. Yang tak lain ialah Ressa.
"Hooooo... Enak ya sekarang hidupmu." Sindirnya secara tak langsung. Aku menoleh ke arahnya, langsung bangun untuk duduk. Duduk pun rasanya sudah nggak bertenaga lagi. Aku menatapnya dengan berharap agar dia mengijinkan aku untuk tidur. Karena biasa dia yang selalu nerocos hingga aku tidak bisa tidur.
"Ya! Untuk hari ini, kau ku kasih cuti. Boleh tidur." Jawabnya yang sedang mencari cari baju bebasnya. Aku langsung menyerbu bantal dan guling ku dan bersiap untuk tidur. Tapi, ternyata Ressa belum siap ngomong.
"Eits... Ada tapinya. Tapi, kamu harus temanin aku kerja kelompok besok. Pulang sekolah." Jawabnya. Terukir raut wajahnya yang tidak ikhlas memberi aku cuti untuk tidur. Haruskah aku menemaninya saat kerja kelompok? Ntah mau ngapain gua disitu.
"Iya iya. Dah ya. Gue mau bobo." Jawabku mengiyakan saja syaratnya. Aku langsung memeluk guling ku dan tertidur pulas.
Keesokan harinya, pagi-pagi aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ressa sedang mandi. Aku merenungkan sejenak masa laluku dengan ayah dan ibu di depan kaca, tampak kejadian peperangan yang luar biasa. Tiba-tiba, sebuah ledakan dari sebuah gudang meledak dengan sangat dahsyat. Dan keluarlah anak kecil dari dalam situ. Menangisi ayah ibunya. Kejadian ledakan itu... Apakah itu... Diriku?
"Hoyyyy!!! Bengong aja terus!" Teriak seseorang di belakang ku yang tak lain adalah Ressa. Haduuhh... Jantungku mau copot rasanya.
"Bisa ga nggak ngagetin orang?" Tanya ku berdiri dari kursi ku dan langsung menjitak kepalanya. Tampak dia yang cekikikan melihat aku kaget tadi.
"Ha-ha-ha." Ujarku datar. Nggak lucu lho. Aku mengelus-elus dada ku yang serasanya mau copot. Mengatur nafasku, dan kembali duduk di kursi depan kaca meja rias.
"Hehehe... Sorry laa... Jangan marah dong..." Ujarnya merayu rayu ku sambil mencubit pipiku. Aku melepaskan cubitannya itu dari pipiku dengan memukul tangannya.
"Dah lah. Berangkat kuy." Ucapku beranjak dari kursi ku. Aku keluar dari kamar ku untuk mencari udara segar sejenak. Sementara menunggu Ressa yang sedang bersiap-siap, aku memakai sepatuku. Seminggu lebih, aku sudah bersekolah disini. Sekolah ini, kurasakan banyak hal mistis di dalamnya.
"Kuy berangkat!" Ucap Ressa yang sekarang sudah berada di depan ku. Tak kusangka dia berias secepat itu.
"Cepat banget. Cuma nyisir rambut kan?" Tebak ku tepat sasaran. Bener kan, dia cuma nyisir rambut? Berarti dia lagi ga mau tebar pesona sama 'dia'. Ngerti kan? Cari tau sendiri deh... Mau berangkat.
"He-he-he... Ketahuan deh."
"Berangkat lah."
Kami pun berangkat ke sekolah kami yang ada di seberang sana. Saat kami masuk, seperti biasanya, hawa dingin menyambut kedatangan kami dengan lembut. Ya, itu adalah AC. Dan juga, banyak sekali murid yang bergosip, duduk duduk, belajar, dan... Pacaran. Aku tidak pernah mempedulikan apa yang mereka kerjakan disitu. Aku berpisah dengan Ressa, dan sekali lagi dia mengingatkan janji kami berdua semalam. Aku hanya mengangguk malas.
Sampai di kelas, aku langsung menaruh tas ku di tempat dudukku. Dan biasanya kan di sebelah ku itu tas Biru gelap, yaitu tasnya Keine, ini sekarang tas warna hitam pekat. Tas siapa ini? Ga mungkin Keine ganti tas ga sih?
"Hai Rine! Aku pindah di sini gapapa kan?" Tanya seseorang di belakangku. Suaranya berat, familiar sama aku. Aku menoleh dan melihatnya, ternyata...
"Kamu lagi, kamu lagi. Ga ada bosan-bosannya ya tiap hari gangguin aku?" Tanya ku. Dia adalah Raynand. Kayaknya suka kali nempelin aku. Aku melihatnya menggelengkan kepalanya.
"Hah, Keine belum datang?" Tanya ku pasrah. Ia menggelengkan kepalanya sembari duduk di bangku yang seharusnya ditempati oleh Keine.
"Napa sih nyariin dia mulu? Kalo aku yang nggak masuk kamu cariin nggak?" Tanya Raynard kegeeran benget. Sumpah lah, ngapain juga aku nyariin dia?
"Justru kalo kau ga datang, dunia ku ga gempa lagi." Jawabku memutar malas mataku. Emang dia siapa aku harus cariin.
"Ya elah Rine. Aku menggangu sekali ya?" Tanyanya sok polos. UUhhh!! Kesel banget aku sama dia.
"Pikir saja sendiri." Jawab ku jutek beranjak dari tempat duduk ku dan pergi mencari Keine. Ray menahan tangan ku tiba-tiba.
"Dia nggak datang." Jawabnya menahan tanganku dari belakang. Mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Tau dari mana?" Tanya ku melepaskan tangan ku yang digenggam nya. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Rean." Jawabnya singkat, padat dan jelas. Rean? Sejak kapan dia kenal Rean?
"Reanil Xavier?" Tanya ku memastikan.
"Ya. Aku sekamar dengannya. Dia nyuruh aku kasitau ke wali kelas kalo dia sakit." Jelasnya. Jadi dia sekamar dengan Rean? Mengejutkan.
"Oh. Ya sudah. Nanti pulang aku jenguk dia saja." Jawabku singkat dan datar. Aku duduk di tempat dudukku dan membalikkan badan untuk mengambil Novel di tas ku. Aku membukanya dan membacanya dengan tenang. Raynard duduk di samping ku dan bergumam sendiri. Aku benar-benar risih diliatin dia. Bukan kegeeran, karena jelas sekali, saat ku menoleh ke arahnya, dia terus memandangiku. Aku bingung setengah mati disitu. Tapi, tiba-tiba dia bergumam aneh.
"Dulu kamu masih kecil ya, sekarang makin cantik. Kita dulu sering main bareng sama kakak." Gumamnya ga jelas. Maksudnya? Masih kecil? Main bareng? Kakak?
"Huh?" Tanya ku tiba-tiba. Aku menoleh ke arah nya dengan mengerutkan kening ku.
"Kamu ga inget ya? Hahh... Sayang sekali. Kamu ingat-ingat saja dulu." Ucapnya langsung pergi. Hah? Plis deh klo mau main tebak-tebakan jangan yang kayak gini. Masalah masa lalu itu terlalu merepotkan untuk ditebak. Aku sudah banyak melupakan masa laluku. Yang suram.
"Ray! Maksudnya apa?" Teriak ku. Dia udah keburu pergi dan ngumpul bareng teman-temannya. Hahh... Ntah iya ntah nggak. Bodo lah. Aku kembali menoleh ke arah novelku. Novelku benar-benar membuat ku kehilangan kesadaran. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Bu. Ixora sudah masuk ke kelas kami. Pelajaran pun dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Magical Controller
Fantasy{SEDANG REVISI! PERBAIKAN KATA-KATA DAN SEDIKIT PERUBAHAN ALUR CERITA} Rine Nethine Rylista adalah seorang gadis yang bersekolah di sekolah sihir. Ia dianugerahi sebuah kekuatan sihir, yaitu sihir cahaya. Perjuangannya untuk memaksimalkan potensi ya...
