Sudah terhitung lima hari dari kejadian itu Meiza tidak mendapatkan gangguan dari Daniel lagi, dia bahkan tidak melihat batang hidung laki-laki itu diseluruh penjuru sekolah, Daniel juga tidak lagi datang kerumahnya dan mengacaukan paginya dengan gombalan receh dari laki-laki itu, dia juga tidak lagi mengiriminya pesan spam yang akan membuatnya berdecak kesal.
Entah kenapa setelah tidak mendapat gangguan dari laki-laki itu, Meiza merasa ada yang kurang dalam hidupnya, Daniel seolah memiliki bagian penting tersendiri untuk mengisi hari-harinya, Hanbin yang terus bersamanya bahkan membuat Meiza bosan akhir-akhir ini, entahlah, mungkin itu hanya perasaan gadis itu saja, mungkin itu karena moodnya yang kurang baik, tidak mungkin gadis itu kehilangan Daniel yang sudah tidak penting bagi hidupnya, kan? Iya tidak mungkin, pikir gadis itu yang terus berargumen dengan dirinya sendiri.
***
"Daniel sakit, udah 3 hari dia gak masuk, kakinya cidera gara-gara tanding basket beberapa hari yang lalu, terus badannya demam tinggi, kata mamahnya sih gitu."
Perkataan Vernon dengan Mark saat di kelas tadi masih terngiang di kepala Meiza, tidak, dia tidak boleh peduli, lagi pula kenapa dia harus peduli? Toh apapun yang terjadi pada Daniel itu bukan urusannya, jadi untuk apa dia harus repot memikirkan laki-laki itu, kan? Meiza mengangguk setelah perang batin, dia tidak menyadari kedatangan Hanbin yang kini sudah duduk di hadapannya membawa nampan makanan mereka, Hanbin menghembuskan nafasnya pelan, dia selalu merasa kalau dia hanya bersama dengan tubuh kosong Meiza, karena jiwa gadis itu melayang entah kemana, Meiza seolah tidak bersamanya setiap kali mereka bersama.
"Mikirin apa sih? Gak mau makan? Nanti gue makan nih makanannya." Pertanyaan Hanbin sukses membuat Meiza tersadar dari lamunannya, gadis itu menatap lelakinya yang sedang meminum milkshake strawberrynya dengan tenang, Meiza tersenyum nanar, bagaimana bisa dia memikirkan laki-laki lain sedangkan dia sudah memiliki Hanbin yang jauh lebih baik dari Daniel? Bahkan laki-laki itu begitu adorable tanpa mencoba, semua yang dilakukan Hanbin membuat Meiza merasa nyaman, tapi dia tidak benar-benar memandang laki-laki itu sebagai seorang kekasih, dan dia benci hal itu.
"Nih mau nyoba gak?" Hanbin menyodorkan minuman miliknya pada gadis itu, setidaknya Hanbin tidak alergi stroberi seperti Daniel, kan? Meiza menyesap minuman laki-laki itu, Hanbin tersenyum lalu mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini melamun terus? Gak takut kesambet? Masa nanti ada berita kalau pacar gue kesurupan? Kan gak keren banget." Racau Hanbin dengan senyum konyolnya, Meiza tertawa hambar, laki-laki itu memang receh tapi itulah yang membuat Meiza dulu tergila-gila padanya.
"Mau nasi pecelnya gak?" Tanya Meiza mengalihkan pembicaraan, Hanbin mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk.
"Aaa." Gadis itu menyuapkan sesendok nasi pecelnya kemulut Hanbin.
"Enak gak?" Laki-laki mengangguk, tapi setelah makanan itu tandas Hanbin terdiam menatap kearah gadisnya itu dengan seksama, membuat Meiza bingung, baru saja gadis itu mau berucap, perkataan Hanbin membuatnya kembali terdiam.
"Gue tau lo masih mikirin Daniel." Deg, jantung gadis itu berdetak cepat, bodoh jika Hanbin tidak tau apa yang sedang kekasihnya itu pikirkan, dia tau kalau Meiza masih menyukai Daniel, awalnya dia ingin mencoba untuk bodo amat tapi lama kelamaan Meiza semakin menunjukkan kalau gadis itu tidak benar-benar ingin bersamanya, walaupun itu tidak terang-terangan tapi Hanbin cukup peka untuk menangkap sinyal dari gadis itu, contohnya saja saat mereka sedang bersama, Hanbin merasa seolah sedang berkencan dengan orang lain yang memakai tubuh Meiza.
"Eng-"
"Lo gak bisa ngebohongin perasaan lo sayang." Potongnya dengan nada melembut, Hanbin menggenggam erat tangan gadis itu, dia tersenyum melihat Meiza yang tidak bergeming dengan perkataannya, mengindahkan rasa sakit yang menggerayangi dadanya.
"Gue denger dia sakit, pulang sekolah ini samperin dia, gue tau lo khawatir, semua orang berhak menerima kesempatan kedua." Satu tetes air mata itu mengalir dipipi Meiza, Hanbin benar-benar terlalu baik untuknya, laki-laki itu terlalu tulus untuk gadis tidak tau diri sepertinya.
Hanbin berdiri dari tempat duduknya, melepaskan genggamannya pada tangan gadis itu sembari tetap tersenyum, laki-laki itu mengusap rambut Meiza dengan sayang lalu berlalu begitu saja meninggalkan gadis yang ia cintai, dengan melangkah keluar dari kantin itu Hanbin telah memutuskan untuk melepaskan setangkai cinta dari genggamannya, membuat cinta itu jatuh, hancur berkeping-keping dan mulai layu.
Hanbin tau, cinta tak harus memiliki, awalnya Hanbin akan menertawakan kalimat yang mengatakan kalau 'aku akan bahagia jika dia bahagia.' karena itu terdengar konyol dan hanya omong kosong, tapi sekarang dia sadar, kalau kalimat itu tidak salah, dan hanya orang yang pernah mencinta dengan tuluslah yang dapat merasakannya.
END
Hai teman-teman!!! hehe, maaf ya kalau endingnya gak sesuai harapan kalian :") ngomong-ngomong setelah membaca ff yang aku tulis ini aku mau tau dong pendapat kalian😶
Apa yang kalian gak suka dan suka dari ff ini? Silahkan kasih kritik dan saran buat aku, supaya aku bisa memperbaikinya dan menjadi penulis yang lebih baik.
Dan terimakasih ya karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk membaca ff ini, terimakasih atas komentar dan votenya, dan terimakasih juga buat sider yang masih belum menampakkan dirinya walaupun udah End, mungkin mereka malu wkwk, saranghae yeoreobun ❤
With love,
Apdlwk.
YOU ARE READING
Creep | Kang Daniel ✔
Fanfiction"Orang yang matanya sipit itu setia, gimana mau ngelirik yang lain, melek aja susah, kaya kak Daniel." "Emang kak Daniel bakal ngelirik lo?" [17/08/16] #80 in fanfiction ❤ [17/08/24] #9 in short story ❤
