Meiza menatap pintu rumah bercat putih yang kini berada dihadapannya dengan sedikit ragu, dia sudah memikirkan hal ini sejak dua hari yang lalu, dari Hanbin yang secara tidak langsung sudah memutuskannya dan Daniel yang menghilang karena sakit, dia berdehem pelan, gadis itu sudah cukup yakin dengan pilihannya sekarang, di tekannya bel rumah itu sekali dan langsung mendapat jawaban dari yang empunya rumah.
"Halo tante." Sapa Meiza setelah pintu rumah itu dibuka lebar-lebar oleh seorang wanita paruh baya yang terlihat rapi, sepertinya akan pergi ke suatu tempat.
"Eh Meiza, kamu kesini sama siapa? Aduh tante lama banget gak ketemu sama kamu." Ucap wanita itu dengan ramah sambil mengusap pipi Meiza dengan sayang.
"Aku sendirian aja tante, tadi naik taxi, oh ya tante." Gadis itu menggantungkan perkataannya sebentar, terlihat ragu untuk bertanya.
"Nyari Daniel ya? Dia ada kok, ayo masuk, datengin aja ke kamarnya, tante mau pergi sebentar." Kata ibunya Daniel lalu menarik Meiza masuk kerumahnya kemudian bergegas pergi setelah berpamitan sebentar.
***
Meiza mengetuk pelan pintu kamar bercat hitam itu, rasanya gadis itu ingin pergi saja tapi sudah terlambat saat sebuah suara menginterupsinya untuk masuk, dia membuka pintu itu perlahan, tepat setelah pintu dibuka, pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang kini berbaring sambil memainkan ponselnya, seolah tidak terlalu peduli dengan siapa yang masuk ke kamarnya, kaki kanan Daniel yang digips menyita perhatian Meiza, jujur dia khawatir dengan laki-laki itu.
"Kak Daniel." Panggilnya pelan pada Daniel yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri itu, sontak Daniel terdiam, dia seolah membeku saat mendengar suara Meiza memanggilnya, laki-laki itu menoleh cepat kearah pintu dan mendapati Meiza berdiri di sana dengan rantang makanan yang di bawa oleh gadis itu.
"Meiza?" Tanyanya dengan dahi yang berkerut seolah tidak percaya.
"Lo kesini?" Meiza mengangguk pelan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Iya, katanya kakak sakit terus mamah nyuruh ngasih bubur ini buat kakak." Balas gadis itu sambil memperlihatkan rantang yang dibawanya.
"Kok senyum kak?" Tanya Meiza karena bukannya menjawab perkataannya, Daniel malah senyum tidak jelas.
"Gak, gue cuman mikir berarti lo masih peduli sama gue." Kata laki-laki itu dengan nada lembut, Meiza berdehem pelan sambil membawa rantangnya tadi.
"Mau kemana?" Tanya Daniel yang bangun dari posisi tidurnya.
"Ke dapur." Balas Meiza lalu cepat cepat meninggalkan kamar Daniel.
***
Meiza menatap semakok bubur yang baru ia tuang dari rantang, entah kenapa ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya, seperti perasaan tidak tenang dan tidak puas dengan apa yang ia lakukan, seolah hatinya tidak benar-benar ingin melakukan hal ini, dan itu membuatnya bingung dengan perasaannya sediri yang seperti perahu ditengah lautan, dibawa oleh ombak tak tentu arah, apa yang sebenarnya hatinya inginkan? Meiza benar-benar tidak mengerti. Tiba-tiba ada sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya, memeluk erat gadis itu dari belakang, membuat Meiza sedikit terkejut.
"Lama banget." Desis Daniel sambil mengeratkan pelukannya.
"Kak Daniel? Le-lepasin kak." Ucap gadis itu sembari mencoba melepaskan pelukan Daniel tapi tidak berhasil, Meiza bingung kenapa laki-laki itu masih begitu kuat walaupun hanya memakai kruk untuk berjalan.
"Gamau ah." Balas Daniel, jujur Meiza sangat tidak nyaman dengan posisi seperti ini, karena Daniel menompang dagunya dipundak gadis itu, dan secara otomatis Meiza dapat merasakan nafas Daniel dilehernya, itu tentu saja membuat Meiza meremang.
YOU ARE READING
Creep | Kang Daniel ✔
Fanfic"Orang yang matanya sipit itu setia, gimana mau ngelirik yang lain, melek aja susah, kaya kak Daniel." "Emang kak Daniel bakal ngelirik lo?" [17/08/16] #80 in fanfiction ❤ [17/08/24] #9 in short story ❤
