Prolog.
Kenyataannya sebuah persahabatan antara dua pria dengan satu wanita, hanyalah sebongkah batu bara yang mudah terbakar.
Persahabatan yang sudah berlangsung hampir dua puluh tahun lamanya, bisa saja hancur lebur hanya karena soal perasaan.
Ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memang nyatanya aku merasa firasatku hanya dibuat untuk melindungi mu gi
Bisik Sehun dalam hati, ketika Seulgi mulai melangkahkan kaki meninggalkannya.
"Terserah kau saja gi, tapi kau harus ingat tentang apa yang dulu ku ikrarkan diatas meja! Kau masih mengingatnya kan?"
Seulgi pun menoleh dan dia tidak mencerna pertanyaan Sehun karena rasanya otak Seulgi sudah mau pecah. "Ngomong apa sih hun? Sudah ah ayo kita pulang"
Akhirnya Sehun mengiyakan permintaan Seulgi untuk pulang, terlebih dahulu dia kembali ke cafe untuk membayar menu yang sudah dipesan tadi. Sedangkan Seulgi-- gadis itu memilih menunggu Sehun ditempat parkir.
Selalu dan selalu saja terulang beribu-ribu kali. Seulgi yang sudah berterima kasih pada Sehun untuk hari ini, main pergi begitu saja tanpa melepas helm yang ia kenakan.
"Hey.."
"Apalagi hun? Aku kan sudah berterima kasih barusan.. sudah pulang sana dan langsung tidur ya hun, Jangan main game!" Kata Seulgi juga memberi peringatan ditengah sibuknya membuka slot pintu pagar rumah.
Sehun dibuat menggeleng geleng, lalu dia tersenyum hingga menampilkan sederet gigi rapihnya melihat kelakuan gadis pikun itu. Sehun sedang cekikikan sendiri tanpa suara diatas motornya. Disaat Seulgi berhasil membuka pagar, secara sigap Sehun menarik tali tas Seulgi agar menahannya masuk.
"Hey hey hey tunggu dulu"
"Kenapa lagiii" dan Seulgi berputar balik, hingga kembali menghadap sahabatnya.
Sehun menunjuk kepala gadis yang masih mengenakan helm dengan dagunya, hingga membuat gadis itu tersadar jika dia kelupaan melepas benda pengaman tersebut. Dan Sehun sudah hapal betul kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Seulgi, sehingga mereka berkata serempak "Oh iya he he he".
Setelah gadis pelupa itu memberi helmnya pada Sehun, mereka pun pulang kerumah masing masing.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sehunaaa ayo makan!!"
"Sehunaaa cepat turun dan sarapan!!"
Tidak biasanya ibu Sehun berteriak memanggil anaknya untuk makan, biasanya jika urusan makan anak itu selalu bersemangat. Apalagi jika makan masakan ibunya, dia lah yang terlahap. Oh iya selain itu ada hal yang mengganjal juga, Sehun yang sekarang jadi lebih banyak melamun.