[36] Protect

159 20 0
                                        

"Kau tidak bercanda mengatakan bahwa sudah melindungi Ray, kan?"

Dio menatap datar pada Mammon yang asik memainkan sebuah game pada ponsel Vanza. Sementara pemilik ponsel sedang sibuk memangku laptopnya dan menatap kosong pada benda tersebut. Ia sedang mengerjakan skripsi pertamanya, oleh karena itu maklum jika ia butuh waktu untuk mencetus sebuah ide menulis sesuatu yang kreatif tapi rasional disana.

"Iya," balas Dio singkat. Hanya sebuah game Pou yang ia mainkan. Game jadul yang booming dulunya, sampai-sampai tubuhnya ikut miring ke kanan maupun kiri.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar dan memunculkan Ray dan Claressa di sana dengan napas mereka yang kencang.

"Eh, pulangnya cepet banget?" Vanza yang menyadari kepulangan adiknya malah heran.

"Dio," Claressa berjalan masuk lalu menghampiri Dio, membuat tangannya yang mengait dengan jari tangan Ray terlepas. Ia memegang kedua tangan Dio, seolah memohon.

"Tolong jelasin secara detail tentang-"

Dio masih menatap datar, tubuhnya bersandar pada dinding, ia menarik tangannya yang digenggam Claressa lalu melipatnya di dada.

"... tentang Indigo," sambung Claressa setelah jeda sejenak.

"What happen?" Mammon yang tadinya sibuk dengan game menjadi ikut serius terjun ke pembicaraan.

Ray mengambil ruang duduk di sofa, bersebelahan dengan Mammon.

"Gue baru aja di cekik, sama setan. Lagi."

Hanya Vanza dan Mammon yang terkejut. Bedanya Mammon hanya berpura-pura terkejut, karena mendramatisir keadaan, sementara Vanza asli.

Mammon lalu terkekeh. "Funny jokes."

Ray menyela, "She is serious about that."

"Dimana gelang pelindung milikmu?" Dio menatap pergelangan Claressa yang sepi. Ia yakin terakhir bertemu dengan gadis itu masih ada gelang disana.

"Hilang," Claressa tidak bisa tenang.

Vanza memutuskan menutup laptopnya, meletakkan itu dimeja lalu menuntun Claressa untuk duduk dan memberinya segelas air putih.

"Wow, amazing reality," Mammon berkomentar.

"Itu sudah jelas. Aromamu sama menyengatnya dengan Ray, oleh karena itu kau di incar. Lebih baik segera temukan gelangmu atau hal itu akan terjadi, lagi." Dio masih bersuara dingin."

Dio menambahkan lagi, "Kau mengalami hal yang sama dengan Ray. Beruntungnya kau punya gelang itu."

"Sejujurnya, penjabaranmu pada Ray itu salah, tentang ada tingkatan pada seorang indigo. Hanya aroma pada masing-masing diri mereka yang membedakan. Lagi pula, aroma Ray lebih menyengat dari pada aroma milikmu. Tapi, kau dan Ray cuma punya kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan mereka, tidak lebih," Dio memperjelas lagi.

"Gue harus gimana?"

Dio kembali menjawab dingin. "Mungkin kau harus berdiam diri di rumah, sampai gelangmu kembali dengan sendirinya."

"Dio," Vanza memperingati dengan sorotnya pandangannya, hal itu merupakan salah satu kelemahan Dio. Ia tidak bisa menolak Vanza jika ia menggunakan sorot itu, entah sejak kapan ia menjadi selemah ini.

"Vanza, Mammon. We need to talk." Dio berjalan ke dapur, diikuti oleh Vanza dan Mammon seperti titahnya.

Dio menghela napas panjang beberapa kali membuat Vanza menatapnya heran.

Soul Reaper [✔] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang